KEBERSAMAAN DALAM DAKWAH

Standar

KEBERSAMAAN DALAM DAKWAH

Oleh: Sellin

Kata bersama atau kebersamaan merupakan ungkapan suatu kerukunan, kedamaian, ke-tepo sliraan dan keserasian. Jika kata tersebut dihubungkan dengan dakwah, maka kebersamaan dalam berdakwah merupakan lambang  kerukunan, kedamaian, ke-tepo sliraan dan keserasian dalam tubuh umat Islam. Hal ini mampu menjadikan bangunan umat Islam pun kokoh, tegak berdiri. Sebab dakwah merupakan sebuah media bagi umat Islam untuk meyampaikan pesan positif, memberikan gambaran tentang Islam yang benar serta menyampaikan ajaran-Nya yang termaktub dalam kitab-kitab suci. Allah SWT berfirman: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung”. (QS. ali Imron: 104)

Miftah Faridl dan Muhtar Adam, merupakan lambang kerukunan, keserasian, kedamaian dan ke-tepo sliraan dakwah umat Islam. Sebab Miftah Faridl telah menunjukkan kepada umat Islam bahwa agama Islam bukanlah semata untuk dimengerti. Lebih dari itu adalah untuk dijalani, disebarkan dan diperjuangkan dengan penuh kesungguhan. Beliau juga telah memberikan teladan tentang hal itu.

Sedangkan Muhtar Adam, seorang muballigh, ulama, cendekiawan, sekaligus pendiri dan pimpinan umum Pondok Pesantren al Qur-an Babussalam yang lahir di Benteng Selayar, Sulawesi Selatan pada 10 September 1939 merupakan dai yang selalu membawa dakwahnya pada gagasan yang harus dipahami dan dirasakan oleh umat.

Bagi Muchtar Adam, dakwah dilaksanakan sebagai satu gerakan dengan materi dakwah terencana berbasis kebutuhan umat, sehingga dakwah berlanjut menjadi “al tarbiyah wa al ta’lim” ( pendidikan dan pengajaran) yang bertitik tolak dari QS.22: 54. “Dan orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya al Qur-an itulah yang hak dari Tuhannya  lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus.” Untuk mengimplementasikan ayat tersebut yang mencakup aspek kognitif, afektif dan psikomotorik dalam berdakwah, didirikanlah Pondok Pesantren al Qur-an Babussalam di Desa Ciburial, Bandung, pada tanggal 12 Rabiul Awwal 1401 H (18 Januari 1981 M) dengan tujuan melaksanakan pengkajian al Qu-ran, penelitian masalah dakwah, pendidikan kader dakwah, penyebaran informasi wawasan al Qur-an, pengembangan warga pedesaan dalam bidang aqidah, ilmu, sosial, dan ekonomi guna ikut serta mewujudkan masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT.

Selanjutnya, kami mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada Dr.KH. Miftah Faridl dan KH. Muhtar Adam yang telah bersedia menjadi dewan pengasuh buletin Ikhlas. Mudah-mudahan dapat tetap independen memelihara orientasi keumatan dalam mengembangkan misi dakwah, guna menyebarkan rahmat untuk sekalian alam di atas semangat ukhuwah (persaudaraan), ta’awuniyah (tolong menolong dan kerjasama), tasamuh (toleransi dan moderat), qudwah (kepeloporan) dan syuriyah (permusyawaratan).

Semoga buletin ini dapat bermanfaat bagi kaum Muslimin di dunia, khususnya umat Islam di kota Bandung.  Serta semoga kita semua dapat mengambil pelajaran (ilmu) dari para ulama kita.  Amiin.

Selamat membaca!

By: Sri Lina Qomariyah—Lina Sellin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s