Isteri Shalehah, Kenapa Tidak!

Standar

Isteri sholehah merupakan perhiasan dunia. Karenanya, tak sedikit wanita yang berlomba untuk mendapatkan gelar tersebut. Pahala yang berlimpah serta jaminan syurga merupakan gula bagi para wanita di seluruh alam. Namun, tak mudah pula kiranya mendapatkan gelar yang didamba itu. Terlebih pada zaman yang dikatakan orang sebagai “zaman emansipasi wanita”. Di mana setiap wanita berhak melakukan apapun yang mereka mau tanpa batasan peran suami atasnya. Salah satu alasan yang  membooming adalah adanya Hak Asasi Manusia yang selalu digulirkan dan berusaha diboomingkan oleh orang-orang di luar sana, khususnya dunia Barat.

Meskipun demikian, perkembangan zaman tetap tidak bisa kita hindari. Begitu juga dengan hadirnya konsep emansipasi di kalangan masyarakat. Mengingat waktu akan terus berjalan dan kita tidak bisa mundur barang sedetikpun. Itu sebabnya dalam al Qur-an banyak menggunakan sumpah dengan kata waktu. Salah satunya tercantum dalam surat al-Asr “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal soleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. al-Asr: 1-3)

Semua orang akan merugi kecuali orang yang beriman, mengerjakan amal soleh dan saling menasehati dalam hal kebenaran dan kesabaran. Itulah inti dalam surat di atas. Oleh sebab itu menjadi isteri sholehah merupakan keharusan bagi setiap wanita. Tentu agar wanita Muslim tidak berada dalam kerugian bersama tenggelamnya waktu.

Lantas apakah mungkin menjadi isteri sholehah di tengah-tengah masyarakat yang “greget” dengan pengaruh emansipasi wanita itu? Di tengah-tengah kesibukan kantor dan pekerjaan di luar rumah yang menumpuk? Jawabannya, kenapa tidak!

Hadirnya konsep emansipasi harus diseleraskan dengan konsep isteri sholehah yang tidak memandang wanita sebelah mata, karena pada dasarnya derajat wanita akan tetap lebih tinggi dari pada laki-laki, sebagaimana Rosul berucap, ummuka, ummuka, ummuka, tsumma abuka. Berlaku adillah atas waktumu, jika kamu menghendaki syurga-Nya.

Alloh SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Alloh, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Alloh, sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. al-Maidah: 8)

 

*Ditulis oleh Lina Sellin, dan pernah dimuat di Buletin Ikhlas.

(Silakan meng-copy, asal menyertakan sumber)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s