HILANGNYA ESENSI TAMAN KOTA

Standar

HILANGNYA ESENSI TAMAN KOTA

Oleh: Sri Lina Qomariyah

Taman kota dibangun tidak lain untuk membuat suasana kota asri, indah dan merupakan tempat bersantai bagi masyarakat, baik masyarakat sekitar, maupun dari luar kota yang sengaja datang untuk sekedar melepas lelah dan bercanda ria dengan orang-orang terdekat mereka. Tidak mengenal waktu, di hari libur atau tidak, setiap pagi, siang, sore dan bahkan malam hari taman terlihat ramai dan damai “menyapa” para pengunjung. Tak heran jika taman pun difungsikan untuk mencegah derita global warming. Menjadi udara bagi sumpeknya alam yang sudah tidak stabil lagi. Menjadi nafas bagi kehidupan yang kian panas. Menjadi penenang bagi jiwa yang sedang kelabu. Tempat istirahat yang nyaman dan tidak dipungut biaya sepeserpun adalah taman kota.

Namun, terlepas dari semua manfaat yang sudah disebutkan di atas, tak sedikit orang yang menyalahgunakan fungsi taman. Pemandangan yang sering terlihat dan tampaknya terabaikan begitu saja. Sampah beterbangan di mana-mana. Sampah berbentuk materi maupun sampah masyarakat dengan perbuatan yang “kotor”. Aksi tak bermoral kerap kita temui dan seolah dianggap bukan urusan kita. Gerakan yang mengarah pada perbuatan zina. Sebagaimana kita ketahui, mendekati zina sangat dilarang oleh agama. “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. al- Isro: 32)

Dari ayat di atas dijelaskan mengenai larangan mendekati zina, sebab zina merupakan perbuatan keji. Barang siapa yang menjauh dari perbuatan keji maka baginya akan dihapuskan dosa-dosa dan termasuk ke dalam golongan orang-orang yang mulia. Sebagaimana Firman-Nya: “Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga).”

Memang, yang melakukan perilaku bejad ini hanya segelintir orang yang tidak bertanggungjawab terhadap etika dan agama. Tapi seperti yang kita ketahui bersama, tinta setetes akan merusak kertas putih yang luas. Inilah yang terjadi di taman kota saat ini. Esensi dibangunnya taman kota akan hilang dengan terjadianya pembiaran tradisi tak berakhlaq tersebut. Bila dibiarkan, bukan hanya merusak moral pemuda masa depan kita, moral kota bahkan bangsa dalam skala luas akan tercemar di hadapan bangsa lain dan lebih memalukan di hadapan Tuhan. Kotoran-kotoran inilah yang harus kita basmi dari bumi pertiwi.

Realitas yang harus dibasmi hingga ke akar-akarnya. Sebab jika terus dibiarkan, selain merusak moral, jelas akan mengganggu kondisi “keislaman” kita yang mempunyai kewajiban membasmi hal yang munkar. Menjaga kehormatan manusia dari perbuatan a moral, bukan hanya kewajiban diri sendiri saja, melainkan tugas dan kewajiban kita bersama sesama Muslim. Dijelaskan dalam hadits Rosul saw: “Jika kamu melihat kemungkaran, maka basmilah dengan tanganmu, jika tidak mampu maka basmilah dengan lisanmu, dan jika tidak mampu pula maka basmilah dengan hatimu. Dan itu merupakan selemah-lemahnya iman” (HR. Muslim)

Hadits di atas merupakan anjuran kita untuk berani menegakkan kebenaran. Ditawarkan pula beberapa alternatif dalam melakukan pembasmian terhadap kemungkaran. Yaitu dengan tangan, lisan dan hati.

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya.” (QS. an-Nur: 30-31)

Selain itu, sudah menjadi tugas manusia untuk menjaga bumi-Nya, baik dari kotoran materiil, yang merusak bumi secara fisik, maupun kotoran non materiil yang merusak ibadah manusia pada Tuhan. Sebagaimana terdapat dalam firman-Nya: “Dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. al An’Am: 165)

Sedangkan ayat yang menjelaskan tentang kewajiban bersama dalam membasmi hal munkar yaitu terdapat dalam surat ali Imron ayat 104 yang berbunyi: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” Ma’ruf adalah segala perbuatan yang mendekatkan kita kepada Alloh. Munkar ialah segala perbuatan yang menjauhkan kita dari pada-Nya.

Oleh karena itu, menegur dengan lemah lembut adalah hal yang harus kita lakukan kepada semua orang yang sedang melakukan hal buruk, seperti mendekati zina dsb, dalam konteks ini adalah bagi para penghuni taman, namun tidak menutup kemungkinan hal ini terjadi di pusat perbelanjaan, tempat keramain dan lain-lain.

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmahdan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. an-Nahl: 125)

Mudah-mudahan kita semua termasuk golongan orang-orang yang selalu berbuat baik dan menyeru pada kebaikan dengan jalan yang baik pula. Mampu memposisikan kehadiran diri manusia di bumi sesuai fungsinya sebagai kholifah fil ardh.  “Dan Aku (Alloh) tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”. (QS. adz-Dzariat: 56) Amiin.***

By: Sri Lina Qomariyah—Lina Sellin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s