Memandang Kematian Sebagai Jalan Menuju Kebahagiaan Sejati

Standar

Kematian adalah sesuatu yang pasti. Sesuatu yang akan menghampiri semua makhluk yang bernyawa. Kapan saja dan di mana saja. Tidak mengenal umur, jabatan, pendidikan atau pun embel-embel predikat keduniaan lainnya. Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt. dalam surat Ali Imron ayat 185 “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati”. Namun, tidak sedikit manusia yang merasa takut akan datangnya berita ini. Sehingga, kematian kerap dianggap sebagai suatu hal yang menyeramkan dan menakutkan.

Faktor penyebabnya pun beragam. Ada yang takut karena merasa tidak tahu harus melakukan apa nanti setelah mati. Ada pula yang takut karena merasa kehidupan di dunia akan lebih membuatnya bahagia dibandingkan dengan hidup di akhirat. Atau bisa jadi karena khawatir terhadap sanak saudara yang ditinggalkan. Padahal, kematian adalah satu-satunya jalan menuju puncak kebahagiaan bagi manusia, surga. Dari sinilah muncul paradigma yang optimis dan pesimis terhadap kematian dan kehidupan.

Stephen Covey berkata, paradigma itu mirip peta. Seandainya Anda mau berkunjung ke suatu wilayah yang ada di Negara Indonesia, tentu Anda harus menggunakan peta Negara Indonesia. Sebaliknya, jika  Anda mau ke Negara Indonesia tapi melihat peta Negara Malaysia, maka Anda pasti akan tersesat. Begitu pula dengan arah masa depan hidup kita, termasuk untuk mempersiapkan bekal di yaumil mizan kelak.

Jika yang dikehendaki surga, maka tetapkanlah dalam diri Anda peta menuju surga. Lakukan segala sesuatu sesuai dengan perintah Islam. Beribadahlah sesuai tuntunan Muhammad Saw. Berakhlaklah sesuai dengan akhlak yang rahmatan lil ‘alamain. Manfaatkan kehidupan ini dengan sebaik-baiknya untuk taat pada Allah Swt. Dan hati kita pun tak akan lagi disibukkan dengan ketakutan akan datangnya kematian.

Namun jika Anda tidak berada dalam kebenaran dan kebaikan, maka kematian pun akan menjadi malapetaka. Kematian akan menjadi musibah bagi orang yang mati tanpa membawa bekal yang cukup untuk kehidupan akhirat. Sebab kematian merupakan pintu gerbang untuk memasuki kebahagiaan abadi serta mendapatkan keadilan sejati. Karenanya, apa yang Anda tanam hari ini, itulah yang akan Anda petik hari esok. Jika Anda menanam kebaikan, maka yang Anda petik pasti kebaikan pula, “Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula). (QS. Ar-Rohman: 60)

Maka, kita harus tahu bahwa kematian merupakan fitrah manusia. Kematian merupakan satu-satunya jalan menuju Tuhan. Karenanya,  jika kita menginginkan surga, tentu tak ada jalan lain bagi kita untuk mengaplikasikan keimanan kita pada Tuhan. Sehingga, kematian bukan lagi menjadi sesuatu yang ditakutkan, melainkan kehadirannya akan menjadi sesuatu yang dirindukan. Sesuatu yang dapat mengantarkan kita pada surga yang indah lagi kekal, “Masukilah surga itu dengan aman, itulah hari kekekalan” (QS. Qaaf: 34). Tanpa lewat pintu kematian, manusia tidak akan pernah merasakan indahnya surga. Tanpa lewat gerbang kematian, manusia tidak akan merasakan nikmatnya bertemu dengan sang Pencipta. Jadi, sudahkah Anda memilih peta masa depan (untuk ke yaumil hisab) dengan benar?

 

*Ditulis oleh Lina Sellin, dan pernah dimuat di situs Mizan.com.

(Silakan meng-copy, asal menyertakan sumber)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s