Bosan? Hati-hati dengan Pikiran Anda!

Standar

Rasa bosan, penat, jenuh atau yang sering kita sebut juga dengan istilah BT (boring time) kerap kali menghampiri rutinitas keseharian hidup kita. Pagi pergi ke tempat kerja, pulang ke kediaman, makan, tidur dan kemudian tiba waktu pagi lagi, ke tempat kerja lagi dan begitulah seterusnya. Lama-kelamaan tubuh kita pun tidak ada bedanya dengan robot yang melakukan kegiatan sama di setiap detiknya. Bahkan, kita sering kali bertanya-tanya dalam diri “Mengapa kita harus merasa bosan? Bagaimana menghilangkan kebosanan itu?”

Ya, bosan pada dasarnya merupakan suatu kondisi di mana pikiran menginginkan perubahan, mendambakan sesuatu yang baru, dan menginginkan berhentinya rutinitas hidup dan keadaan yang monoton dari waktu ke waktu. Bosan juga terjadi karena apa yang kita lakukan hanya diukur berdasarkan atas kerja otot dan otak saja. Dengan kata lain tanpa adanya campur tangan hati. Sehingga, apa yang dilakukan hanyalah bernilai materi, tanpa mendatangkan kenikmatan dan kebahagiaan rohani. Oleh karena itu, cara untuk menghilangkan rasa bosan itu adalah dengan menikmati kebosanan itu sendiri.

Lantas, bagaimana kita menikmati kebosanan? Yaitu dengan mengubah cara kita dalam melakukan rutinitas itu. Misalkan, jika kita biasa membaca sambil duduk, cobalah untuk membaca sambil berbaring. Jikalau biasanya kita menjahit sambil duduk, cobalah kita lakukan dengan berdiri. Dan seterusnya. Hal ini sama pula halnya dengan rutinitas kita yang tidak pernah bosan makan nasi di setiap harinya. Kita tambahkan lauk pauk dan sayur mayur yang berbeda, nasi pun tak terasa bosan kita santap.

Namun, bagaimana jika itu semua sudah dilakukan, tapi masih saja kita merasa bosan? Lakukanlah segala rutinitas itu dengan memaknai setiap gerak langkah kita. Kita ubah cara berpikir kita, dari kerja untuk menghasilkan uang menjadi kerja yang dilakukan untuk memberikan manfaat bagi orang banyak. Dari berpikir “membosankan” menjadi berpikir “menceriakan”

Sebab segala sesuatu sebenarnya berasal dari pikiran kita sendiri. Jika yang kita pikirkan adalah kebosanan dan tanpa nilai guna (manfaat) bagi makhluk Allah yang lain, maka apa yang kita rasakan adalah membosankan. Begitu pula sebaliknya, jika yang kita pikirkan adalah keceriaan dan memaknainya dengan manfaat bagi kelangsungan peradaban makhluk di bumi ini, maka apa yang kita rasakan adalah keceriaan dan rasa kesyukuran.  Hal ini terjadi karena pikiran Anda tentang keceriaan berhasil mengalahkan pikiran Anda tentang kebosanan.

Segala sesuatu berasal dari pikiran. Berpikir bosan menyebabkan Anda bosan. Berpikir ceria menjadikan Anda ceria. Maka, hati-hati dengan pikiran Anda. “You are what you think”.

 

*Ditulis oleh Lina Sellin, dan pernah dimuat di situs Mizan.com.

(Silakan meng-copy, asal menyertakan sumber)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s