ALLOH DI MANA?

Standar


Oleh: Sellin

Tampaknya, sejak kecil ajaran tentang ketuhanan selalu menjadi ajaran dan pelajaran yang paling urgen bagi seluruh umat manusia di dunia ini. Betapa tidak, Ahmad Tafsir sebagai agamawan sekaligus filosof mengatakan bahwa agama adalah aturan untuk hidup, atau dalam istilahnya way of life. Agama merupakan dasar manusia berpijak. Karena dari sana lah adanya aturan-aturan hidup bagi manusia. Sebelum jauh melakukan aturan tersebut tentu harus terlebih dahulu tahu dan memahami siapa pembuat aturan yang sesungguhnya. Hal ini orang sebut dengan Tuhan atau Sang Pencipta.

Dalam Islam kita kenal dengan istilah Alloh SWT, dalam Kristen dikenal sebagai Allah Bapak, Hindu dikenal Shang Hyang Widhi , dalam Budha dikenal Budha Gautama dsb. Masing-masing mengaku dan mempercayai bahwa Tuhan merekalah yang paling benar. Bahkan, ada sebagian orang yang mengatakan bahwa esensi dari mereka adalah sama, hanya beda nama atau penyebutan. Namun, apakah benar demikian adanya?, bagaimana kita mengatakan benar jika kita sendiri tidak mengetahui Sang Pencipta yang kita percaya kebenarannya itu lebih dalam?  Oleh karena itu, mari kita bedah.

Ibnu Sina dan al Farobi, sebagai filosof Muslim mengatakan bahwa hakikat diciptakannya manusia di Bumi ini merupakan hasil pancaran kasih sayang Alloh SWT. Inilah yang disebut dengan teori emanasi. Menurut keduanya, Alam tercipta berdasarkan akal pertama hingga akal ke sepuluh yang Alloh kehendaki dari pancaran-Nya kepada alam.

Dari teori di atas, muncullah pandangan beberapa golongan yang menganggap bahwa dikarenakan manusia berasal dari pancaran dzat Tuhan, maka sifat Tuhan sama dengan sifat manusia. Di Kristen muncul istilah trinitas. Bagi mereka, Isa al Masih merupakan pancaran dari dzat Tuhan. Satu tetapi tiga dan tiga tetapi satu. Akan tetapi di sini kita akan membatasi pada keberadaan Tuhan pada agama yang kita anut, yaitu Islam. Di mana Alloh berada? Apakah sifat manusia sama dengan sifat Sang Pencipta, Alloh SWT? Bagaimana rupa dan bentuk Alloh SWT?

Pertanyaan di atas pada hakikatnya tidak adab (tidak boleh) jika kita tanyakan pada ustad atau orang yang mumpuni di bidang agama. Namun, siapa yang menjamin kalau penjelasan dari ustad tadi mampu menjawab kegelisahan kita saat ini tentang keberadaan Tuhan. Zaman modern seperti sekarang ini kan harus serba rasional. Zaman yang semuanya diukur dengan akal. Zaman yang selalu membutuhkan pembuktian secara sains. Sebab jika tidak, hal demikian dianggap kuno dan gak modern. Meskipun Saint Boventura mengatakan dalam maklumatnya bahwa “Percayalah agar engkau bisa mengerti”, namun keimanan kerap dianggap tidak bisa menyelesaikan permasalahan tersebut.

Permasalahan di atas mengingatkan kita pada kisah Ibrohim as dalam melakukan pencarian Tuhan. “Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam. Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku.” Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat. Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar.” Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Robb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (QS. al an-‘Am: 76-79)

Marilah kita bedah ayat di atas. Ibrohim pertama kali menanyakan apakah bintang itu merupakan Tuhan. Ketika bintang tenggelam ia berkata “Saya tidak suka kepada yang tenggelam.” Dalam analisisnya, bintang mustahil dianggap Tuhan, karena bintang tenggelam. Lalu Ibrohim melihat bulan. Dalam penglihatannya bulan lebih bersinar dibandingkan dengan bintang. Itu sebabnya ia menanyakan kembali  apakah bulan yang patut dianggap Tuhan. Namun, bulan pun tenggelam. Ibrohim menyatakan: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat.” Di sini ia menyadari bahwa Tuhan yang entah siapa dan di mana adalah sang pemberi petunjuk, bukan “sesuatu yang tenggelam.”

Lalu Ibrohim melihat matahari. Ia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besinar.”   Namun matahari pun tenggelam layaknya bintang dan bulan. Akhirnya, dikarenakan patokan definisinya tentang Tuhan adalah “sesuatu yang tidak tenggelam”, ia pun menyatakan di hadapan kaumnya “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Robb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.”

Ibrohim berkata “Aku tidak suka sesuatu yang dapat tenggelam”. Ibrohim merasakan bahwa Tuhan tak mungkin tenggelam. Rasanya bukanlah rasa yang tidak masuk akal, namun justru pascarasional, bukan rasionalisme dan juga rasionalistik. Rasa di sini merupakan suatu pembenaran bahwa pada hakikatnya di dunia ini ada sesuatu yang dayanya lebih besar dibandingkan dengan sesuatu yang tenggelam tadi. Untuk mencapai pada sesuatu yang rasional tentunya dengan cara merasakan atau diketahuinya tanda-tanda yang menunjukkan pada bukti keberadaannya.

Pada awalnya Ibrohim merasakan secara “hipotesa” adanya Tuhan yang tak mungkin tenggelam. Ia berkesimpulan bahwa Tuhan bukanlah bintang, bulan dan matahari karena mereka tenggelam dan surut dari pandangan mata. Lalu, ia pun berkesimpulan dan meyakini bahwa Tuhan adalah Pencipta yang menciptakan ketiga benda tersebut. pencipta langit dan bumi. Oleh karena itu, Ibrohim dalam pencarian terhadap Tuhan, bukan hanya dengan aqliyyahnya saja, melainkan kata “suka” dalam kalimat “Saya tidak suka kepada yang tenggelam” mencerminkan suatu perasaan yang dibarengi dengan perenungan qolbiyyah.

Ibrohim tak melakukan rasionalisme sebab sampai kapanpun kehadiran Tuhan tak dapat dibuktikan secara rasional. Namun kehadiran Tuhan dapat dirasakan manusia. Jika seseorang menolak keberadaan Tuhan, maka hakikatnya ia pun telah “merasakan” apa yang dinamakan penolakan terhadap Tuhan yang dimaksud dan mengimani Tuhan yang lain yang menurut rasanya tidak ada. Kondisi seperti ini persis sama dengan kaum ateis. Mereka tidak percaya pada Tuhan. Namun, secara gerak “rasa”, pada kenyataannya mereka mengimani sesuatu yang dianggap tak tampak oleh mata dan berada dalam tataran metafisik. Karenanya, kaum Marxis merupakan “kaum yang berada dalam keraguan, bukan tidak mempercayai Tuhan.”

Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja. (QS. al Jatsiyyah: 24)

Bintang, bulan dan matahari bukanlah Tuhan karena kehadirannya di muka ini adalah hasil karya cipta Tuhan. Terlebih pohon dan berhala yang jelas-jelas dapat dimusnahkan oleh manusia. Kiranya, mungkinkah Tuhan dapat dirusak oleh makhluk-Nya??Alloh SWT berfirman: “Katakanlah: “Dia-lah Alloh, Yang Maha Esa. Alloh adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” (QS. al ikhlash: 1-4)

Dalam ayat di atas dikatakan bahwa Tuhan adalah yang Maha Esa. Esa di sini berarti tunggal dan tiada terbagi. Satu-nya bukanlah satu bilangan rasional. Bukan pula bilangan nyata. Satu-nya tidak memungkinkan untuk mendua. Tidak mungkin pula diambil setengahnya. Satu ahadiyyul ma’na. Jika Tuhan terbagi, maka berapa banyak kerusakan di muka bumi ini. Jika Tuhan berselisih maka semua jagat raya akan saling bertabrakan.

Tuhan adalah tempat bergantung segala sesuatu. Pada-Nyalah meminta ampunan atas segala khilaf manusia. Karenanya, tidak mungkin dosa seseorang dapat ditangguhkan pada orang lain. Lantas bagaimana dengan sistem penebusan dosa yang dilakukan oleh umat Kristen dengan memakan roti Misa-nya?

Isa as diutus ke muka bumi ini tiada lain untuk menunjukkan jalan Tuhan. Seperti pada utusan-utusan-Nya yang lain, Isa pun diberi kitab yang berfungsi sebagai pedoman. Kitab tersebut bernama Injil. Namun setelah peristiwa besar itu, yang orang Kristen katakana “Isa mati disalib” dan Islam mengatakan “Isa dirahasiakan Tuhan karena yang disalib adalah teman Isa yang berhianat padanya, yaitu Yahusa”. Kitab itu pun semakin “tidak terbaca” kehadirannya. Kristen sendiri yang mengatakan bahwa Isa adalah anak Tuhan dan pembawa kitab, ternyata merubahnya dari perjanjian lama (Taurat) yang dibawakan Musa as ke perjanjian baru (Injil) yang dibawakan Isa as. Padahal tidak mungkin kiranya kitab “yang agung” dirubah oleh manusia.

Selain itu, Injil yang asli pada dasarnya sudah dibakar oleh Yahudi dan Injil yang sekarang beredar di kalangan umat Kristiani merupakan kumpulan perkataan dari  orang-orang yang dianggap penting dalam tubuh agama Kristen, sehingga kitab yang seharusnya berlaku bagi seluruh umat manusia di muka bumi ini adalah al Qur-an. Kehadiran kedua kitab (Taurat dan Injil) tersebut  hanya berhak untuk dipercaya tapi tidak untuk diimani. Sebagaimana telah diutus Muhammad saw sebagai nabi terakhir dan al Qur-an adalah kitab terakhir pula yang berfungsi untuk menyempurnakan kitab-kitab sebelumnya.

Eksistensi Isa di hadapan hamba Alloh hanyalah untuk menyampaikan ilmu yang dibekalkan Tuhan kepadanya. Bukan untuk menebus dosa hamba-hanba-Nya yang lain, karena amal manusia kelak akan ditimbang di padang maksyar. Di sanalah segala amal terlihat. Tidak ada pertenggungjawaban atas amal yang lain. Seorang suami berkewajiban untuk mengingatkan isterinya. Orang tua hanya berkewajiban mengingatkan anaknya, setelah maut datang, terlepas  sudah kewajibannya itu.

Kemudian, Tuhan adalah “Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan”. Bayangkan saja seandainya Tuhan beranak. Tuhan berarti punya nafsu. Nafsu memiliki macamnya. Singkatnya Ada nafsu baik dan nafsu jahat. Lantas, bagaimana jika Tuhan sedang dalam posisi “nafsu jahat-nya”? sudah berapa banyak bumi ini dihancurkan. Sudah berapa banyak kiamat  datang. Namun, tidak demikian adanya. Tuhan tidak beranak dan tidak memiliki nafsu. Tuhan sangat baik terhadap hamba-Nya. Bagi hamba yang ingkar saja Tuhan masih berbuat baik. Memberi segala sesuatu yang dibutuhkan oleh hamba. Jika Tuhan sudah berkehendak maka, berkata Jadilah, maka hal yang dikendaki pun terjadi. Seperti halnya kelahiran Adam as. Ia terlahir tidak punya ibu dan juga bapak. Hawa terlahir tidak punya ibu tapi punya bapak. Dan Isa terlahir tidak punya bapak tapi punya Ibu.

Terakhir, Tuhan adalah “Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” Jika Tuhan beranak, maka tentu sifat Tuhan akan menurun pada anaknya. Ibarat pepatah “buah apel jatuh tak jauh dari pohonnya”. Namun, tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia. Tidak ada yang mampu menyerupai hakikat diri-Nya. Alloh SWT dalam firman-Nya menantang pada makhluknya untuk membuat satu perumpamaan saja dari ayat-Nya, namun hingga sekarang tak ada satu pun yang mampu membuatnya.

Semoga kita semua termasuk hamba-Nya yang selalu mendapatkan petunjuk Alloh SWT. Karena petunjuk diberikan Alloh SWT kepada hamba-Nya yang tidak ingkar, oleh sebab itu, semoga kita tetap berada dalam kejujuran tentang-Nya. Amin. “Ingatlah, hanya kepunyaan Alloh-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Alloh (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Alloh dengan sedekat- dekatnya.” Sesungguhnya Alloh akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Alloh tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” (QS. az-Zumar: 3)

***

Boleh mengcopy, asal mencantumkan sumber link tulisan ini.

Sri Lina Qomariyah (Lina Sellin)

One thought on “ALLOH DI MANA?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s