PENGAMAT BUKAN PELAKU-PENONTON BUKAN PEMAIN

Standar

PENGAMAT BUKAN PELAKU-PENONTON BUKAN PEMAIN

Oleh: Lina

Gajah di pelupuk mata tak terlihat, semut di sebrang laut terlihat. Inilah salah satu  pribahasa yang pas untuk dianalogikan pada kondisi bangsa kita saat ini. Orang-orang ramai membicarakan dan membahas perihal kekurangan dari seorang pimpinan negara (presiden) yang sekaligus merupakan icon Indonesia. Mereka menuntut segala sesuatunya agar berjalan instan dan kun fa yakun tanpa mau tahu kondisi bangsa dan kapasitas manusia yang memang tidak akan pernah bisa sempurna sampai kapanpun.

Kita semua tahu bahwa merubah negara menjadi lebih baik, tentu tak semudah membalikkan telapak tangan. Semua butuh proses dan penuh stratak (strategi dan taktik) yang matang. Berbagai “bendera” pun muncul mengatasnamakan “demi menyelamatkan” bangsa. Apa yang akan diselamatkan? Pergantian pimpinan yang tidak seimbang justru akan membuat kondisi semakin tidak stabil. Arus politik ikut tidak terkendali dan  pengeluaran negara bertambah banyak dikarenakan pemilihan pimpinan kembali yang kurang efektif dan beulang-ulang. Hal ini dapat mengakibatkan roda ekonomi tak berjalan sesuai yang diharapkan.

Koalisi yang dikatakan mereka (orang-orang partai) sebagai dukungan dan alternatif untuk bergabung dengan sang icon number one guna memajukan bangsa itu, justru seolah berdiri sendiri-sendiri. Mereka berdiri atas kepentingan bendera partai yang telah men-duduk-kan-nya pada kursi-kursi kepemerintahan sebagai alasan untuk balas budi. Ruang-ruang kebangsaan seolah sepi dari gelora nasionalisme. Virus individualisme pun muncul sebagai penggantinya. Padahal, Indonesia menganut politik Pancasila. Artinya tidak berpihak pada salah satu golongan dan tidak mengenal politik balas budi seperti yang diajukan Jepang pada saat Negri kita belum merdeka. Lantas, jika pun politik balas budi terjadi, sebenarnya mereka pendukung atau malah menjadi penghalang bagi kemajuan Indonesia?

Benar, pada dasarnya di dunia ini tak akan lepas dari apa yang dinamakan perbedaan. Bahkan Rosul pun mengatakan dalam salah satu haditsnya bahwa perbedaan merupakan rahmat. Perbedaan merupakan dinamika kehidupan. Perbedaan bukan berarti menyuruh untuk saling membenci dan mencaci orang lain yang berbeda pandangan, kelompok atau beda agama. Tapi, perbedaan harus disikapi dengan bijak dan legowo. Perbedaan yang dapat menjadikan kehadirannya rahmat adalah perbedaan yang dapat mempersatukan hal yang terpisah. Menyatukan berbagai suku atas satu nama ke bhineka tunggal ika-an yaitu bangsa Indonesia.

Pengamat memang bukan pelaku, penonton memang bukan pemain. Orang-orang menghujat dan mengkritisi dengan lantang segala hal yang dilakukan para pemimpin, termasuk Presiden. Sekecil apapun kealfaannya selalu menjadi topik terhangat di berbagai media. Tampaknya, kita lupa bahwa “lupa” adalah bagian dari fitrah manusia “Manusia adalah tempatnya salah dan lupa” (al Hadits). Oleh karena itu Islam hadir di muka bumi ini tiada lain untuk mengingatkan manusia tentang kebenaran. Islam tidak pernah memaksa manusia untuk ikut ke dalam risalah Muhammad saw. Islam tidak menghendaki kekerasan, baik kekerasan dalam hal ucapan maupunn tindakan. Sebaliknya, Islam mengajarkan kedamaian “as Sulhu Khoir” (damai itu indah). Islam selalu berperilaku lembut terhadap penganutnya. Pantaslah bila Islam pun dikatakan sebagai Rohmatan lil ‘Alamain.

Sebagai pimpinan negara, pasti akan berusaha menempatkan diri pada porsi yang semaksimal mungkin. Melakukan hal yang terbaik bagi bangsa yang dipimpinnya. Dan karenanya, jika ia lupa, maka kewajiban kita mengingatkan. Jika ada yang kurang dalam tindakannya, maka kewajiban kita menambahkan. Bukan malah mengkritisi tanpa memberikan solusi. Mengomentari segala hal yang diperbuat sang pemimpin tanpa ikut membantu dan mendoakannya (usaha dan berdoa).

Kewajiban kita sebagai warga negara adalah membantunya memecahkan problema yang sedang melanda bangsa. Ikut menjadi pelaku pembangunan itu lebih baik daripada hanya bertindak sebagai pengamat. Ikut menjadi pemain dalam lapang yang luas lebih baik daripada hanya menjadi penonton di tribun yang pasif atau jika aktif, malah kebablasan. Atau berusaha dahulu secara maksimal. Artinya, hendaklah introspeksi diri. Jangan menuntut kepada orang lain secara berlebih. Perlu diingat, kewajiban manusia sebagai hamba Alloh SWT selain berusaha maksimal, juga berdoa kepada Sang Pencipta, bukan meminta pada orang lain, sehingga kita dapat berperan sesuai fungsinya masing-masing.

Jika DPR berfungsi sebagai pengawas pemerintahan, maka awasilah dengan cara yang baik. Berlaku adil pada seluruh golongan dan berjuanglah untuk bangsa, bukan hanya untuk perut sendiri atau golongan. Mengawasi pada hakikatnya bukan hanya melihat kecacatan pemerintah, namun juga mencari solusi dari permasalahan yang ada, seperti dengan mengusulkan Undang-Undang yang kemudian nanti dirapatkan dalam sidang DPR. Semua hal harus diperjuangkan untuk rakyat tanpa terkecuali.

Bagaimanapun juga, seorang pemimpin merupakan wakil Tuhan bagi hamba-Nya di bumi ini. Karenanya kita pun wajib mentaati perintah dan kebijakannya selagi tidak menyeleweng dari al Qur-an dan Hadits. Sebagaimana tercantum dalam firman-Nya “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Alloh dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Alloh (Al Quran) dan Rosul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Alloh dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. an-Nisa: 59)

Sedangkan cara menyeru kepada jalan Tuhan (kebenaran) yaitu dengan cara yang baik dan hikmah atau bijaksana, begitu pula jika ingin membantah suatu kebijakan, maka tetap harus dilakukan dengan cara yang baik. Inilah ajaran Islam yang sesungguhnya. Alloh SWT berfirman: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmahdan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. an-Nahl: 125).

Rosululloh saw bersabda, “Barangsiapa yang ingin menasihati penguasa, janganlah melakukannya terang-terangan. Namun, hendaklah dia menasihatinya secara sembunyi-sembunyi. Jika (nasihat) diterima, maka itulah yang diharapkan. Namun, jika tidak diterima, maka dia (si pemberi nasihat) telah menunaikan kewajibannya.” (HR Imam Ahmad dalam Al-Musnad, vol: 3, halaman: 403-404, no: 15.369; Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah, dll.). Begitu pula dalam kitab As-Sail Al-Jarrar, vol: 4, halaman: 556, Imam Asy-Syaukani berkata, “Orang yang melihat kesalahan seorang pemimpin dalam beberapa masalah, maka hendaklah dia memberikan nasihat kepadanya dengan cara tidak menampakkan kejelekannya di depannya dan di depan khalayak”.

Jadi, kita sebagai penonton atau pengamat tidak seharusnya menjudge negatif seseorang, baik itu pemimpinn maupun masyarakat biasa. Sebab perbuatan ini dapat mengarah pada perbuatan prasangka dan akhirnya menjadi fitnah. Sedangkan Alloh SWT sangat melarang keras perbuatan-perbuatan ini. Karena akibat yang ditimbulkan dari prasangka dan fitnah bukan hanya pada diri sendiri, namun dapat berakibat fatal pada orang lain pula.

Pengamat, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai seseorang yang berusaha mengamati sesuatu. Dalam definisi tersebut disebutkan kata “berusaha”, sehingga untuk menjadi seorang pengamat pun tidak mudah. Tidak asal bicara. Ia harus memiliki kecakapan di bidang yang sedang diamati. Ia juga harus bijaksana. Artinya Ia  harus “bersih” dari segala hal, terutama bersih dari bendera apapun. Ia harus berlaku adil dan tidak mendukung atau menolak kehadiran bendera-bendera yang ada. Sebab jika ini terjadi, maka pengamat secara langsung maupun tidak telah memaksakan pendapatnya sendiri, dan jika apa yang telah diprediksi oleh pengamat itu salah atau berbeda di lapangan, maka pada hakikatnya ini pun telah mengedepankan suudzon (berprasangka buruk). Padahal Islam sangat melarang dengan keras perbuatan mencela, berburuk sangka dan terlebih fitnah.

Alloh SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiridan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah imandan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.  (QS. Al Hujuroot: 11)

Dari ayat di atas dipaparkan pada kita semua agar menjauh dari sikap merendahkan orang lain, sebab yang ditertawakan atau direndahkan bisa jadi derajatnya lebih tinggi dibanding manusia yang menertawakan dan merendahkan itu. Jadi, seorang pengamat tidaklah punya kewenangan untuk merendahkan, mencela, menghina, dan mengedepankan unsur fitnah pada orang yang sedang diamati, sebab jika hal ini terjadi dan ternyata berbeda di lapangan atau tidak sesuai kenyataan, maka perbuatan ini dapat dikatakan sebagai fitnah. Sedangkan ftnah merupakan perbuatan yang dilarang oleh Alloh SWT. “Dan berbuat fitnahlebih besar (dosanya) daripada membunuh.” (QS. Al-Baqoroh: 217)

Selain itu, prediksi yang salah dapat menimbulkan prasangka buruk, dan berbuat prasangka dilarang oleh-Nya, sebab perbuatan ini tiada mengandung manfaat sedikitpun. Alloh SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Hujuroot: 12)

Juga, “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar. (Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Alloh adalah besar.  Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Alloh mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.” (QS. an-Nur: 11,15,19)

Dari ayat di atas, sudah cukup bagi kita bahwa menceritakan apalagi menjudge orang lain dengan keburukan merupakan suatu hal yang tidak dianjurkan oleh Islam. Bahkan jika ini terus  dilakukan maka fitnah lah yang akan mendekati mereka. Sementara kita tahu bahwa fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. Oleh karena itu, jika kita masih “bersih keras” menggugat orang yang dikira “melakukan kesalahan” dengan tanpa prosedur yang benar atau oleh orang yang tidak memiliki hak atas perilaku itu, maka secara sadar maupun tidak kita telah melakukan fitnah. Naudzu billah tsumma naudzubillah.

Semoga Alloh melindungi kita dari fitnah yang nampak maupun yang tersembunyi, serta mengampuni dosa-dosa kita, kedua orang tua dan para ulama kita. Semoga kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang mau bertindak dan bukan hanya menjadi pengamat atau penonton bagi bangsa kita. Tidak lupa pula semoga Alloh memberikan taufiqNya kepada para penguasa Muslim agar mereka memberikan yang terbaik bagi negeri dan rakyat mereka, dan lebih dari itu semoga Alloh menolong para penguasa Muslim tersebut untuk berhukum dengan al Qur-an dan Sunnah Nabi-Nya. Semoga Alloh memberikan sholawat dan salam-Nya kepada Nabi kita Muhammad saw, beserta keluarganya.  Amin.***

By: Sri Lina Qomariyah—Lina Sellin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s