TIDAK SHOLAT = ISLAM KTP

Standar

TIDAK SHOLAT = ISLAM KTP

Oleh: Lina

Sinetron Islam KTP yang ditayangkan pada salah satu televisi swasta telah menarik simpati masyarakat Indonesia. Entah karena kondisi masyarakat Indonesia yang banyak mencantumkan agama Islam sebagai space agama yang dianut pada Kartu Tanda Penduduk (KTP), dengan melaksanakan segala hal yang diajarkan Islam atau karena Islam di Indonesia adalah “Islam KTP”,  yang dengan sengaja mencantumkan Islam sebagai agama yang dianut, namun pada kenyataannya ajaran Islam dikesampingkan.

Dalam hal ini ada dua kategori. Kategori pertama ialah mereka, para penganut Islam yang getol melaksanakan perintah Allah SWT. Kedua adalah mereka yang mengaku Islam dan tercantum dalam KTP penganut Islam tapi tidak melaksanakan perintah Allah SWT atau kalaupun dilaksanakan hanya sekedar “kumat-kumatan (Islam KTP)”.

Salah satu perintah Allah SWT yang bernilai tinggi namun terkadang dianggap remeh oleh manusia adalah shalat. Melihat realitas zaman sekarang, tak sedikit orang yang lebih mementingkan pekerjaan dan kesibukan lainnya dengan tanpa menghiraukan waktu-waktu shalat yang nyatanya sudah ditetapkan waktunya. Orang-orang seperti inilah yang dapat menggerogoti kokohnya Islam. Sebab shalat merupakan salah satu ibadah maqhdoh yang harus ditegakkan oleh seluruh kaum Muslim setiap hari.  Shalat merupakan tiang agama. Shalat merupakan amal yang paling pertama dinilai oleh Allah SWT di yaumil qiyamah. Amal yang menjadi ajaran para rasul sebelum Nabi Muhamad saw. Shalat pula merupakan wasiat terakhir Muhamad saw. Meninggalkannya merupakan dosa besar, sehingga ajaran yang harusnya paling pertama diajarkan kepada anak-anak (keluarga) adalah shalat. “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.” (QS. Thaha : 132)

Meninggalkan shalat adalah salah satu contoh mereka yang bangga dengan predikat “Islam KTP”, Islam sebagai alat duniawi. Jika yang terjadi poin pertama, yaitu Islam yang sesungguhnya (melakukan segala yang diperintahkan dan menjauhi segala yang dilarang), maka inilah keberhasilan Islam di bumi Nusantara. Akan tetapi jika yang terjadi malah sebaliknya, menjadikan Islam sebagai agama yang dianut tapi tidak melaksanakan yang diajarkan Islam, maka inilah musibah bagi bangsa Indonesia. Sebab sholat merupakan salah satu perintah Allah SWT yang diwajibkan kepada kaum Muslimin di seluruh dunia.

Selain itu, shalat mampu mencegah manusia dari hal yang keji dan mungkar (assolatu tanha ‘anil fakhsyai wal munkar). Shalat juga dapat mendekatkan hamba pada Kholiqnya. Shalat mampu menjadi cahaya penerang bagi kegelapan. Shalat adalah penentram jiwa, karena shalat merupakan rangkuman dari doa-doa yang seluruhnya merupakan sanjungan dan pujian kepada keagungan-Nya. Tak heran jika shalat adalah perintah yang paling utama dibekalkan pada manusia. “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. adz-Dzaariat: 56)

Shalat merupakan ibadah yang berbeda dari ibadah-ibadah lainnya, karena shalat merupakan ibadah istimewa, sebuah ibadah yang turun langsung kepada Rasul saw saat diisra’ dan dimi’raj-kan. Tidak hanya itu, shalat pun merangkum semua syariat dalam Islam, dalam shalat ada syahadat, zakat, maupun puasa. Dalam al Qur-an itu sendiri ketika disebutkan ayat perintah shalat, maka perintah zakat pun disebut. “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukulah beserta orang-orang yang ruku”. (QS. al Baqoroh: 43)

Shalat juga merupakan ibadah yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Semua harus melaksanakan. Jika tidak mampu berdiri, maka lakukanlah dengan duduk. Jika tidak mampu duduk, maka lakukanlah dengan berbaring. Lain halnya dengan ibadah-ibadah lain yang masih dapat ditawar seperti zakat bagi yang mampu, jika tidak mampu berarti tidak usah berzakat. Haji bagi yang mampu, jika tidak mampu maka jangan memaksakan. Begitu pula dengan perintah puasa.

Namun, tidak sedikit orang  yang memahami shalat hanya sebagai rutinitas melakukan kewajiban atau shalat yang dilakukan oleh manusia yang masih bangga dengan “Islam KTP-nya”, padahal dalam shalat terdapat hikmah yang lebih daripada itu. Dalam keadaan sedih, shalat hadir sebagai penawarnya. Pada-Nya lah kita berkeluh kesah. Pada-Nya lah kita memohon ampun. Oleh karena itu bagaimana posisi shalat dalam hati kita ituah yang mampu menjadi obat dan penentram jiwa manusia.

Rasul saw bersabda: “Yang pertama-tama dipertanyakan (diperhitungkan) terhadap seorang hamba pada hari kiamat dari amal perbuatannya adalah tentang shalatnya. Apabila shalatnya baik maka dia beruntung dan sukses. Apabila shalatnya buruk maka dia akan kecewa dan merugi” (HR. an-Nasa’I dan at-Turmudzi)

Berdasarkan hadits di atas, maka kedudukan shalat menjadi demikian penting bagi setiap Muslim. Kualitas amal shaleh dan ibadah lainnya menjadi kurang bermakna jika ibadah shalat seseorang tidak sempurna apalagi terabaikan sama sekali. Padahal Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. al Ankabut: 45)

Oleh karena itu, sesibuk apapun manusia dalam menjalankan tugasnya sebagai suami, isteri, anak, dan sebagainya, shalat tetap tidak boleh ditinggalkan. Shalat tidak boleh dilalaikan. Shalat harus tetap ditegakkan. “Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. at-Taubah: 18)

Mencari rizki, banting tulang, menguras tenaga, mencucurkan keringat untuk keluarga dengan cara yang halal merupakan ibadah. Semuanya mendapat nilai plus di hadapan Tuhan semesta alam, sebab semua ibadah bersifat utama dan shalat termasuk di dalamnya, bahkan menjadi penghulu dari segala jenis ibadah. Kalau shalatnya baik, maka baik juga ibadah yang lainnya.

Seorang Muslim yang sejati ibarat sebuah bangunan yang sempurna. Syahadat adalah pondasinya. Tiangnya adalah shalat. Bagaimana mau membangun rumah kalau tidak ada tiangnya. Bagaimana mau mengatakan penganut Islam tapi tidak mengamalkan ajarannya. Bagaimana dapat menjadi manusia yang sempurna tanpa melakukan shalat.  Artinya, kalau tidak melakukan shalat, maka ia tidak bisa melanjutkan unsur bangunan yang lain seperti dinding, atap dsb. Shalat pula ibarat kepala dan tubuh. Jika shalat ditegakkan, maka sempurnalah tubuhnya. Sebaliknya, jika shalat tidak ditegakkan, maka rapuhlah tubuhnya. Oleh karena itu, bagi siapapun yang mengaku Islam tapi tidak melaksanakan shalat, maka Islamnya hanya KTP dan bahkan lebih jauh lagi ia bukan termasuk Muslim, sebab tidak melaksanakan rukun Islam.

Mudah-mudahan kita semua termasuk hamba-Nya yang selalu taat menjalankan segala perintah dan menjauhi segala hal yang dilarang-Nya. Semoga Islam kita bukan hanya tercantum gagah di atas lembar KTP, namun juga mudah-mudahan tercantum indah dan kokoh di hati kita dengan melaksanakan rukun Islam yang benar. Amiin.***

Boleh mengcopy, asal mencantumkan sumber link tulisan ini.

Sri Lina Qomariyah (Lina Sellin)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s