BERIBADAH KARENA SYUKUR

Standar

BERIBADAH KARENA SYUKUR

Oleh: Sellin

Menghadapi situasi krisis seperti saat ini, tidak sedikit orang yang frustrasi kemudian lari dari agama. Bahkan yang biasanya rajin melaksanakan berbagai amalan ibadah, tiba-tiba malas-malasan. Sedikit demi sedikit beberapa amalan ditinggalkan hingga suatu ketika semua amal ibadah telah terlupakan. Mereka merasa seluruh amal ibadahnya sia-sia, sebab tidak memperoleh apa-apa kecuali kebangkrutan usaha.

Sebaliknya, ada sebagian orang yang justru tersadar, kemudian kembali ke jalan agama. Mereka yang selama ini tidak pernah menginjakkan kakinya di masjid, tiba-tiba rajin melaksanakan sholat. Mereka baru mengerti bahwa ada kekuatan di luar dirinya yang membolak-balikkan suasana semau-Nya.

Jika kita ke masjid, kita dapati beberapa di antara mereka mantan-mantan ahli maksiat. Berbagai macam pengalaman telah mengantarkan mereka sampai ke jalan Tuhan. Ada yang karena dililit utang, ada yang telah sampai pada puncak kemaksiatan. Motif beragama memang beragam, meskipun dalam praktek ibadahnya harus seragam. Keberagaman itu bisa dibuktikan hanya dengan bertanya kepada orang yang habis melaksanakan sholat tentang maksud dan tujuan ibadahnya. Ternyata jawabannya tidak sama.

Sebaliknya, jika kita datangi tempat-tempat maksiat, satu atau beberapa di antara pelakunya mungkin mantan santri. Ada-ada saja orang yang asalnya baik menjadi jahat. Orang sholeh menjadi tholeh.

Ali Bin Abi Tholib ra membagi amalan ibadah kaum muslimin ke dalam tiga katagori. Pertama, golongan orang yang beribadah karena mengharapkan sesuatu dari Alloh SWT. Ia beribadah karena pamrih. Golongan itu dikatagorikan sebagai ibadatut-tujjaar, ibadahnya pedagang. Dalam prinsip ekonomi, seseorang melakukan usaha dimaksudkan untuk mendapatkan untung. Jika perlu dengan pengorbanan yang sedikit mendapatkan hasil yang banyak. Demikian pula dalam hal ibadah, mereka pilih-pilih di antara ibadah yang paling banyak mendatangkan keuntungan.

Itulah sebabnya mereka tampak sibuk menghitung-hitung amalan ibadahnya. Dibawanya tasbih ke mana-mana, diputar sambil komat-kamit hingga berhenti sampai hitungan tertentu. Ketika ditanya kenapa berhenti berdzikir, ia menjawab, berdasarkan hitungan ia telah membaca seribu kali. Jika sekali membaca diberi ganjaran sepuluh, maka ia telah mendapatkan pahala sebanyak sepuluh ribu. Suatu keuntungan yang bisa ditabung untuk hari itu.

Ibadah macam ini bukannya tidak diperbolehkan, tapi nilainya amat rendah. Alloh sendiri dalam berbagai ayat-Nya telah memotivasi ummat Islam agar gemar melaksanakan ibadah dengan iming-iming pahala yang banyak. Di antaranya adalah syurga. Beribadah dengan mengharapkan surga itu hal yang lumrah. Salah satu contohnya Allah berfirman: “Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan sholeh, kelak akan Kami masukkan ke dalam syurga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Alloh telah membuat suatu janji yang benar. Dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Alloh?” (QS an-Nisa: 122)

Iming-iming surga itulah yang diberikan Alloh untuk mendorong semangat hamba-Nya. Sementara janji Alloh pasti akan ditepati-Nya.

Masalahnya kemudian adalah bahwa pahala itu tidak langsung diterima pada saat seseorang melakukan suatu amalan ibadah, melainkan disimpan untuk kehidupan di akhirat. Penundaan ini menjadikan banyak orang tidak sabar. Maunya cepat menikmati. Karenanya kemudian banyak orang jadi enggan atau bermalas-malasan melakukan ibadah. Mereka merasa bahwa pahala itu kurang riil, tidak cash, dan waktu pengambilannya teralu lama.

Golongan ibadatut-tujjar ini tampak kurang konsisten dalam beribadah. Ada pasang surut sesuai dengan kondisi kantongnya. Jika kantongnya tebal, ia rajin sholat dan ibadah lainnya. Tapi jika kantongnya lagi kosong, iapun tak segan meninggalkannya.

Kategori kedua dari orang yang beribadah adalah mereka yang menjalankan rangkaian ibadah karena takut siksa Alloh. Karenanya mereka dikelompokkan Ali ra sebagai ‘ibadatul-‘abid’ (ibadahnya seorang budak). Seorang budak mempunyai mental yang khas, yaitu ia baru bekerja atau melakukan sesuatu jika disuruh dan disertai ancaman. Ia merasa bahwa hasil dari amalannya itu bukan untuk dirinya.

Seorang budak baru mau bekerja jika ada “upah”. Jika upahnya besar, ia rajin. Sebaliknya jika upahnya biasa-biasa saja, ia cenderung bermalas-malasan. Bagi budak seperti ini kecenderungannya memilih yang wajib-wajib saja, sedangkan yang sunnah dikurangi.

Lagi-lagi ibadah seperti seorang budak tidak menjadi soal, boleh-boleh saja. Asal ibadahnya ikhlas semata-mata karena Alloh, pasti diterima. Jika ia minta balasan surga, Alloh akan memberinya. Jika ia ingin lepas dari siksa neraka, Alloh juga mengabulkannya. Beribadah seperti pedagang atau seperti seorang budak bagi Alloh tidak jadi soal. Yang dipersoalkan-Nya adalah niat yang ikhlas lillahi ta’ala. Sedikit saja ada noda yang mengotori niat ini, ibadahnya akan menjadi cacat. Bisa jadi tidak diterima.

Dari dua katagori di atas, ada sekelompok orang yang beribadah bukan karena menginginkan surga atau pahala, juga bukan karena takut ancaman Alloh berupa siksa nereka. Kelompok ini beribadah kepada Alloh semata-mata karena rasa syukurnya. Jika kepada mereka ditanyakan, seandainya tidak ada syurga dan neraka, apakah tetap akan beribadah, dengan suara mantap mereka akan menjawab: Ya, saya akan tetap beribadah.

Jika dikejar dengan pertanyaan apa gunanya, orang tersebut tentu akan balik bertanya, ‘Bukankah saya patut bersyukur telah dijadikan Alloh sebagai manusia, makhluq yang paling mulia? Bukankah pantas bagi saya bersyukur kepada Alloh yang telah memberi saya akal dan pikiran yang sehat? Bukankah wajar bagi saya bersyukur kepada Alloh yang telah memberi hidayah sehingga saya menjadi seorang mukmin?’

Andaikata kita bersabar menunggu orang tersebut berbicara, tentu ia akan melanjutkan, ‘Seandainya Alloh memerintahkan saya beribadah sehari penuh, tentu saya akan melaksanakannya. Jangankan sholat yang hanya lima kali sehari, jangankan puasa yang hanya sebulan dalam setahun, jangankan zakat yang hanya mengeluarkan sebagian kecil dari harta yang telah diberikan Alloh, jangankan haji yang wajib sekali seumur hidup. Andaikata semua-umur harus dihabiskan untuk beribadah, tentu akan saya jalani.’

Suatu malam ‘Aisyah melihat suaminya, Rosulullah saw sedang asyik menjalankan sholat malam. Lama sekali beliau berdiri, ruku’ dan sujud. Manakala beliau berdoa bergemuruh dari dalam dadanya, bergetar seluruh badannya, dan tumpah seluruh air matanya. Malam itu Rosululloh benar-benar tenggelam dalam munajat kepada Allah SWT. Melihat hal itu ‘Aisyah merasa iba, kemudian bertanya, ‘Wahai, bukankah Anda seorang Rasul, kekasih Alloh? Bukankah Anda seorang yang ma’shum, yang dihindarkan dari berbuat salah dan dosa? Bukankah Anda seorang yang segala doanya dikabulkan oleh Alloh? Jika demikian, kenapa Anda bersusah-payah berdiri di malam hari sampai kakinya bengkak, menangis hingga matanya sembab?’

Rosululloh hanya menjawab pendek, ‘Tidak pantaskah jika aku menjadi hamba yang bersyukur?’

Kualitas ibadah yang dijalani seseorang yang didorong oleh rasa syukurnya tentu sangat berbeda dengan kualitas ibadahnya bisnismen atau budak. Jika pebisnis beribadah sangat tergantung pada tebal tipisnya kantong, maka ibadahnya orang yang bersyukur tidak kenal situasi. Dalam segala kondisi, baik sedang sedih atau gembira, susah atau mudah, ia tetap menjalankan ibadah.

Mutu ibadahnya seorang budak sangat tergantung pada besar kecilnya upah, berat ringannya ancaman siksa, tapi bagi seorang yang beribadah didorong oleh manifestasi syukurnya, hal itu tidak menjadi masalah. Tanpa upah sedikitpun, ia tetap beribadah. Bahkan andaikata ia ditetapkan masuk neraka, ia tetap beribadah.

Seorang sufi besar pernah menyampaikan doanya kepada Alloh SWT. Ia mohon agar ditempatkan di neraka, kemudian tubuhnya dibesarkan sampai memenuhi seluruh isi neraka. Dengan begitu, katanya semua orang bebas dari siksa neraka.

Mungkin kita berkata, sufi itu aneh-aneh saja. Akan tetapi jika kita renungi artinya sungguh luar biasa. Ia rela berkorban demi kebahagiaan ummat manusia.

Sufi yang lain pernah bermunajat kepada Rabb-nya. Ia berkata, ‘Ya Alloh, sekiranya Engkau masukkan aku ke dalam nerakamu itu tidak masalah asal ridho-Mu tetap menyertaiku.’

Bagi orang yang sudah pada tingkatan ini, permintaannya hanya satu, ridho Alloh semata-mata. Tentang akan ditempatkan di mana, surga atau neraka itu tidak menjadi soal. Bukankah ia juga yakin bahwa Alloh itu Maha Kasih dan Sayang. Tentu Alloh tidak akan menempatkan kekasih yang diridhoi-Nya di tempat yang menyengsarakannya. Mereka akan dikumpulkan bersama orang-orang yang diridhoi di dalam satu tempat yang diridhoi, yaitu syurga. Kepada mereka, Alloh berseru:
“Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS al-Fajr: 27-30)·

Oleh karena itu, marilah niatkan ibadah kita hanya untuk Alloh SWT dan karena syukur kita kepada-Nya. Semoga kita semua termasuk golongan orang-orang yang beribadah karena rasa syukur. Amiin.***

By: Sri Lina Qomariyah—Lina Sellin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s