Kurban Bagai Keping Mata Uang Antara Hablumminallah dan Hablumminannas

Standar

Hari raya Idul Adha atau sering pula disebut sebagai Idul Qurban, Idul Nahr, Idul Akbar dan Hari Raya Haji akan segera tiba. Yaitu pada 10 Dzulhijjah 1433 H atau dalam kalender Masehi tahun 2012 ini jatuh pada 26 Oktober. Artinya, sebentar lagi pesta daging kurban akan dimulai. Semua umat Islam di seluruh alam menyatu dalam lautan kegembiraan. Terutama bagi kaum fuqoro wal masakin yang jarang, atau bahkan tidak pernah merasakan nikmatnya masakan berbahan daging.

Betapa tidak, ditentukannya 10 Dzulhijjah sebagai hari raya Idul Adha ini merupakan tanda akan keberhasilan dan kemenangan umat Islam atas pengorbanan yang bukan hanya bernilai jasadiah, namun juga sudah meningkat memasuki tahap yang lebih besar dan tinggi, yaitu mengorbankan kesenangan diri dalam menunaikan ibadah haji dan melaksanakan kurban demi kecintaan sang hamba terhadap Rabb-nya. Itu pula yang menyebabkan hari raya ini mendapatkan predikat sebagai Idul Akbar.

Namun, tahukah Anda bahwa di balik munculnya nilai pengorbanan sang hamba terhadap Allah Swt. (hablum minallah), Idul Adha juga digunakan sebagai momen untuk menunjukkan solidaritas antar sesama manusia melalui pembagian daging kurban?

Ya, kurban pada dasarnya bagai keping mata uang. Yaitu antara pengaplikasian cinta hamba terhadap Rabb-nya, juga pengaplikasian cinta hamba antara sesamanya. Hubungan antara hamba dengan Allah adalah dengan pengorbanannya menjalankan perintah-Nya. Sedangkan hubungan antara hamba dengan sesama manusia adalah dengan membagi-bagikan daging kurban pada yang membutuhkan. Keduanya tak bisa dipisahkan. Itu sebabnya dalam salah satu ayat al-Quran disebutkan bahwa perintah kurban disandingkan dengan shalat. “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah.” (QS. Al-Kautsar: 2)

Artinya, jika Anda mengaku muslim, maka tunaikanlah shalat. Setelah Anda selesai melaksanakan perintah untuk mencintai Allah melalui shalat, maka laksanakanlah perintah berikutnya, yaitu mencintai sesama manusia. Salah satunya dengan berkurban, terutama bagi yang mampu. Dalam hal ini, orang yang berkurban, berarti telah memberi manfaat kepada orang sekitarnya. Orang yang berkurban telah memberikan kegembiraan kepada orang lain.

Berkurban tentu saja bukan untuk ria atau dipuji oleh orang lain, namun berkurban harus didasari atas keimanan dan ketakwaan, “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Hajj: 37) ? Selamat hari raya Idul Adha 1433 H.

*Ditulis oleh Lina Sellin, dan pernah dimuat di situs Mizan.com.

(Silakan meng-copy, asal menyertakan sumber)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s