ORANG TUA HARUS “LEBIH” DARI GURU DI SEKOLAH

Standar

ORANG TUA HARUS “LEBIH” DARI GURU DI SEKOLAH

Oleh: Lina

Guru merupakan panutan bagi para murid. Pembimbing dan pengarah yang paling disegani. Guru selalu ditempatkan pada posisi paling atas setelah orang tua. Bahkan ada yang beranggapan bahwa guru adalah pengganti mereka. Sebab bagaimanapun juga, kegiatan anak selalu dikontrol oleh guru, terlebih ketika sang anak berada di sekolah atau majelis ilmu. Hal ini yang mengakibatkan para orang tua seolah lepas tangan dan menitipkan sepenuhnya pada guru. Tak heran, jika anak lebih mendengar perkataan guru dibandingkan dengan mendengar perkataan dan perintah orang tua.

Kekurangan orang tua dalam hal ilmu dan kedudukan sosial, terkadang membuat anak menghilangkan rasa hormat terhadap posisi mereka. Misalnya, saat orang tua tidak pandai membaca al Qur-an, sang anak jelas merasa malu ketika teman-temannya menanyakan perihal sejauh mana orang tua mampu membaca al Qur-an. Ketika sang anak jebolan al Azhar, dia tetap akan merasa minder dan secara sengaja maupun tidak, mereka akan memandang sebelah mata terhadap orang tua. Tentu, kondisi seperti ini sangat “menghawatirkan” akhlak masa depan bangsa. Mengingat di manapun kedudukan orang tua akan lebih tinggi dari siapapun. Termasuk dari guru.

Sebagaimana terdapat dalam firman-Nya: Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. al Isro: 23)

Karena posisi orang tua yang tinggi yaitu di bawah hormat manusia pada Tuhan, maka  orang tua harus memiliki kemampuan lebih dari para guru di sekolah atau majelis ilmu. Kemampuan lebih dalam segala hal. Terutama lebih dalam bidang agama. Hal ini ditujukan agar ketika sang anak menanyakan sesuatu tentang hal-hal yang sangat esensial seperti di mana Tuhan, bentuk Tuhan seperti apa, apakah Tuhan makan dan minum layaknya manusia dsb, orang tua sudah memiliki jawaban yang pas dan pantas menurut agama. Sebab yang menjadikan sang anak taat kepada ajaran agama tidak lain adalah mereka, para orang tua.

Oleh karena itu, sesungguhnya kewajiban orang tua lebih berat dibandingkan dengan kewajiban sang guru yang hanya berkewajiban mendidik dan mengajar murid saat mereka berada di sekolah, setelah itu terlepaslah kewajiban guru. Menjadi orang tua yang sangat dibanggakan oleh anak-anak mereka merupakan hal yang diharapkan. Menjadi pahlawan bagi segala pertanyaan yang ingin diketahui jawabannya oleh sang anak. Sifat anak yang selalu ingin tahu hal-hal baru merupakan kesempatan orang tua untuk membentuk karakter keimanan sang buah hati.

Orang tua harus menjadi pustaka dan jalan kebenaran  bagi anak, sehingga ketika ibu dan bapak memiliki kemampuan yang lebih dari orang-orang di sekitar, tentu akan memberikan semangat tersendiri bagi anak untuk terus mengembangkan kemampuan dan keahlian mereka, mengingat sifat anak selalu cenderung untuk meniru dan mencontoh apa yang di hadapan mata dan pengamatan mereka.

Semoga kita semua termasuk orang tua yang mampu memposisikan diri sebagai pembimbing dan pengarah bagi anak-anak kita dengan bekal ilmu yang mumpuni. Amiin.***

By: Sri Lina Qomariyah—Lina Sellin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s