“KESUCIAN” ANAK ADALAH TANGGUNG JAWAB ORANG TUA

“KESUCIAN” ANAK ADALAH TANGGUNG JAWAB ORANG TUA

            Anak adalah anugerah, amanah, bukti kebesaran dan kasih sayang, ujian dan penerus serta pewaris orang tua yang diberikan oleh Allah SWT. Oleh karena itu, pada dasarnya anak lahir dalam keadaan suci. Kecenderungannya kepada hal yang tidak baik adalah karena lingkungan, terutama ayah dan ibunya. Maka setiap orang tua wajib mempersiapkan putera atau puterinya agar menjadi orang yang baik dan dapat menjaga kesuciannya. Sebagaimana tercantum dalam surat Luqman ayat 13-19.

Guna menjaga kesucian, orang tua harus benar-benar memberi pendidikan Islam yang kaafah serta mengawasi anak-anaknya dengan mempersiapkan Program Masa Depan Keluarga (PMDK). Sebab bagaimanapun juga kelangsungan dalam pembangunan rumah tangga tak dapat berjalan baik tanpa pembangunan keimanan yang baik pula. Apa artinya sarjana kalau kesucian keluarga hancur dan kesucian tak terpelihara. Karenanya, yang perlu disarjanakan oleh para orang tua bukan hanya pendidikan formal atau mendapat gelar S-1dst, tapi keimanan pun harus di “sarjana”-kan yaitu dengan menjaga kesucian diri dan keluarga.

Kesucian merupakan salah satu hal yang urgent bagi umat Islam. Tak heran jika satu di antara tugas nabi-nabi yang diturunkan oleh Allah SWT adalah “Islahu al-Nasal”, yaitu memperbaiki dan mensucikan keturunan manusia, serta menciptakan generasi kuat dan tangguh melalui pernikahan. Generasi yang kuat dan tangguh ini akan rusak bila nilai-nilai agama bergeser. Hal ini pula yang dijelaskan Rasul sebagai salah satu tanda hari kiamat. “Hari Kiamat (As Sa’ah) akan datang ketika perzinaan tersebar luas (Al-Haythami, Kitab al-Fitan) Hari Akhir tidak akan datang hingga mereka (orang-orang jahat) melakukan perzinaan di jalan-jalan (jalan-jalan umum).”  (Ibn Hibban dan Bazzar)

Melihat realitas saat ini, perilaku zina seolah menjadi hal yang yang wajar. Di perkantoran, sekolah, kampus dan tempat-tempat lainnya, istilah SIS (Selingkuh itu Indah), SAS (Selingkuh antar se-Kantor) pun sepertinya menjadi tradisi dan suatu kebanggaan tersendiri bagi mereka yang “asyik” berbuat hina dan menghinakan diri sebagai manusia.  Padahal, hal ini amatlah berbahaya dan mengancam keimanan seseorang. “Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.” (Q.S. Al Israa: 32) Rasulullah juga bersabda: “Sungguh, jika kepala salah seorang di antara kalian ditusuk dengan jarum dari besi, maka itu lebih baik daripada dia menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (H.R. Ath Thabrani dan Al Baihaqi dari Ma’qil bin Yasar, lihat Ash Shahihah no. 226)

Pada kondisi yang telah disebutkan di atas, maka orang tua harus dapat memposisikan diri mereka sebagai pembimbing, guru, contoh dan teladan bagi anak-anaknya. Orang tua harus bertanggung jawab dalam pendidikan yang Islami dan dapat menjaga kesucian.

Jika sekiranya tidak mampu menjaga kesucian buah hati hingga tingkat usia yang maksimal, maka apabila putera maupun puterinya sudah baligh dalah hal usia, baligh dalam hal ekonomi, baligh dalam hal pendidikan dan wawasan, maka sebagai orang tua segerakan menikahkan mereka dengan tetap memperhatikan pentingnya ta’lim “Mencari ilmu adalah wajib bagi setiap Muslim. Sesungguhnya orang yang mencari ilmu akan dimintakan ampunan kepada Allah oleh segala sesuatu sampai oleh ikan-ikan di laut” (HR. Ibn Abddul Bar dari Anas). Alasannya, pernikahan dapat menjaga kesucian keluarga, itu pun yang mengakibatkan nikah menjadi wajib, serta berdasarkan penelitian, orang yang sudah berkeluarga lebih cepat menyelesaikan studinya dibandingkan dengan mahasiswa/i yang belum terikat “mitsaqon ghalidzo”.

Namun begitu, bagi mereka yang akan menikah harus dengan catatan memiliki syarat-syarat yang dapat mengantarkannya pada PMDK. Atau dengan kata lain, bukan asal menikah dan tanpa perencanaan hidup. Artinya, mereka yang akan menikah harus tetap memiliki pondasi keagamaan, keilmuan, dan bekal ekonomi yang kuat.

Oleh karena itu, bagi para orangtua untuk jangan khawatir menikahkan anaknya. Para orangtua hendaknya jangan menjadi penghalang bagi anaknya untuk menikah kalau memang anaknya sudah sangat ingin menikah, dan takut terjatuh ke dalam perbuatan dosa. Bantulah anakmu ‘tuk mencapai ridha Allah. Karena dikhawatirkan kalau setiap orangtua menghalangi anaknya yang sudah ‘kebelet’ untuk menikah, maka akan terjadi fitnah dan kerusakan di muka bumi dan akan menghancurkan agamanya. Kalau seperti itu, siapa yang paling bertanggung jawab terhadap (keselamatan) anaknya? Dan apa yang akan engkau jawab ketika engkau dibawa ke pengadilan Dzat Yang Maha Adil di akhirat kelak? Rasulullah bersabda: “Tiap-tiap kalian adalah pemimpin, dan kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinan kalian.” Orang tua merupakan pemimpin bagi anak-anaknya, maka orang tualah yang wajib menjaga kesucian mereka hingga pernikahan digelar.

By: Sri Lina Qomariyah—Lina Sellin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s