KEADILAN DALAM ISLAM

Standar

KEADILAN DALAM ISLAM

Oleh: Lina Sellin

Rasul saw bersabda: “Demi Allah bila Fatimah putri Muhamad mencuri maka Muhamad akan memotong tangannya”. (HR.Bukhori)

Rasul saw sebagai salah  seorang figur uswatun hasanah membuktikan dalam haditsnya secara tegas bahwa setiap hamba memiliki kedudukan yang sama di hadapan Allah. Baik dalam kewajiban pengabdian menjalankan perintah-Nya. Mendapatkan ganjaran dari hasil usahanya dengan pahala dan kebaikan yang telah dilakukan, maupun  ganjaran hukuman atas kesalahan dan dosanya.  Tidak ada yang diistemawakan dalam Islam perihal keadilan ini, termasuk bagi keluarga Rasul.

Semua ditimbang sama di hadapan Tuhan. Yang membedakan dan menentukan kedudukan manusia di hadapan-Nya hanyalah amal ibadah masing-masing manusia itu sendiri. Allah tidak melihat keturunan, kedudukan, harta dan hal keduniaan lainnya . Seperti Fatimah, puteri tercinta Rasul yang dihukumi sama dengan manusia pada umumnya jika melakukan kesalahan. Ketegasan ini menunjukkan suatu bukti tanggung jawab seorang ayah kepada Allah SWT atas kesalahan bangunan keluarganya. Ini pula merupakan bukti bahwa tanggungjawab seorang ayah dalam mendidik moral sang anak bukan hanya di hadapan umat, namun juga akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.  

Muhamad sebagai seorang ayah jelas memiliki kewajiban untuk mendidik putera dan puterinya. Maka jika sang buah hati bersalah, orang yang pertama kali menegur dan menghukumnya adalah Muhamad dalam konteks kewajiban sang bapak. Rasul tidak menyebut dalam haditsnya dengan sebutan “Maka Rasul atau Nabi yang akan memotong tangannya”, namun justeru disebutnya “Maka, Muhamad yang akan potong tangan Fatimah”.

Kehidupan di alam fana dengan berbagai macam kemegahan dan gemerlapnya dunia, yang juga tergambar jelas di pelupuk mata tiada lain merupakan ujian bagi manusia untuk taqarub ilallah, untuk berserah diri kepada Allah.  Itupun tidak ada yang diistimewakan. Semua tergantung pada usaha manusia itu sendiri. Apakah ia menjalankan segala yang diperintahkan dan menjauhi segala yang dilarang-Nya ataukah malah sebaliknya. Hal ini tergambar pula dalam hadits di atas.

Kehidupan dan kesalahan bisa saja terjadi pada keluarga Rasul. Namun demikian yang mempertanggungjawabkan amal tersebut adalah individunya, bukan terikat pada naungan keluarga Rasul ataupun Nabi. Dengan demikian, untuk dekat dengan Allah, kita harus menyadari bahwa kita sebagai umat Islam dalam menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya (kewajiban umat Islam) tersebut tentu akan ada halang rintang yang berdiri tegak di hadapan manusia. Godaan itupun beragam, tergantung dari kadar keimanan seseorang. Jika imannya masih lemah, setan yang akan dikerahkan oleh sang raja setan pun tentu setan yang tingkatnya lemah pula. Begitu juga bila kadar keimanan seseorang sudah berada dalam taraf tinggi, maka tidak menutup kemungkinan si raja setan lah yang akan terjun langsung menggoda manusia-manusia pilihan ini.

Kita harus menyadari akan godaan setan yang bisa datang dari mana saja. Sebagaimana janji setan di hadapan Allah SWT untuk terus mengganggu anak cucu adam hingga datang hari kiamat. Setan, makhluk Allah yang diberi hukuman kekal di neraka itu pun diizinkan oleh Allah untuk menggoda manusia supaya ingkar kepada Sang Pemilik Segalanya, Allah SWT. Bagi mereka yang mau mengikuti jalan kesesatan ini, maka neraka jahanam adalah tempat yang diperuntukkan bagi mereka.

Begitu pula dengan dihadirkannya keindahan dan kegemerlapan dunia. Ini merupakan godaan manusia agar ingkar kepada Allah. Tidak bisa memanfaatkan alam dengan baik. Tidak mampu mengolah isi bumi dengan ramah agar bumi semakin ramah pula menyapa manusia. Tidak mampu menjadi khalifah fil ardh yang kemudian tidak mampu mengantarkannya pada taqarab ilallah. sebab bagaimanapun juga tugas utama manusia adalah menjadi Khalifah di bumi-Nya.

Artinya, manusia harus berbuat adil terhadap dirinya dan juga alam sekelilingnya. Manusia harus paham benar untuk apa ia tercipta. Adil terhadap dirinya berarti ia harus menjalankan segala kewajibannya sebagai manusia yang diberi amanat oleh-Nya. Adil terhadap alam berarti ia harus menjaga alam dengan baik dan penuh tanggung jawab. Dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. al An’am: 165)

Sebagai contoh, banyak di antara kita yang lalai untuk melaksanakan shalat. Menunda-nunda waktu shalat dikarenakan nikmat menonton televisi, sibuk dengan pekerjaan, berbuat kikir karena ingin membuktikan dirinya termasuk ke dalam golongan orang-orang yang “beruang” (orang kaya), dsb.

Rasulullah saw, sebagai kekasih Allah, yang telah dijamin masuk ke syurga-Nya, tetap menjalankan dan mengamalkan kewajibannya sebagai seorang hamba. Rasul tidak hanya memerintahkan pada umatnya, namun  beliau membuktikan perintahnya itu dengan menjalankan sendiri, bahkan lebih banyak dan lebih giat lagi. Tidak ada umat yang bisa menandingi kehebatan dan kegigihan beliau dalam beribadah. Kepribadian Rasul saw adalah al Qur-an sebagai uswatun hasanah, jelas di sini siapapun orangnya, apapun kedudukannya, berapa pun banyaknya harta yang dipunya tetap memiliki kewajiban yang sama kepada Allah SWT. Inilah keadilan yang diajarkan Islam bagi umatnya. Keadilan yang ditunggu-tunggu oleh manusia di seluruh dunia. Keadilan yang tidak memihak pada salah satu kedudukan duniawi.

Mudah-mudahan kita semua termasuk hamba-Nya yang mampu menegakkan keadilan. Baik adil dalam beribadah, adil dalam membagi waktu antara ibadah maqdoh dan ghoiro maqdoh, adil dalam menentukan keputusan, adil terhadap pemenuhan hak dan kewajiban bagi keluarga, maupun adil terhadap alam sekitar kita. Semoga semua amal ibadah kita diterima di hadapan Allah SWT dan mendapatkan balasan yang baik. Aamiin. ***

Boleh mengcopy, asal mencantumkan link tulisan ini.

Sri Lina Qomariyah (Lina Sellin)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s