Pengadilan Dunia Ada di Hati

Standar

Dalam menentukan adil dan keadilan di dunia, tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Sebab dalam menentukan adil dan keadilan pasti dipengaruhi oleh kondisi kejiwaan seseorang (hati). Seperti layaknya kondisi keimanan seseorang. Terkadang yazid (bertambah)dan dalam satu titik tertentu berada dalam keadaan yanqus (berkurang). Karenanya, orang yang menjadi hakim atau pun yang bergerak di bidang hukum syarat utamanya harus memiliki keimanan kuat dan telah teruji. Terlebih, Islam mengajarkan pada kita semua agar penegak keadilan diutamakan adalah orang yang beriman dan dari kalangan kaum Muslimin.

Di dunia ini, konsep keadilan dan cara menegakkannya pasti tidak sama dengan konsep keadilan di akhirat. Sebab kebenaran yang ada saat ini hanyalah kebenaran relatif. Artinya, kebenaran yang benar menurutnya dan menurut kelompoknya saja. Dengan aneka alasan, tak ada yang mau disalahkan. Oleh sebab itu, sulit untuk mencari siapa yang salah dan siapa yang benar. Masing-masing memiliki apologi dalam berucap dan bertindak.

Meskipun demikian, kita tidak dapat menyalahkan orang lain, sebab salah dan benar pada hakikatnya adalah hak Alloh. Hanya Alloh yang berhak memberikan “ganjaran” bagi mereka yang bersalah maupun yang benar. Dunia hanya berfungsi sebagai proses menuju kekekalan yang abadi dengan berada dalam syurga-Nya. Karenanya dalam menentukan keadilan, maka manusia harus memulainya dari hati diri sendiri. Sebab hati merupakan penentu segala tindakan manusia. Baik dan benar, salah dan jahat, hanya hati individu manusia lah yang mampu memberikan penilaian tersebut, termasuk pada konsep keadilan. Hati adalah ukuran tepat dalam menentukan keadilan.

Mahfudz MD, seorang pakar ilmu hukum sekaligus ketua Mahkamah Konstitusi Indonesia pun berpendapat demikian. Hanya hati yang mampu mengontrol kesaksian manusia di tiap-tiap pengadilan dunia. Sebab ia tahu benar bahwa manusia hanya berhak dan sanggup berijtihad dalam menentukan kebenaran di pengadilan. Sedangkan kebenaran yang sesungguhnya hanya Dia lah yang tahu. Terdapat dalam suatu riwayat bahwa apabila hakim berijtihad dan benar maka baginya adalah dua pahala dan bagi hakim yang salah dalam ijtihadnya maka baginya satu pahala.

Jadi, yang terpenting dalam suatu kasus, baik yang disandingkan dalam pengadilan maupun tidak adalah bukan berhenti pada menang atau kalah. Sebab jika hanya berhenti pada titik tersebut maka kiranya dengan menggunakan pengacara handal yang mampu berkelit lidah itu sudah cukup, mengingat “praktek-praktek nakal” kerap terjadi di beberapa meja hijau dunia.

Hal ini tentu sangat berbeda dengan keadilan di akhirat. Di mana mulut manusia terkunci dengan rapat. Tak ada yang memberikan kesaksian selain seluruh anggota tubuhnya. Tak ada seorang pun yang mampu menolongnya, baik isteri, anak, keluarga, sahabat bahkan pengacara. Sebab jika akhirat tersedia pengacara, maka cukuplah kiranya amal individu tak berfungsi sedikitpun. Inilah pengadilan di yaumil mizan. Pengadilan yang sesungguhnya diperuntukkan bagi seluruh manusia di alam ini.

Sebagai kaum Muslimin, kita patut bersyukur. Sebab Alloh memberi jaminan bahwa yang berhak mendapat pertolongan dan amalnya tidak terputus hingga meninggal dunia adalah mereka yang “bukan berharta”, melainkan mereka yang berilmu sekaligus mengamalkannya. “Ketika anak cucu Adam meninggal, maka amalnya akan terputus kecuali tiga perkara; shodaqoh jariyah atau ilmu yang bermanfaat atau anak sholeh yang mendoakannya. (HR. Muslim, dari riwayat Abu Huroiroh).

Kasus beragam yang terjadi dan sengaja diboomingkan oleh beberapa media, khususnya di Indonesia tampaknya tidak akan pernah selesai. Sebab jika satu hal telah diputuskan palu pengadilan, maka selanjutnya si tersangka pun dapat melakukan banding dan seterusnya. Tiada hal lain yang dapat menghentikan ini kecuali hati nurani. Tak heran jika “orang kecil” yang tersandung kasus pengadilan selalu berkata “Andai aku jadi Gayus”, “Orang miskin akan kekal di penjara, namun orang kaya dapat bertamasya ke luar negeri dengan rupiahnya.”

Subhanalloh, inilah realitas yang terjadi di tengah-tengah masyarakat kita. Hukum dapat diperjualbelikan. Hukum dapat ditawar. Dan hukum dapat dimainkan. Karenanya, syarat utama bagi orang-orang yang duduk dalam kursi pengadilan seharusnya mereka yang punya hati nurani. Dari sini keadilan didapat. Dari sini keadilan dapat teralisasikan. Mungkinkah pencuri tiga buah kakau dihukum sama dengan pencuri trilyunan uang negara? Tentu tidak. Hati nurani lah yang bergerak.

Mungkin si pencuri tiga buah kakau melakukan hal haram ini dikarenakan kebutuhan perutnya yang sudah tidak bisa tertolong lagi. Lantas, bagaimana dengan pencuri uang negara yang berjumlah trilyunan itu? Tentu mereka melakukannya bukan karena kelaparan, melainkan karena kerakusan dan ketidakpuasan atas hal yang sudah berada di tangan mereka. Naudzubillah tsumma naudzubillah.

Selanjutnya, pengadilan yang sebenarnya bukan hanya berhenti pada vonis hakim tentang berapa lama si tersangka mendekam dalam penjara, namun hal yang paling pokok dalam suatu keadilan adalah bagaimana pembinaan keimanan mereka setelah keluar dari penjara.  Pembinaan taraf ekonomi bagi orang-orang yang tersandung kasus kekurangan ekonomi. Pembinaan spiritaulitas bagi orang-orang yang tersandung kasus “miskin iman”. Hal ini dilakukan guna memperbaiki kondisi masyarakat agar mereka berubah menjadi baik, sesuai dengan aturan agama dan negara, tidak terulang lagi kejadian yang serupa atau lebih buruk. Ini merupakan proses yang patut diperhatikan juga oleh negara.

Alloh SWT selalu menyuruh kita untuk selalu menegakkan keadilan. Sebagaimana firman-Nya “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Alloh, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Alloh, sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. al Maidah: 8)

Dalam ayat di atas disebutkan bahwa keadilan harus ditegakkan bagi siapa saja, baik Muslim maupun non-Muslim, tidak berpihak pada salah satu golongan dikarenakan kebencian dsb. Berbuat adil karena Alloh, bukan karena ada hubungan keluarga ataupun kekerabatan. Hal yang membedakan antara Muslim dengan non-Muslim dalam berbuat adil adalah pahala. Bagi Muslim, ketika berbuat adil, maka akan mendekatkannya pada taqwa, sedangkan bagi non-Muslim, dicukupkan baginya suatu kebaikan, sebab Alloh Maha Tahu apa yang  hamba-Nya kerjakan.

Semoga kita semua termasuk hamba-Nya yang mampu mendekati “sikap keadilan” melalui hati yang diamanahkan Alloh SWT. Mudah-mudahan juga kita tidak terjebak pada hukum dunia yang secara nyata lebih kecil jangkauannya dibandingkan dengan hukum akhirat.” Amiin.*

 

*Ditulis oleh Lina Sellin, dan pernah dimuat di Tabloid Robithoh

(Silakan meng-copy, asal menyertakan sumber)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s