Beda Ibadahnya Pebisnis, Pelayan dan Hamba yang bersyukur

Standar

Manusia diciptakan tiada lain untuk menjadi kholifah di bumi-Nya. Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt. dalam surat adz-Dzariat ayat 56: “Dan Aku (Allah) tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”. Artinya, tugas utama manusia adalah memberikan pelayanan kepada Allah Swt. dengan cara beribadah, baik ibadah maqdhoh maupun ghoiru maqdhoh. Dalam hal ini, imam Ali r.a membagi amalan ibadah kaum muslimin ke dalam tiga kategori.

Pertama, golongan orang yang beribadah karena mengharapkan sesuatu dari Allah Swt. Golongan itu dikategorikan sebagai ibadatut-tujjaar, ibadahnya pedagang. Dalam prinsip ekonomi, seseorang melakukan usaha dimaksudkan untuk mendapatkan untung. Jika perlu dengan pengorbanan yang sedikit mendapatkan hasil yang banyak. Demikian pula dalam hal ibadah, mereka pilih-pilih di antara ibadah yang paling banyak mendatangkan keuntungan.

Kedua adalah ibadatul-‘abid (ibadahnya seorang budak). Yaitumereka yang menjalankan rangkaian ibadah karena takut siksa Allah. Seorang budak baru mau bekerja jika ada “upah”. Jika upahnya besar, ia rajin. Sebaliknya jika upahnya biasa-biasa saja, ia cenderung bermalas-malasan. Bagi budak seperti ini kecenderungannya memilih yang wajib-wajib saja, sedangkan yang sunnah dikurangi.

Dari dua katagori di atas, ada sekelompok orang yang beribadah bukan karena menginginkan surga atau pahala, juga bukan karena takut ancaman Allah berupa siksa nereka. Kelompok ini beribadah kepada Allah semata-mata karena rasa syukurnya. Jika kepada mereka ditanyakan, seandainya tidak ada surga dan neraka, apakah tetap akan beribadah, dengan suara mantap mereka akan menjawab: Ya, saya akan tetap beribadah.

Suatu malam ‘Aisyah melihat suaminya, Rasulullah Saw. sedang asyik menjalankan shalat malam. Lama sekali beliau berdiri, ruku’ dan sujud. Manakala beliau berdoa bergemuruh dari dalam dadanya, bergetar seluruh badannya, dan tumpah seluruh air matanya. Malam itu Rasul benar-benar tenggelam dalam munajat kepada Allah Swt. Melihat hal itu ‘Aisyah merasa iba, kemudian bertanya, ‘Wahai, bukankah Anda seorang Rasul, kekasih Allah? Bukankah Anda seorang yang ma’shum, yang dihindarkan dari berbuat salah dan dosa? Bukankah Anda seorang yang segala doanya dikabulkan oleh Allah? Jika demikian, kenapa Anda bersusah-payah berdiri di malam hari sampai kakinya bengkak, menangis hingga matanya sembab?’

Rasul hanya menjawab pendek, ‘Tidak pantaskah jika aku menjadi hamba yang bersyukur?’

Subhanallah. Kualitas ibadah yang dijalani seseorang yang didorong oleh rasa syukurnya tentu sangat berbeda dengan kualitas ibadahnya bisnismen atau budak. Jika pebisnis beribadah sangat tergantung pada tebal tipisnya kantong, maka ibadahnya orang yang bersyukur tidak kenal situasi. Dalam segala kondisi, baik sedang sedih atau gembira, susah atau mudah, ia tetap menjalankan ibadah.

Mutu ibadahnya seorang budak sangat tergantung pada besar kecilnya upah, berat ringannya ancaman siksa, tapi bagi seorang yang beribadah didorong oleh manifestasi syukurnya, hal itu tidak menjadi masalah. Tanpa upah sedikitpun, ia tetap beribadah. Bahkan andaikata ia ditetapkan masuk neraka, ia tetap beribadah. Sehingga hatinya akan tentram dan tidak disibukkan dengan kegelisahan apakah amalannya bernilai rugi atau untung. Apakah ia akan masuk surga atau neraka. Tapi lebih kepada menjalankan ibadah sebaik-baiknya dengan tanpa pamrih, ikhlas, lillahita’ala. Ibadah dalam bentuk apapun akan terasa ringan dan nikmat. Kalau sudah ikhlas dan Allah Ridha, apa pun pasti akan diberikan kepada hamba-Nya. Inilah kategori ibadah yang ketiga. Nah, sudah termasuk kategori manakah amalan ibadah Anda?

 

*Ditulis oleh Lina Sellin, dan pernah dimuat di situs Mizan.com.

(Silakan meng-copy, asal menyertakan sumber)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s