KAWIN LARI = TIDAK SAH

Standar

KAWIN LARI = TIDAK SAH

Kawin lari adalah suatu istilah untuk menyatakan perbuatan menikah yang disebabkan tidak adanya restu dari wali si wanita yang bersangkutan dengan cara nikah “di bawah tangan”. Hukumnya pun tidak sah. Sebagaimana Rasulullah saw bersabda, “Tidak (sah) pernikahan tanpa wali dan dua orang saksi.” (HR. Ahmad). Mengapa demikian?

Pertama, karena pernikahan bertujuan untuk “Mendapatkan keturunan atau anak”

Dianjurkan dalam pernikahan tujuan pertamanya adalah untuk mendapatkan keturunan yang shaleh, yang menyembah pada Allah dan mendoakan kedua orangtuanya, menyebut-sebut kebaikannya di kalangan manusia serta menjaga nama baiknya. Sebagaimana terdapat dalam hadits dari Anas bin Malik Ra. berkata: Nabi saw menyuruh kami menikah dan melarang membujang dengan larangan yang keras dan beliau bersabda: “Nikahlah oleh kalian perempuan-perempuan yang pecinta dan peranak, maka sungguh aku berbangga dengan banyaknya kalian dari para Nabi di hari kiamat.

Artinya, ikatan pernikahan bukanlah suatu ikatan yang singkat, namun ikatan tersebut akan berlangsung sampai kematian menjemput mereka, itu pula yang menyebabkan pernikahan disebut sebagai “mitsaqon ghalidzo” atau “perjanjian yang sangat berat”. Seperti halnya kata nikah yang memiliki pengertian saling bersatu dan saling masuk. Bersatunya dua perkara, atau bersatunya ruh dan badan untuk kebangkitan. Sebagaimana firman Allah SWT (yang artinya): “Dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh)” (Q.S At-Takwir : 7)

Karenanya, jika pernikahan tetap dilakukan dengan tanpa restu orang tua, maka bagaimana mereka dapat menjaga keturunanya dengan baik, sedangkan ridha Allah tergantung pada ridha orang tua. Kalau sudah demikian, bagaimana silaturahim dapat terjalin di antara anak dan orang tua, terlebih dengan kehadiran cucu yang seharusnya mendapatkan kasih sayang nenek dan kakek mereka. Nabi saw bersabda: “Janganlah kamu saling benci-membenci, dengki-mendengki, belakang-membelakangi dan pulau-memulau. Dan jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara (dengan berkasih-sayang dan ziarah-menziarahi). Dan tidak halal bagi seorang muslim meninggalkan (memulaukan) saudaranya lebih dari 3 hari “. (HR. Bukhari dan Muslim)

Kedua, karena pernikahan bertujuan untuk “Menjaga diri dari yang haram”

Rasul saw bersabda: “Wahai para pemuda, barang siapa di antara kalian yang mampu maka nikahlah, karena sesungguhnya itu dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan, maka barang siapa yang tidak mampu hendaknya dia berpuasa, karena sesungguhnya itu benteng baginya”. (HR. Bukhhari dan Muslim)

Hadits di atas secara tersirat menjelaskan bahwa pernikahan adalah  suatu ikatan antara dua jiwa dengan ikatan cinta dan kasih sayang, dan ikatan tersebut merupakan sebab adanya keturunan serta terpeliharanya kemaluan dari perbuatan keji. Kemaluan bukan hanya tertuju pada perbuatan seks. Begitu juga dengan kalimat “menjaga diri dari yang haram”. Menjaga diri dari yang haram memiliki definisi yang luas. Menjaga diri dari yang haram berarti menjaga diri dari hal apapun yang dilarang oleh syar’i. Termasuk, menyakiti hati orang tua.

Sebagaimana Allah SWT berfirman: “wa la taqullahuma uffin” (dan janganlah kamu mengatakan kepada keduanya kata-kata “hus”) (QS. Al Isro: 23). Makna (hukum) tersirat yang terkandung dalam ayat itu sebagai konsekwensi logis dari larangan tersurat agar jangan mengatakan kata-kata hus kepada orang tua. Dengan kata lain, ayat itu tidak saja menunjukkan hukum haramnya perbuatan mengatakan “hus” kepada kedua orang tua, akan tetapi juga mengandung hukum haramnya perbuatan lain yang setara yang tidak disebutkan dalam ayat itu, seperti memukul dsb, karena adanya kesamaan illat antara keduanya, yaitu sama-sama bersifat menyakiti orang tua.

Singkatnya, mengatakan  “hus” saja tidak dibenarkan, apalagi jika melakukan hal apapun yang dapat menunjukkan rasa sakit hati orang tua. Kawin lari atau tanpa restu orang tua, jelas dapat menyakiti hati orang tua, sebab mereka sebagai wali tidak ridha pada pernikahan tersebut.

Boleh mengcopy, asal mencantumkan sumber link tulisan ini.

Sri Lina Qomariyah (Lina Sellin)

One thought on “KAWIN LARI = TIDAK SAH

  1. mohon maaf tolong sebutkan syarat rukunya nikah juga dong,trus apa gunanya wali hakim.trus jika orang tua melarang Karna perbedaan darajat,apa itu di benarkan dalam islam.tlg jangan dulu bilang Haram,anak itu kalau sudah dewasa segala amal perbuatanya itu di tanggung sendiri di hadapan Alloh.itu hanya masalah dosa karna tidak taat pada kedua orang tua .bukan haram asal kedua”nya sudah dewasa menurut undang-undang yaitu untuk wanita di at as 16 th, dan pria 18 the.jika bellum mencapai umur tsb mk itu bisa di penjara jk pihak orang tua melapor.trims mohon di respoon ke email.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s