Kebersihan Mukena VS Kebersihan Pakaian

Standar

Bersuci merupakan salah satu syarat syahnya sholat. Sesuatu yang suci pasti identik dengan bersih. Bersih tehadap kondisi jiwa dan raga. Bersih jiwanya berarti seseorang yang melakukan sholat sedang tidak dalam keadaan mabuk atau tak sadar. Sedangkan bersih raga adalah bersih secara jasmani. Bersih dari kotoran yang menempel di badan ataupun benda yang melekat pada tubuhnya. Benda atau sesuatu yang melekat pada tubuh manusia adalah baju.

Bagi perempuan, selain baju tentu menggunakan gamis panjang atau dalam istilah negara kita, Indonesia yaitu mukenah. Fungsinya untuk menutup aurat seperti yang diperintahkan Alloh SWT dalam kitab-Nya. “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebih. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”. (QS. al-A’rof: 31)

Namun, sebesar apa perawatan terhadap mukenah  yang manusia pakai sebagai sholat? Apakah sama seperti merawat  baju yang sama-sama melekat dalam tubuh mereka?

Rosul saw bersabda: “Tidak diterima sholat tanpa bersuci dan tidak diterima pula sodaqoh yang berasal dari pencurian (penipuan) ” (HR. Muslim). Begitu pentingnya kesucian bagi umat Islam, hingga salah satu yang menjadikan syahnya sholat adalah bersuci.

Sebagaimana disebutkan pula dalam Firman Alloh SWT: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu sholat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pema’af lagi Maha Pengampun. (an-Nisa: 43)

Sholat yang diwajibkan bagi umat Islam di seluruh alam adalah sholat fardhu. Sholat tersebut dilakukan lima kali dalam sehari.  Tentunya, begitu pula dengan mukenah yang dipakai pada saat menjalankan sholat. Itu berarti mukenah minimal dipakai bagi perempuan baligh sebanyak lima kali dalam sehari. Terlebih jika wanita sholehah yang melaksanakan sholat sunnah baik di waktu siang maupun malam.

Meskipun demikian, tidak banyak orang yang menyadari akan kebersihan mukenah dibandingkan dengan kebersihan baju. Baju, biasanya dipakai satu kali dalam sehari kemudian segera dicuci atau disetrika. Atau bahkan jika tidak sempat mencucinya pada hari di mana baju itu dilepas, biasanya enggan untuk memakai kedua kalinya. Alasannya karena baju itu sudah kotor, tidak nyaman dipakai dan tidak percaya diri ketika memakainya.

Berbeda dengan mukenah. Seperti yang kita ketahui, mukenah tidak pernah dicuci tiap hari, bahkan tidak sedikit orang menunggu lebaran tiba hanya untuk mencuci mukenah. Itupun karena sholat Iedul Fitri ataupun Iedul Adha dilakukan di masjid. Atau mungkin juga mencucinya satu bulan satu kali. Hal yang mungkin menjadi alasan karena malu jika mukenahnya bau tidak enak. Padahal, mukenah dipakai jauh lebih sering dibandingkan dengan baju. Terlebih bagi Muslimah yang taat dan tidak pernah meninggalkan sholat, baik yang fardhu maupun yang sunnah.

Keadaan masyarakat seperti yang telah dijelaskan di atas merupakan salah satu cerminan bagi kita sebagai umat Islam untuk lebih memperhatikan kebersihan. Terutama bagi fasilitas seorang hamba dalam menemui Alloh SWT (sholat). sholat yang pada hakikatnya merupakan kumpulan doa tentu harus lebih bersih dan suci dibandingkan dengan baju yang kita pakai untuk sekedar menemui hamba-Nya.

Selain karena pahala yang besar dan merupakan salah satu rukun Islam, sholat juga merupakan ibadah yang mampu mencegah perbuatan keji dan munkar. “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Ankabut: 45)

Sholat merupakan pembatas antara Muslim dan Kafir. “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rosul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Alloh; dan Alloh tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Alloh Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia”. (QS. al-Baqoroh: 143)

Sholat dapat membentuk akhlak manusia. Dan yang terpenting sholat dapat digunakan sebagai media pendekatan diri hamba kepada Alloh sebagai Sang Kholiq. “Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) sholat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup”. (QS. Maryam: 31)

Salah satu syarat mendekat kepada Alloh yaitu dengan cara bersikap adil terhadap diri sendiri. Adil dalam istilah ini berarti menempatkan sesuatu pada tempatnya. Sholat sudah menjadi suatu keharusan untuk dilakukan pada tempat dan kondisi yang besih dan suci. Adil dalam membersihkan pakaian dan mukenah.

“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat”. (QS. Huud: 114)
Pada ayat di atas, jelas bahwa orang-orang yang ingat terhadap Alloh SWT, maka segala perbuatann baiknya dapat menghapus perbuatan-perbuatan yang buruk. Itu sebabnya sholat harus dilakukan dalam keadaan bersih dan suci.

Semoga kita semua termasuk hamba-Nya yang mampu berlaku adil,  baik adil untuk diri sendiri maupun adil terhadap orang lain. Terutama adil di dalam menjaga kebersihan diri guna memperolah segala pahala kebaikan dari-Nya. Amiin.***

*Ditulis oleh Lina Sellin, dan pernah dimuat di Buletin Ikhlas.

(Silakan meng-copy, asal menyertakan sumber)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s