SYARAT PERNIKAHAN KETIGA “CUKUP EKONOMI”

Standar

SYARAT PERNIKAHAN KETIGA

“CUKUP EKONOMI”

Oleh: Lina Sellin

Syarat pernikahan selanjutnya setelah baligh dan cukup pendidikan adalah cukup ekonomi. Syarat ini merupakan syarat ketiga ketika manusia akan melangkahkan hidupnya ke jenjang pernikahan. Sebab ekonomi merupakan penggerak dan penunjang kebahagiaan keluarga. Uang atau materi memang bukan segalanya, tapi disadari ataupun tidak segalanya tidak akan berjalan tanpa uang. Kebutuhan keluarga, kemapanan berumah tangga, pendidikan anak-anak dsb tentu harus dengan uang.

Cukup ekonomi dapat diartikan bahwa orang yang akan menikah seharusnya sudah siap dalam hal ekonomi. Memiliki peluang dan wawasan tersendiri yang berfungsi untuk membangun ekonomi keluarga dan tidak bertopang pada ekonomi orang tua. Terlebih lagi bagi seorang laki-laki yang sudah jelas harus siap menafkahi isteri dan anak-anaknya. Memberikan sandang, pangan, rumah, pendidikan dan jaminan kesehatan yang layak bagi mereka. Sedangkan bagi seorang perempuan atau calon isteri, hendaknya memiliki kemampuan yang cukup dalam hal menjaga dan mengatur perekonomian keluarga yang dihasilkan oleh suaminya. Hal ini dilakukan agar ekonomi keluarga dapat stabil.

Bagi seorang laki-laki ataupun perempuan yang sudah sangat ingin menikah, namun tidak mampu dalam persyaratan ini, maka tidak dianjurkan baginya untuk menikah dan alangkah baiknya mereda hasrat itu dengan puasa. Rasul saw bersabda: “Wahai sekalian para pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mampu ba’ah (mampu dengan berbagai macam persiapannya) hendaklah menikah, karena menikah lebih menundukkan pandangan, dan lebih menjaga kehormatan. Barangsiapa yang belum mampu menikah, hendaklah puasa karena puasa merupakan wijaa’ (pemutus syahwat) baginya” (HR. Bukhari 4/106 dan Muslim no. 1400 dari Ibnu Mas’ud), dan firman Allah SWT (yang artinya): “Dan kalau kalian puasa, itu lebih baik bagi kalian kalau kalian mengetahuinya” (QS. al-Baqarah: 184).

Apabila pernikahan tetap dilangsungkan dalam kondisi ekonomi kurang mencukupi, maka hubungan suami isteri cenderung dekat dengan pertengkaran atau perdebatan-perdebatan yang seharusnya tidak perlu diperdebatkan. Suami kerap tidak dianggap oleh sang isteri disebabkan ketidakmampuannya dalam mencukupi kebutuhan anak dan isteri.

Akhirnya, si isteri pun nekad mencari uang demi kelangsungan hidup anak-anaknya. Hal ini dapat mengakibatkan suami kerap dijadikan “pembantu” dalam rumah tangganya sendiri. Padahal, suami seharusnya menjadi pemimpin dalam rumah tangga. Suami adalah kendali dalam lingkup keluarga. Ia adalah penopang utama ekonomi. Anak dan isterinya merupakan tanggung jawabnya, yang bukan hanya berhenti pada tanggung jawab dunia namun juga akhirat.

Jika sudah begitu, tidak menutup kemungkinan isteri akan jadi bahan ekploitasi suami. Lihat saja betapa banyak perempuan dikirim ke luar negeri dikarenakan alasan ekonomi keluarga yang serba kekurangan. Bahkan tak jarang berujung pada perceraian. Isteri sibuk mencari nafkah, anak terlantar dan suami pun asik mencari pendamping lain. Bagaimanapun juga ekonomi merupakan tiang keluarga sakinah.

Oleh karena itu, siapapun yang ingin menikah hendaknya memperhatikan sejauh mana kecukupannya dalam hal baligh umur, baligh kedewasaan, baligh pendidikan dan juga baligh ekonomi. Semoga dengan bekal kedewasaan, cukup pendidikan dan cukup ekonomi, kita semua mampu menjadikan keluarga sebagai jalan menuju ridho dan syurga-Nya. Aamiin. ***

Boleh mengcopy, asal mencantumkan sumber link tulisan ini.

Sri Lina Qomariyah (Lina Sellin)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s