LALAI AKAN WAKTU? RUGILAH DIA

Standar

LALAI AKAN WAKTU?

RUGILAH DIA

Oleh: Sri Lina Qomariyah

Manusia pada dasarnya berada dalam kerugian. Siapakah ia? Lantas, mengapa? “Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”. (QS. al ‘Asr: 2-3)

Demikianlah ungkapan Alloh SWT tentang pentingnya menggunakan waktu yang tercantum dalam kitab suci al Qur-an. Waktu ibarat pisau. Jika pisau digunakan untuk memotong tomat, maka tomat itu dapat dimakan dengan lezat, namun jika pisau itu digunakan untuk membunuh, maka pisau dapat mengantarkannya masuk ke penjara.

Orang yang rugi di antaranya:

Pertama, orang yang tidak beriman kepada Alloh SWT.

Orang yang tidak beriman kepada Alloh termasuk ke dalam golongan orang-orang yang rugi. Sebab amalnya tidak diniatkan untuk Alloh. Amalnya tidak didasari dengan keimanan pada-Nya. Amal yang telah ia lakukan tersebut hanyalah sia-sia dan tak bernilai. Begitupun dengan waktu. Jika waktu digunakan untuk beriman dan menjalankan perintah Alloh SWT, maka waktu dapat mengantarkannya pada golongan orang-orang yang beruntung. Namun, apabila waktu digunakan untuk maksiat dan tidak mengimani Allh SWT sebagai Tuhan Semesta Alam, maka ia termasuk ke dalam golongan orang-orang yang merugi.

Seperti yang sudah kita ketahui, bahwa ada pula orang-orang yang mengaku beriman secara lisan, namun akhlak dan perbuatannya jauh dari Islam. Ini pula termasuk orang yang merugi. Sebab kesempatan yang ia miliki tidak dimanfaatkan dengan baik. Waktunya terbuang untuk sekedar mengaku-ngaku atau bahkan orang seperti ini dapat dikatakan sebagai orang yang munafik.

Yaitu, 1) Orang yang antara hati dan lisannya tidak sama. 2) Apabila berjanji ia ingkar. Seperti hakikatnya manusia ketika di dalam kandungan. Alloh SWT telah menyumpah kepadanya untuk beriman bahwa tiada tuhan selain Alloh dan mengakui bahwa Muhammad adalah utusannya. Namun ketika ia terlahir menjadi orang yang jauh dari Allah atau kafir. Hal ini terjadi karena orang tua yang seharusnya membimbing menuju jalan-Nya telah lalai.  3) Orang yang ketika dipercaya ia berkhianat. Manusia dipercaya menjadi kholifah di bumi. “Dan Dia lah yang menjadikan kamu kholifah fil ardh” (QS. al An’am: 165) Artinya, manusia harus menjaga dan mengolah bumi agar menjadi baik. Tidak merusak apa yang yang ada di bumi-Nya. Sebab bumi dan isinya merupakan hal yang dipercayakan pada manusia.

Sebagaimana Alloh berfirman: “(yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Alloh sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Alloh (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. al Baqoroh: 27)

Kedua,  orang-orang yang tidak mengerjakan amal saleh.

Orang yang mengerjakan amal saleh berarti melakukan segala sesuatu dengan niat karena Alloh (Lillahita’ala), sehingga apabila apa yang diinginkan tidak mampu didapat, hatinya pun menerima dengan ikhlas. Tidak kecewa berlebihan dan tidak menyalahkan dirinya sendiri. Selanjutnya, melakukan amal saleh berarti melakukan hal yang  berguna bagi lingkungan sekitar khususnya dan masyarakat luas umumnya sesuai dengan kemampuan. Membantu yang lemah dan sedang kesusahan. Tidak berpangku tangan ketika ada yang membutuhkan bantuan baik secara materi maupun moril.

Orang-orang yang tidak mau melakukan amal saleh termasuk ke dalam golongan orang-orang yang rugi, karena ia tidak memanfaatkan kesempatan yang diberikan Alloh SWT untuk berbuat baik dan mendapatkan pahala berlimpah. Akhirnya, ia bukan hanya merugi tapi juga ia termasuk orang yang bodoh. Ia tidak mengerti akan pahala yang melimpah dan berlipat ganda. Sebagaimana firman-Nya: “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Alloh adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir (berisi) seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Alloh Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (QS. al Baqoroh: 261)

Ketiga, orang yang tidak mau saling bernasehat dalam kebaikan.

Orang yang tidak mau saling bernasehat dalam kebaikan termasuk ke dalam golongan orang-orang yang rugi. Sebab hilanglah kesempatan baginya untuk berdakwah dan mengembangkan bendera Islam. Alloh SWT berfirman: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmahdan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. an-Nahl: 125).

Selain itu, orang yang tidak mau bernasehat berarti ia termasuk orang yang sombong. Merasa dirinya tidak membutuhkan nasehat orang lain. Merasa ilmunya sudah cukup dan tidak membutuhkan ilmu dari orang lain. Sedangkan Alloh SWT tidak senang pada orang-orang yang berbuat sombong. Sebab orang-orang yang sombong adalah sahabat iblis yang terkutuk, sebagimana Alloh melarang iblis masuk dan menikmati syurga-Nya.

Karenanya, waktu harus digunakan dengan sebaik-baiknya. Sebab jika waktu telah pergi dan menjadi masa lalu, bagaimanapun kita, apapun kendaraan kita, tetap kita tidak bisa kembali ke masa lalu. Kita harus menjaga hari ini dan hari-hari  yang  akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Islam. Masa lalu harus digunakan sebagai cermin manusia menuju kehidupan yang lebih baik di masa yang akan datang.

Bagi bangsa Indonesia yang sudah merdeka hamper enam puluh enam tahun lamanya, seharusnya mampu menjadikan kemerdekaan sebagai jembatan emas untu kemakmuran. Karenanya, segenap bangsa Indonesia harus bertanggungjawab mengisi kemerdekaan ini dengan bekerja positif sesuai dengan ajaran Islam. menjadikan negara yang Baldatun Thoyyibatun wa Robbun Ghofur.

Kerugian manusia lah bagi mereka yang tidak mengambil pelajaran dari masa lalu. Kerugian manusia lah bagi mereka yang tidak mau beriman. Kerugian manusia lah bagi mereka yang tidak melakukan amal saleh. Kerugian manusia lah bagi mereka yang tidak mau saling bernasehat. Mudah-mudahan kita semua termasuk ke dalam golongan orang-orang yang beruntung.  Termasuk ke dalam golongan yang mampu memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Amiin. ***

Boleh mengcopy, asal mencantumkan sumber link tulisan ini.

Sri Lina Qomariyah (Lina Sellin)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s