HORMAT PADA BOS DAN HORMAT PADA ORANG TUA

Standar

HORMAT PADA BOS DAN HORMAT PADA ORANG TUA

Oleh: Sri Lina Qomariyah

Rasa hormat pada orang lain sangat dianjurkan dalam Islam. Hormat berdasarkan usia, berdasarkan jabatan, dan hormat berdasarkan kedudukan. Hormat berdasarkan usia, tidak hanya dilakukan orang yang lebih muda usianya terhadap orang yang lebih tua saja, melainkan orang yang lebih tua pun harus sebaliknya. Hormat berdasarkan jabatan, biasanya dilakukan dari orang yang memiliki jabatan rendah kepada yang memiliki jabatan tinggi. Dicontohkan dalam suatu riwayat bahwasannya jika kamu naik kendaraan bermotor, maka ucapkanlah salam pada orang yang menggunakan sepeda.

Dijelaskan pula dalam al Qur-an “Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. (QS. al Furqon: 63) Hal ini menunjukkan bahwa Islam sebagai ajaran yang “Rahmatan lil ‘alamin” berusaha merangkul kehidupan orang lain yang kedudukannya lebih rendah, baik kedudukan dalam hal ekonomi, kedudukan dalam jabatan, kedudukan dalam hal usia dsb.

Islam memandang dan mengajarkan pada umatnya untuk melakukan rasa hormat ini pada seluruh makhluk di bumi. Tidak melihat usia, jabatan, kedudukan dan sebagaianya. Akan tetapi, realitas yang bergulir sekarang ini berjalan tak sebaik dan tak sesempurna yang diharapkan. Tentu saja bukan karena ajarannya yang kurang tepat dalam mengikuti arus post modernisme yang penuh dengan lika-liku kehidupan ini. Sebab ajaran agama tertuang dalam kitab suci yang terdiri dari beberapa rangkaian huruf dan terbentuklah teks. Teks bersifat “bebas” dari interpretasi. Artinya, siapapun berhak menafsirkan teks tersebut.

Meskipun demikian, Tuhan tidak mungkin menginginkan kerusakan dan ketidakpatuhan. Oleh sebab itu, manusia sebagai penggerak norma dan aturan ajaran agama itulah yang seharusnya menempatkan akhlaq (sikap hormat) sesuai dengan ajaran yang berlaku. “Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya.Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Alloh petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.” (QS. az-Zumar: 18)

Salah satu contoh bentuk kejadian di atas adalah melimpahnya sikap hormat karyawan kepada si bos. Tidak sedikit karyawan yang merasa takut dan tidak berani melawan perkataan serta perintah bos. Apapun yang diperintahkan diterimanya dengan legowo.  Bahkan, tak heran jika karyawan melakukan “hal-hal baik” berlebih dengan tujuan kenaikan tingkat jabatan atau kenaikan gaji. Tindakan seperti ini memang sangat bagus dan dapat dijadikan  sebagai  motivasi  diri dalam melakukan pekerjaan. Namun, bagaimana dengan hormatnya pada orang tua masing-masing? Apakah segala ucapannya didengar dengan baik? Apakah segala keinginannya dapat dikabulkan? Apakah segala perintahnya dapat kita lakukan dengan segera?

Mungkin ada dari segilintir manusia di bumi ini yang sadar dan hormat pada orang tua. Sungguh sangat memprihatinkan jika kondisi yang terjadi adalah sikap lebih mengedepankan perintah, ucapan, keinginan si bos dibandingkan sikap pada orang tua. Mengingat orang tua adalah pembimbing dan pengarah utama kita. Orang tua mengurus kita dari buaian hingga besar. Orang tua memberikan apapun yang diminta oleh sang anak jika mereka mampu. Bukan hanya itu, jika mereka tak mampu pun, akan diusahakannya sekuat tenaga. Itulah bukti kasih sayang orang tua terhadap anak. Ibarat pepatah mengatakan “Kasih ibu sepanjang jalan sedangkan kasih anak sejengkal kaki.”

Subhanalloh, layakkah kita menyandingkan hormat orang tua dengan hormat kepada sang bos?

Jelas, keduanya sangat berbeda. Peran orang tua yang begitu mulia pun beberapa kali digambarkan dan disebutkan dalam al Qur-an. Seperti tercantum dalam firman-Nya: “Janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia (Alloh), berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa.” (QS. al-An’am: 151)

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”. (QS. al-Isro: 17)

Tiada lain, kedua ayat tersebut menginginkan agar kita selalu menjunjung tinggi kedudukan para orang tua. Mentaati segala perintahnya. Perintah yang tidak mengarahkan kita pada kekafiran dan jauh dari Alloh SWT. Seperti perintah melakukan kejahatan, mencuri,  berbuat curang dan sebagainya.

Oleh karena itu, mulailah mendengarkan, memperhatikan, mengabulkan perintah orang tua yang baik dan tidak melenceng dari ajaran Islam. Bila perlu jangan menunggu mereka, para orang tua itu memerintahkan kita sebagai anak. Perhatikan apa saja yang dibutuhkan, penuhi semuanya jika kita mampu. Hormati kehadiran mereka di bumi ini. Beri mereka tempat setinggi-tingginya di hati kita. Tempatkan “nama”  mereka di atas kepala kita. Bukan malah menitipkan ke panti jompo dan sebagainya. Ingatlah jasa mereka begitu besar terhadap kita. Mereka sanggup melakukan apapun demi anak. Mereka sanggup tidak tidur semalaman suntuk demi menenangkan tangisan buah hatinya. Mereka lah pahlawan sejati kita. Berkata baiklah pada mereka. “Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Alloh-lah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baikdan amal yang sholeh dinaikkan-Nya.” (QS. Faathir: 10)

“Ibumu, ibumu, ibumu, kemudian ayahmu”. Inilah salah satu pesan Rosul saw kepada kita semua. Menjaga ibu kemudian ayah. Menjaga dari segala bentuk hal yang meresahkan hatinya, baik secara  fisik, finansial, perasaan, dan yang lainnya. Sebab bukti sayang kepada orang tua bukan hanya tercermin dari harta saja, namun perhatian yang besar hakikatnya sangat dibutuhkan mereka.

Patuh, mendengarkan, mengabulkan perkataan bos itu perlu jika tidak melampaui batas. “Dan janganlah kamu mentaati perintah orang-orang yang melewati batas.” (QS. Assyuaro: 151)Mengingat kita digaji dari tangannya sebagai perantara Alloh SWT. Patuh dan hormat terhadap orang tua harusnya lebih dari sikap patuh dan hormat kita pada bos. Mengingat inilah kewajiban kita yang sesungguhnya sebagai anak. Mudah-mudahan kita semua termasuk ke dalam golongan orang-orang yang selalu menempatkan kedudukan orang tua di atas segala-galanya. Memberikan segala kebutuhan mereka dengan penuh cinta dan sayang. Amiin.***

By: Sri Lina Qomariyah—Lina Sellin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s