CUCI OTAK??? MARI KITA KEMBALI KE REFERENSI UTAMA UMAT ISLAM!

Standar

CUCI OTAK???

MARI KITA KEMBALI KE REFERENSI UTAMA UMAT ISLAM!

Oleh: Lina

Sejarah telah membuktikan adanya manusia yang berani berkorban untuk dan karena agama atau kepercayaan yang diyakini kebenarannya dan sekaligus dianutnya. Mereka tak merasa enggan untuk mengorbankan harta, pikiran, tenaga atau nyawa sekalipun. Semua itu dilakukan dengan alasan agama. Orang-orang tersebut kemudian ingin pula agar orang lain ikut bersamanya, lalu kepercayaan tersebut disebarkannya, didakwahkannya, dipropagandakannya.

Agama itu sendiri didefinisikan oleh Ahmad Tafsir sebagai suatu sistem kepercayaan dan praktek yang sesuai dengan kepercayaan tersebut atau juga dikatakan sebagai peraturan tentang cara hidup lahir batin. Islam, sebagai salah satu agama yang dianut oleh ratusan juta kaum muslimin di seluruh dunia merupakan way of life yang menjamin kebahagiaan hidup pemeluknya di dunia dan di akhirat kelak. Ia mempunyai satu sendi utama yang esensial, yang berfungsi memberi petunjuk ke jalan yang sebaik-baiknya yaitu al Qur-an “(Kitab ini, al Qur-an) adalah petunjuk bagi orang yang takut kepada Allah. (QS. al Baqoroh: 2)

Al Qur-an adalah mukjizat Islam yang kekal dan mukjizatnya selalu diperkuat oleh kemajuan ilmu pengetahuan. Ia diturunkan Allah kepada Rasulullah, Muhammad saw untuk mengeluarkan manusia dari suasana gelap menuju yang terang, serta membimbing mereka ke jalan yang lurus, di dalamnya berisi pesan-pesan ilahiyah untuk membimbing dan mengarahkan manusia kepada kebaikan dan kebenaran dalam menjalani kehidupan.

Namun, Islam yang telah memiliki referensi utama tersebut kemudian diterjemahkan, ditafsirkan dan dikritisi oleh manusia yang pada dasarnya menginginkan dan mengharapkan agar dekat dengan apa yang dinamakan Sang Kholiq, sebab esensi diciptakannya manusia tiada lain adalah untuk Taqorrub Ilallah. Manusia diciptakan tiada lain untuk menjadi kholifah di bumi-Nya. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat adz-Dzariat ayat 56: “Dan Aku (Allah) tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”. Dengan begitu tak jarang bentrokan besar terjadi karena latar belakang agama yang kurang sempurna atau juga dikarenakan pengetahuan dan pemahaman agama yang sepotong-potong.

Salah satu kasus yang sedang booming di tengah-tengah masyarakat kita saat ini adalah perihal “cuci otak” atau yang kita kenal dengan istilah hipnotis, gendam dsb. Seorang pakar ilmu hipnotis mengungkapkan bahwa sebagian besar modus terjadinya “cuci otak” adalah ideologi dan uang. Iming-iming syurga yang indah dan bayang-bayang neraka yang menakutkan merupakan kasus cuci otak yang mengarah pada kehendak seseorang untuk merubah ideologi orang lain yang mereka anggap salah dan karenanya harus dirubah. Selain itu, modus ekonomi merupakan pendamping gerakan “pencucian otak” ini.

Selanjutnya, manusia yang memiliki tiga unsur pokok yaitu kemarahan, kecintaan dan rasa takut merupakan peluang emas bagi orang-orang yang memiliki penafsiran berbeda dari penafsiran umum yang sudah disahkan dalam institusi pemerintahan kita (MUI) perihal penafsiran dan penerjemahan al Qur-an. Sebab meskipun teks al Qur-an bersifat “bebas” atau multi tafsir, namun penerjemahan dan penafsiran itu pun harus sesuai prosedur dan harus dengan ilmu yang memadai, baik dari segi bahasanya, sejarahnya dsb. Allah SWT berfirman: “ Tidakkah mereka memperhatikan isi al Qur-an, ataukah hati mereka tertutup?” (QS. Muhammad: 24)

Pada ayat di atas, jelas bahwa Allah SWT menghendaki hambanya untuk berpikir dan memperhatikan isi al Qur-an. Meskipun begitu, Islam tetap tidak menghilangkan esensi kehadirannya sebagai Rahmatan Lil ‘Alamin, sebagai rahmat bagi seluruh alam. Artinya, Islam tidak menghendaki kekerasan. Islam tidak menghendaki permusuhan. Islam sangat menghargai perbedaan. Islam sangat berjiwa besar untuk menegakkan perdamaian.  Jika kita tahu kekurangan atau yang dianggap kurang perihal pemahaman agama, kita memang berkewajiban untuk menegurnya. Sebagaimana terdapat dalam firman-Nya: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar;merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. ali Imron: 104)   

Namun, dalam hal menyeru pada jalan kebaikan pun Tuhan punya caranya sendiri. Harus dengan lemah lembut dan tidak menyakiti sesama. “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmahdan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. an-Nahl: 125)

Dari ayat tersebut, jelas bahwa cara menyeru kepada jalan Tuhan (kebenaran) adalah dengan cara yang baik dan hikmah atau bijaksana, begitu pula jika ingin membantah suatu yang dianggap tidak sepaham dengan pemahamannya (kaum radikal), maka tetap harus dilakukan dengan cara yang baik.

Selain itu, sebagai umat manusia, perbedaan merupakan dinamika kehidupan. Perbedaan bukan berarti menyuruh untuk saling membenci dan mencaci orang lain yang berbeda pandangan, kelompok atau beda agama. Tapi, perbedaan harus disikapi dengan bijak dan legowo. Sepertinya hanya orang yang memiliki pandangan sempit saja yang menganggap bahwa perbedaan itu membahayakan. Bukankah perbedaan merupakan fitrah manusia. Bukankah berbeda pandangan dalam berwacana merupakan kekayaan dari ilmu pengetahuan?  Lantas, kenapa berwacana harus diakhiri dengan ancaman dan kecurigaan? Kenapa juga harus ada pihak yang disalahkan dan dimarjinalkan? Siapa yang benar?

Kebenaran yang ada saat ini hanyalah kebenaran relatif. Artinya, kebenaran yang benar menurutnya dan menurut kelompoknya saja. Dengan aneka alasan, tak ada yang mau disalahkan. Oleh sebab itu, sulit untuk mencari siapa yang salah dan siapa yang benar. Masing-masing memiliki apologi dalam berucap dan bertindak. Karenanya, biarkan dinamika kehidupan berjalan sesuai dengan rodanya. Kemudian, memberi pemahaman yang kaffah tentang Islam kepada pemuda-pemudi generasi penerus merupakan solusi yang harus ditawarkan pada kondisi saat ini yang kiranya “haus” akan wawasan Islam. Sebagai generasi muda, sudah seharusnya untuk memfilter semua informasi yang masuk dalam otak, membandingkan dan kemudian mengkritisinya dengan koridor yang benar. Tidak menelan informasi baru secara mentah-mentah.

Semoga kita semua termasuk hamba Allah SWT yang selalu berada dalam jalan yang lurus, sesuai tuntunan al Qur-an dan al Hadits. Sebagaimana Rosul saw bersabda: “Kutinggalkan untukmu dua pusaka, tidaklah kamu akan tersesat selamanya selama kamu masih berpegang teguh kepada keduanya, yaitu al Qur-an dan Sunnah Rosul-Nya”. (HR. Bukhori) Tunjukilahkami jalan yang lurus. (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. Amin. (QS. al Fatihah: 6-7)

By: Sri Lina Qomariyah—Lina Sellin

One thought on “CUCI OTAK??? MARI KITA KEMBALI KE REFERENSI UTAMA UMAT ISLAM!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s