Jadi Ayah Asik? Why Not?

Standar

Di tengah-tengah kesibukan kerja. Di tengah-tengah hiruk pikuk menggalang kerjasama antar relasi bisnis. Di tengah-tengah perjalanan karir yang menyita waktu tidak sedikit. Apakah mungkin seorang laki-laki dewasa dapat menjadi ayah yang asyik dan menyenangkan bagi buah hatinya? Jawabannya, mengapa tidak? Caranya? Ubah Paradigma Anda. Paradigma apa saja yang mesti diubah? Ini dia jawabannya:

Pertama, berwibawa bukan berarti galak. Ya, paradigma bahwa galak merupakan salah satu cara agar seorang ayah terlihat dan terkesan berwibawa sudah telanjur bergulir di tengah-tengah masyarakat kita, khususnya di Indonesia. Seorang ayah mau tidak mau harus terlihat sangar dan menjaga jarak dengan buah hatinya yang tercinta. Bahkan, tak jarang para ayah ini mengeluarkan suara keras saat menasehati anaknya. Tentu saja hal ini tidak lain bertujuan agar sang ayah terlihat berwibawa. Padahal, cara seperti ini, justeru akan menimbulkan rasa takut sang anak terhadap ayahnya. Sehingga, anak mendengarkan nasehat ayahnya bukan karena ia mau mendengar dan menuruti kehendak sang ayah, melainkan karena rasa takut. Ketika rasa takut ini muncul, maka hal ini tentu saja akan mengganggu emosi anak yang seharusnya berkembang dengan penuh cinta dan kasih sayang.

Kedua, ayah tidak pernah salah. Paradigma ini merupakan turunan dari paradigma berwibawa dengan harus galak. Ayah harus terlihat sempurna dalam melakukan apapun. Kalau pun salah, dengan segala cara sang ayah berusaha menutupi kesalahannya itu, bahkan pantang untuk meminta maaf. Tujuannya, ya itu tadi, untuk menjaga kewibawaan seorang ayah. Padahal, kita tahu bahwa no body is  perfect. Tidak ada manusia yang sempurna. Termasuk menjadi seorang ayah. Akui diri Anda ketika kesalahan itu memang dilakukan. Kemudian, minta maaflah. Hal ini dilakukan tentu saja agar sang anak tidak meniru kesalahan yang telah Anda perbuat. Lebih utama lagi, sikap ini akan dapat menjaga keharmonisan dan kedekatan sang ayah dengan anaknya.

Ketiga, wilayah ayah bukan di rumah. Mitos atau paradigma bahwa ayah harus di luar rumah merupakan salah satu budaya patriarkhi. Yaitu, budaya yang memiliki pandangan bahwa kekuasaan atau penentu segala kebijakan rumah tangga terletak pada jalur ayah. Ayah harus bekerja di luar rumah. Sedangkan isteri atau ibu harus mengurusi keluarga di rumah, atau istilah lain 3 ur (sumur, dapur, kasur). Padahal Imam Nawawi, penulis terkenal kitab Riyadhus Shalihin, berkata bahwa “… Seorang ayah wajib menyertai anaknya ketika bermain sehingga ayah dapat mengarahkan anaknya ke jalan yang benar pada permainannya itu. Segala hal yang membingungkan sang anak dapat dihilangkan karena sang anak dapat menanyakannya langsung kepada sang ayah ….”.

Keempat, ayah tidak boleh menangis. Menangis atau meneteskan air mata biasanya pantang dilakukan oleh laki-laki. Terutama laki-laki dewasa di depan anak kecil atau buah hatinya. Padahal, tindakan menangis merupakan hal yang manusiawi. Artinya, jika seorang ayah berusaha mati-matian menahan tangisnya di saat air mata itu diperlukan, hal ini akan menghilangkan kepekaan sisi kemanusiaan pada sang anak. Ayah yang demikian justru terlihat kurang sensitif dan terkesan memiliki hati batu.

Oleh karena itu, menjadi ayah yang asyik itu tidak diperlukan sikap yang galak dan suara yang lantang. Tidak juga harus menutupi kesalahan demi menjaga wibawa. Atau pun bekerja terus menerus di luar rumah dan menghilangkan unsur kesensitifan sang ayah sebagai manusia dengan menahan jatuhnya air mata. Cukup posisikan diri Anda sebagai teman anak Anda saja. Teman anak Anda bermain. Gunakan kata-kata yang lembut dan penuh cinta. Sisipkan dalam permainan itu nilai-nilai yang akan Anda ajarkan. Pancarkan selalu energi dan emosi positif Anda untuk menjalin komunikasi dengan sang anak. Agar tercipta keluarga yang bahagia dengan menjadikan diri Anda sebagai ayah yang asyik. Selamat mencoba! (Lina/diolah dari buku Screaming-Free Parenting: Mengasuh Anak dengan Energi dan Emosi Positif)

 

*Ditulis oleh Lina Sellin, dan pernah dimuat di situs Mizan.com.

(Silakan meng-copy, asal menyertakan sumber)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s