10 KESALAH PAHAMAN TENTANG SUKSES

Standar

Oleh: Lina Sellin

Siapa yang tidak tahu dengan Norman Camaru. Salah satu polisi Gorontalo yang mendadak terkenal dengan lagu “chaiyya-chaiyya”, juga diperankan dengan gaya kocak dan natural. Ia mampu mendulang kesuksesan, nama yang besar, materi yang melimpah, penggemar yang gandrung dan berbagai kesenangan dunia lainnya. Pesonanya telah berhasil membius masyarakat Indonesia. Kehadirannya di berbagai media pun setidaknya telah menggeser posisi orang-orang yang telah naik daun sebelumnya. Karenanya, tak sedikit pula orang mengelu-elu-kan namanya.

Norman Camaru telah sukses membawa seluruh negeri, termasuk ibukota kita pada suasana bollywood. Namun, apakah kesuksesan hanya diartikan dengan materi dan ketenaran? Benarkah sukses hanya didapatkan oleh mereka yang memiliki harta dan nama besar?  Mari kita bahas 10 kesalahpahaman tentang sukses.

 

Kesalahpahaman 1

“Beberapa orang tidak bisa sukses karena latar belakang, pendidikan, dan lain-lain. Padahal, setiap orang dapat meraih keberhasilan. Ini hanya bagaimana mereka menginginkannya, kemudian melakukan sesuatu untuk mencapainya”.

Contoh, Fuad Baradja adalah salah satu artis yang namanya melanglang buana di bumi pertiwi (sebagai pemain di sinetron Jin dan Jun), juga aktif sebagai ketua Lembaga Menangani Masalah Merokok (LM3). Ia adalah seorang mantan supir di Saudi Arabia. Ia juga hanya mampu menamatkan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama. Ia pula berasal dari keluarga yang cukup sederhana. Namun, kekurangan materi dan tingkat pendidikan tak lah menjadi hal yang dapat membelunggu ruang hidupnya di dunia. Dengan semangat yang tinggi dan paradigma yang benar tentang memandang kehidupan, akhirnya ia pun mampu menjadi yang terdepan dalam kehidupan manusia. Ia berhasil mengaplikasikan “khoirunnas anfa’uhum linnas”. Inilah kesuksesan yang sesungguhnya.
Kesalahpahaman 2

“Orang-orang yang sukses tidak melakukan kesalahan. Padahal, orang-orang sukses itu justru melakukan kesalahan sebagaimana kita semua pernah lakukan. Namun, mereka tidak melakukan kesalahan itu untuk kedua kalinya”.

Tidak sedikit orang yang memiliki paradigma tentang jalan kesuksesan yang mulus dan tanpa hambatan. Namun, tahukah bahwa kebaikan dan jalan yang lurus memiliki banyak rintangan? Inilah salah satu alasan mengapa setiap waktu shalat Allah SWT memerintahkan kepada hamba-Nya untuk terus berdoa “Tunjukilahkami jalan yang lurus. yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (QS. al Fatihah:  6-7)

Salah dan lupa adalah sifat dan sikap manusia yang tak bisa terhindari. Namun kesalahan tersebut tidak seharusnya dijadikan sebagai penghalang seseorang untuk menentukan kesuksesan dalam hidupnya. Sebab kesuksesan milik kita semua, kesuksesan diperuntukkan bagi manusia yang selalu berusaha bangkit dari keterpurukannya. Kesuksesan diperuntukkan bagi mereka yang menyadari letak kesalahan dan kemudian memperbaiki kesalahan tersebut dengan kebaikan serta tidak mengulangi kesalahan kembali.


Kesalahpahaman 3

“Agar sukses, kita harus bekerja lebih dari 60 jam (70, 80, 90…) seminggu. Padahal, persoalannya bukan terletak pada lamanya anda bekerja. Tetapi bagaimana anda dapat melakukan sesuatu yang benar”.

Tak sedikit orang yang mengartikan sukses dengan harus bekerja dan menguras tenaga selama puluhan jam dalam seminggu. Namun, tahukah anda bahwa sukses dapat diperoleh dengan waktu yang tidak menyita seluruh kehidupannya, tidak menelantarkan keluarganya, dan juga alasan lainnya yang seolah dianggap benar?.

Sukses dapat kita raih dengan banyaknya waktu dan juga keahlian. Waktu mendukung kesuksesan seseorang sebab bukti keberadaan manusia di dunia adalah adanya waktu. Sebagaimana Descartes, seorang filosof Yunani yang terkenal dengan pemikirannya “Aku berpikir maka aku ada”. Selebihnya adalah  keahlian. Siapapun dan profesi apapun harus dibarengi dengan keahlian. Sebab keahlian merupakan kunci keberhasilan manusia. Orang yang ahli di bidang politik, maka ia akan berhasil di bidang politik. Seorang yang ahli di bidang agama (merealisasikan ajaran agama), maka ia pun akan berhasil dalam keagamaannya. Inilah keadilan Tuhan. Inilah rohman dan rohim Tuhan.
Kesalahpahaman 4

“Anda hanya bisa sukses bila bermain sesuatu dengan aturan. Padahal, siapakah yang membuat aturan itu? Setiap situasi membutuhkan cara yang berbeda. Kadang-kadang kita memang harus mengikuti aturan, tetapi di saat lain andalah yang membuat aturan itu”.

Poin di atas merupakan poin individual sekaligus poin universal. Artinya, seseorang yang sukses bukan hanya dilihat dan dinilai dari aturan orang lain, namun aturan yang dibuat dan diperlakukan oleh diri sendiri merupakan aturan yang harus ditegakkan. Inilah yang kita sebut dengan ibda bi nafsik, kembali pada diri kita sendiri.
Kesalahpahaman 5

“Jika anda selalu meminta bantuan, anda tidak sukses. Padahal, sukses jarang sekali terjadi di saat-saat vakum. Justru, dengan mengakui dan menghargai bantuan orang lain dapat membantu keberhasilan anda. Dan, sesungguhnya ada banyak sekali orang semacam itu”.

Sukses bagaimanapun dan kapanpun tentu dilakukan dengan bantuan orang lain. oleh karena itu, sukses adalah bagi orang yang menghargai jasa-jasa orang lain.
Kesalahpahaman 6

“Diperlukan banyak keberuntungan untuk sukses. Padahal, hanya dibutuhkan sedikit keberuntungan. Namun, diperlukan banyak kerja keras, kecerdasan, pengetahuan, dan penerapan”.

Faktor keberuntungan terkadang membuat manusia bersikukuh untuk merealisasikan sukses dengan alasan keberuntungan yang besar. Padahal kesuksesan pada hakikatnya diraih oleh siapapun dan apapun posisinya hanya dengan kerja keras, kecerdasan, pengetahuan dan juga penerapan teori yang baik dan benar.
Kesalahpahaman 7

“Sukses adalah bila anda mendapatkan banyak uang. Padahal, uang hanya satu saja dari begitu banyak keuntungan yang diberikan oleh kesuksesan. Uang pun bukan jaminan kesuksesan anda”.

Sukses dikatakan banyak orang merupakan suatu hal yang selalu berkaitan erat dengan sebuah pencapaian hidup. Artinya sukses dalam hal materi, karir, kesenangan, kebahagiaan, kepopuleran, bahkan kenyamanan dan keamanan hidup yang terjamin. Dan lebih parahnya apabila sukses dipandang seolah menjadi patokan manusia untuk bersyukur pada Sang Pencipta, Allah SWT. Padahal, kesuksesan yang selama ini kita dambakan pada hakikatnya sudah ada di tangan kita. Kuncinya adalah bersyukur. Sebab apa yang diberikan Tuhan kepada kita tak kan pernah ada bandingannya. Uang bukan segalanya.
Kesalahpahaman 8

“Sukses adalah bila semua orang mengakuinya. Padahal, anda mungkin dapat meraih lebih banyak orang dan pengakuan dari orang lain atas apa yang anda lakukan. Tetapi, meskipun hanya anda sendiri yang mengetahuinya, anda tetaplah sukses”.

Banyak orang menganggap bahwa sukses adalah ketika semua orang mengatakan bahwa “kita telah sukses”. Padahal, hal yang terbaik  bagi manusia adalah ketika “diri kita sendiri” yang mengatakan bahwa kita telah sukses dengan memberikan hal terbaik pada orang lain dan tanpa orang lain mengetahui sejauh mana kita telah sukses. Ibarat menjadi serang pemberi lebih baik daripada penerima. Ketika tangan kanan memberi, maka tangan kiri tidak mengetahuinya. Inilah hakikat kesuksesan manusia di hadapan Sang Koliq, Allah SWT.

Kesalahpahaman 9

“Sukses adalah tujuan. Padahal, sukses lebih dari sekedar anda bisa meraih tujuan dan goal anda. Katakan bahwa anda menginginkan keberhasilan, maka ajukan pertanyaan “atas hal apa?””

Menjadi seseorang yang sukses adalah harapan semua manusia. Baik sukses di mata Tuhan ataupun sukses di mata manusia lainnya. Namun, hal yang harus ditekankan pada diri manusia itu sendiri adalah bahwa kesuksesan bukanlah sebuah tujuan akhir seseorang. Sebab jika sukses menjadi tujuan utama  manusia, maka kekecewaan besarlah yang akan terjadi apabila ternyata kesuksesan itu tidak terlaksana.

Kesalahpahaman 10

“Saya sukses bila kesulitan saya berakhir. Padahal, anda mungkin sukses, tapi anda bukan Tuhan. Anda tetap harus melalui jalan yang naik turun sebagaimana anda alami di masa-masa lalu. Nikmati saja apa yang telah anda raih dan hidup setiap hari sebagaimana adanya”.

Sukses kerap dianggap sebagai akhir dari segalanya, dianggap sebagai pamungkas dari seluruh kesulitan. Bila paradigma seperti ini yang digunakan, maka akibatnya adalah perasaan marah dan kesal seandainya kesuksesan materi tidak tercapai. Sebab materi adalah akhir dari seluruh kesulitan. Padahal, paradigma ini merugikan manusia itu sendiri. Sebab hal ini akan menjauhkan manusia dari rasa syukur kepada Sang Pencipta. Sedangkan orang yang “lupa” bersyukur sangat dekat dengan adzab Allah SWT. sebagaimana firman-Nya ““Ingatlah kamu kepada-KU, niscaya Aku ingat pula kepadamu dan bersyukurlah kepada-KU dan janganlah kamu mengingkari nikmat-KU. (QS. al Baqorah: 152)

(diadaptasi dari “The Top 10 Misconceptions About Success”, Jim M. Allen. CoachJim.com)

***

Boleh mengcopy, asal mencantumkan sumber link tulisan ini.

Sri Lina Qomariyah (Lina Sellin)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s