Engkau Mau Terus Ke Mana?

Standar

Fitrah manusia adalah diciptakannya rasa. Rasa senang, sedih, bahagia dsb. Seluruh manusia di dunia ini jika ditanya apakah memilih hidup senang atau sedih sudah barang tentu memilih hidup senang. Namun, fitrah manusia juga sebagai makhluk hidup pasti akan kembali kepada asalnya. Berasal dari tanah dan akan kembali pada tanah. Bukan hanya jasadnya saja yang kembali. Esensi dari jasad itulah yang kelak akan mempertanggungjawabkan atas apa yang telah dilakukakan oleh jasad. Alloh SWT berfirman: “Tiap-tiap yang benyawa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan”. (QS. al- ‘Ankabut: 57). Disebut pula dalam surat ali Imron ayat 185 berbunyi: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan”.

Ayat di atas menunjukkan bahwa manusia memiliki dua elemen. Pertama elemen jasadiah dan kedua elemen rohaniah. Elemen jasadiah pasti akan hancur dan lebur seperti halnya tanah. Sedangkan elemen rohaniah akan kekal sampai datangnya hari kiamat dan manusia sudah selesai mempertanggungjawabkan perbuatannya di dunia ini. Sebagai peringatan, Alloh pun dari jauh-jauh hari menyatakan bahwa manusia diciptakan di dunia ini hanya untuk menyembah-Nya; “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku” (QS. adz-Dzariaat: 56). Karenanya, manusia pasti akan kembali pada-Nya dengan disertai pertanggungjawaban di dalamnya.

Pada hakikatnya, hidup adalah antrian panjang menuju kematian. Waktunya pun sudah ditetapkan kapan kematian itu menimpa kehidupan manusia. Bahkan diceritakan dalam kitab-Nya bahwa ada tiga hal yang ketetapannya sudah ditulis Alloh SWT dalam lauh mahfudz. Yaitu, jodoh, rizki dan kematian. Manusia adalah makhluk yang bernyawa, oleh sebab itu kematian pasti akan datang padanya. Bekal apa yang sudah dimiliki manusia untuk kembali ke hadirat Illahi, Alloh SWT? Apakah amal kita sudah mencukupinya untuk bisa menempati syurga-Nya? Ataukah hidup ini hanya dijadikannya sebagai senda gurau belaka? Alloh SWT berfirman: “Dan tidaklah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan jika kamu mengetahui”. (QS. al-Ankabut: 64)

Jika kita menganalogikan kehidupan sebagai sebuah antrian panjang menuju kematian, maka analogi yang paling pas untuk itu adalah “Rumah makan”. Ya, hidup di dunia seolah-olah sedang dalam rumah makan besar. Mengapa demikian?

Di dalam sebuah rumah makan besar, pasti terdiri dari berbagai makanan, pramuniaga sebagai pencatat dari makanan yang hendak dipesan, security sebagai pengamanan. Dan terakhir kasir yang berfungsi sebagai tempat pembayaran. Semua komponen tersebut pasti memiliki bos yang berfungsi sebagai pengatur dan pengarah di dalamnya.

Sebelum masuk ke rumah makan besar, para pengunjung disambut dengan penuh kesopanan oleh para security yang menjaga pintu masuk tempat tersebut dan mempersilahkannya duduk. Tidak lama kemudian, pramuniaga pun datang menghampiri mereka dengan senyum lebar dan memberikan menu makanan yang telah tersedia. Tentu, karena semua yang datang ke sana pasti bertujuan untuk menyantap makanan. Masing-masing tersedia sesuai selera pemesan. Rasa manis, pedas, asin, gurih dsb. Semua itu khusus disediakan bagi para pengunjung. Pramuniaga pun siap melayani. Mencatat segala sesuatu yang diinginkan dan kemudian dipesan oleh mereka

Kemudian, usai menyantap makanan, pengunjung segera menuju kasir yang berfungsi sebagai tempat pembayaran. Jika pengunjung ternyata “nakal” atau tidak mau membayar, maka security tidak segan-segan untuk menghukumnya dan melaporkan pada yang berwajib.

Demikianlah hakikat manusia diciptakan di dunia ini. Kehidupan yang berakhir pada sebuah pemberhentian nyawa yaitu kematian. Sebelum mencapai kematian, manusia pasti harus melalui proses terlebih dahulu.

Setelah dilahirkan di dunia, manusia berhak memilih menu makanan apa saja yang ia kehendaki. Beriman kepada Alloh sebagai Pencipta atau tidak. Menjalankan apa yang diperintahkan-Nya atau tidak. Mencegah apa yang dilarang-nya atau tidak. Inilah sebuah pilihan bagi manusia.

Dalam menjalani proses hidup, manusia diiringi dengan Malaikat yang diutus untuk mencatat segala yang diperbuat dan direncanakan manusia. Baik amal baik maupun amal buruk. Semuanya tak lepas dari pengawasannya. Itulah tugas Rokib dan Atid. Seperti tugas yang dibebankan pada Pramuniaga di dalam sebuah rumah makan besar. Mencatat segala menu makanan yang dipesan oleh para pengunjung, yaitu manusia sebagai pengunjung alam dunia.

Jika pengunjung itu membangkang dan tidak mau mempertanggungjawabkan perbuatannya kepada kasir untuk membayar makanan yang sudah disantapnya, maka security lah yang bertindak. Di sini pula letak aturan dalam sebuah proses hidup manusia. Karena manusia memang tidak akan pernah lepas dari aturan dan hukum.  Jika tidak sesuai dengan apa yang dianjurkan dan diperintahkan sang pemilik rumah makan besar “Alloh SWT” maka sudah pasti hukum-Nya lah yang bermain. Karena dalam hal ini Alloh jua pengatur, perancang dan pengarah makhluk-Nya yang membuat dan memberlakukan aturan. Alloh adalah Big Bos bagi semua makhluk yang berada di alam ini. “Alloh tidak lengah dari apapun yang  diperbuat manusia”. (QS. al-Baqoroh: 85)

Dengan sigap security melaporkan segala kejadian yang diperbuat manusia kepada Big Bos. Karenanya, kehidupan ini harus dipertanggungjawabkan baik di dunia maupun di akhirat.  Jika pengunjung mengikuti “aturan main” si Pemilik Rumah Makan Besar, maka selamatlah ia. Keluar dari rumah makan dengan perasaan senang dan keadaan kenyang. Begitu pula jika manusia mengikuti aturan yang diberlakukan Alloh SWT sebagai pemilik alam ini, maka kebahagiaanlah yang akan diperoleh manusia. Keluar dari alam dunia ini dengan penuh senyum dan rasa senang karena telah menyantap makanan yang enak, lezat, nikmat dan bergizi guna menuju alam akhirat yang kekal dan kebahagiaan selanjutnya.

Semoga kita semua termasuk hamba-Nya yang mampu memaksimalkan kesempatan di dunia ini dan mampu mempertanggungjawabkan segala perbuatan yang kita lakukan. Giat-giatlah beribadah, karena tujuan manusia di dunia ini tidak lain adalah untuk menyembah-Nya. Ikutilah perintah dan aturan Alloh SWT agar kita termasuk ke dalam golongan yang mampu merasakan nikmatnya syurga dengan penuh senyum dan kebahagiaan. Karena akhiratlah tujuan kita sesungguhnya. “Mereka pasti akan kembali pada-Nya”. (QS. al- Baqoroh: 46)

*Ditulis oleh Lina Sellin, dan pernah dimuat di Islindo.

(Silakan meng-copy, asal menyertakan sumber)

2 thoughts on “Engkau Mau Terus Ke Mana?

  1. Erhanudin

    Benar yg saudra/i katakan, kita hanya hambanya, yg lemah. Tiada daya & upaya , yg jadi pertanyaan kita apakah kita tlah BERIMAN, mentauhitkan nama nya ( ALLAH ), menyebutnya namanya dlam hati ( zikir qolbi),

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s