BALIGH ADALAH SALAH SATU SYARAT UTAMA PERNIKAHAN

Standar

BALIGH ADALAH SALAH SATU SYARAT UTAMA PERNIKAHAN

Oleh: Sri Lina Qomariyah

Pada buletin minggu lalu, kami membahas tentang hal-hal yang harus dipersiapkan ketika akan menikah. Salah satu hal yang harus dipersiapkan ketika akan menikah yang dimaksud adalah baligh. Baligh dalam hal ini terdapat dua definisi. Yang pertama adalah baligh dalam hal umur. Yang kedua adalah baligh dalam hal kedewasaan perilaku. Mengapa demikian? Sebab meskipun usia seseorang sudah matang dalam pengertian sudah layak untuk menikah, namun jika kedewasaan perilakunya belum baik atau kurang layak untuk melakukan pernikahan, maka seseorang tersebut belum bisa dikatakan sebagai manusia yang baligh.

Pertama, baligh dilihat dari umur.

Ukuran baligh bagi perempuan sebagian ulama ada yang membatasinya pada umur tujuh tahun dan ada pula yang membatasi baligh dengan umur sembilan tahun. Atau dapat dikatakan juga batasan bagi laki-laki adalah mimpi yang dapat mengeluarkan sperma dan haid bagi perempuan. Artinya, kedua hal itu menandakan ‘berfungsinya organ reproduksi’ pada masing-masingnya, sehingga hormon-hormon reproduksi yang juga menjadi aktif itu menimbulkan ‘kesan ketertarikan pada lawan jenis’ atau biasa disebut sebagai syahwat, birahi, insting, dll. Hal biologis ini kalau tidak diatur dengan nilai-nilai yang baik, memang bisa mengarah pada hal-hal yang buruk (mudharat).

Sedangkan baligh dilihat dari umur menurut undang-undang Negara Republik Indonesia tahun 1974 No. 1 adalah umur 16 tahun bagi perempuan dan 18 tahun bagi laki-laki. Artinya, pada kedua umur tersebut dapat dikatakan  dewasa secara undang-undang. Namun bagaimana dengan kedewasaan perilaku yang mereka miliki? Bukankah bangunan rumah tangga tidak cukup hanya dengan melihat umur?

Pada dasarnya, baligh adalah awal bagi manusia untuk mempertanggungjawabkan ibadah pada Allah SWT. Sebagaiamana fungsi utama mereka dihadirkan di dunia ini “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”. (QS. adz-Dzariat: 56). Artinya, baligh ukuran ulama seperti yang disebutkan di atas adalah batasan umur untuk mulai diwajibkannya ibadah manusia guna mengenal Tuhan-Nya. Seperti perihal shalat diwajibkan bagi perempuan sejak usia tujuh atau Sembilan tahun atau setelah keluar haid. Sedangkan diwajibkan bagi laki-laki adalah saat berusia lima belas tahun atau setelah datang mimpi yang dapat mengeluarkan sperma.  Sehingga, pada saat batas umur mereka tiba namun belum melaksanakan shalat, maka orang tua wajib menegur mereka, bahkan ulama pun menganjurkan untuk memukul bagian yang tidak melukai mereka. Hal ini dilakukan guna menyadarkan mereka akan pentingnya manusia menjalankan kewajiban.

Kedua, baligh dalam hal kedewasaan perilaku.

Hal yang harus diperhatikan oleh calon pengantin selain melihat baligh secara umur, juga harus melihat pula baligh dalam hal kedewasaan perilaku. Sebab resiko dari pernikahan yang asal-asalan, dengan tanpa melihat kedewasaan perilaku, maka sisi psikologis adalah taruhannya. Secara mental atau emosional, anak seusia itu masih ingin menikmati kebebasan. Entah itu bersekolah, bermain, atau melakukan hal-hal lain yang biasa dilakukan oleh anak-anak atau remaja pada umumnya.

Artinya, ketika kedewasaannya masih minim, namun kemudian harus dibebani tanggungjawab sebagai ibu (pelindung anak-anak, ladang yang subur untuk suami) dan suami sebagai bapak (kemudi dalam rumah tangga, pemimpin dalam istana kecil manusia, pencari nafkah yang utama), maka  tidak menutup kemungkinan, kedua mempelai tersebut menggantungkan kehidupannya pada orang tua dan mertua mereka. Hal ini mengakibatkan mereka cenderung tidak bisa mengembangkan wawasannya. Kalau sudah seperti ini, kefatalan rumah tangga dapat mengancam kelangsungan hubungan yang idealnya harus bahagia (perceraian). Bukankah cerai adalah perbuatan yang halal tapi paling dibenci Allah SWT? Allahumma ba’idna.

Selanjutnya, jika baligh dalam pengertian umur untuk melakukan pernikahan, maka taruhan bagi perempuan adalah  kanker rahim yang dapat mengarah pada kematian. Sedangkan bagi laki-laki, tekanan batin, emosi yang belum stabil, kerasnya kehidupan dalam mencari nafkah untuk keluarga pun dapat mengancamnya melakukan hal-hal konyol seperti kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan akhirnya ketika sudah berada pada titik puncak kelemahan emosi dan iman, bunuh diri pun tidak menutup kemungkinan akan dilakukannya juga. Lantas di manakah letak keluarga sakinah mawaddah wa rahmah? Bukankah keluarga seperti itu yang hakikatnya dianjurkan Islam?

Oleh karena itu, mudah-mudahan kita semua dapat menempatkan Allah SWT di atas segala-galanya, sehingga ketika nafsu yang bersifat sesaat itu datang, kita sebagai makhluk yang lemah dapat terhindar dari bujukan syaitan yang terkutuk. Amiin. ***

Boleh mengcopy, asal mencantumkan link tulisan ini.

Sri Lina Qomariyah (Lina Sellin)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s