Menjadi Sarjana, Tapi Sudahkan Keilmuan Anda di”sarjana”kan?

Standar

Di Indonesia, menjadi seorang sarjana merupakan kebanggaan tersendiri. Hal ini tentu saja dikarenakan dunia pendidikan kita yang masih tergolong mahal. Sehingga, nilai jual ijazah pun menjadi ikut mahal. Betapa tidak, saat akan mencalonkan diri menjadi seorang pemimpin (baik skala kecil, daerah maupun nasional), maka orang-orang akan berlomba-lomba untuk mencantumkan gelar kesarjanaan itu. Tak masalah jika gelar itu berderet panjang dan menyempitkan baligho di jalanan. Lebih ironis lagi dengan adanya pemalsuan ijazah guna mendapatkan stempel orang terpelajar. Tak tanggung-tanggung, pemalsuan ini pun sampai menggunakan brand universitas di luar negeri.

Ya, menjadi sarjana dalam masyarakat kita memang memiliki kelas eksklusif dan lebih tinggi dibandingkan dengan di luar negeri. Orang yang bergelar sarjana biasanya akan lebih dihormati dan dihargai. Orang awam akan merundukkan punggungnya hanya untuk mendapatkan genggaman tangan sang sarjana. Namun permasalahannya adalah apakah sarjana ini benar-benar telah di“sarjana”kan? Benarkah mereka laik disebut sebagai “sarjana” hanya dengan memiliki selembar ijazah, dengan tanpa disertai akhak?

Pada dasarnya, sarjana memang selalu diidentikkan dengan banyaknya ilmu dan pengetahuan. 
Seorang sarjana kerap disandingkan dengan tumpukan buku dan nilai kritis yang tinggi. 
Sarjana seolah menjadi wakil Tuhan di bumi ini untuk mengayomi dan membantu kaum proletar dan sebangsanya. 
Namun, dengan bergulirnya waktu, makna sarjana ini pun mengalami penyempitan makna. 
Sarjana yang dielu-elukan keilmuannya, diagung-agungkan wawasan dan akhlaknya, 
kini dengan adanya penyempitan makna tersebut menjadikan meaning sarjana itu redup, bahkan hilang.

Sebagai contoh, menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Badan Kependudukan Nasional dan Keluarga Berencana (BKKBN), penelitian menunjukkan bahwa mahasiwi yang mengalami kehamilan sebelum pra nikah setiap tahun jumlahnya semakin bertambah, terlebih di kota-kota besar. Hal ini tentu saja menunjukkan betapa bobroknya moral generasi penerus bangsa ini.

 
Padahal, kedudukan orang berilmu ini banyak disebut al-Quran. 
Tentu saja dengan disertai posisi tingginya nilai ilmu, baik di dunia maupun kelak di akhirat. 
Namun, ironis jika pada kenyataannya ilmu tak dapat menuntut si pencari ilmu pada suatu keimanan (baca: akhlak). 
Sebab, apalah guna ilmu jika tanpa disertai akhlak. Baik akhlak terhadap sesama manusia  (hablum minannas), 
akhlak dengan alam (hablum minal ‘alam) maupun akhlak manusia dengan Tuhan (hablum minallah). Sebab, mau tak mau ilmu ini telah Tuhan sandingkan sejajar dengan keimanan. 
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Qs. Al-Mujadilah: 11). 

Begitu pun sebaliknya. Jika iman tanpa ilmu, maka terjerumuslah ia. Sebagaimana kisah ahli ibadah beribu tahun lalu, Ki Barseso. 
Konon, selama hidupnya ia tidak pernah melakukan dosa. Segala waktunya dihabiskan untuk beribadah. Namun, dikarenakan dangkalnya ilmu yang ia miliki, 
akhirnya ia pun harus mati dalam kondisi kafir. Naudzu billah.
 

Ini  menunjukkan bahwa iman, ilmu dan amal merupkan tiga rangkaian ibadah yang tidak bisa dilepaskan. Masing-masing memiliki peran yang saling terkait ibarat bangunan sebuah rumah. Semuanya saling mendukung dan tidak bisa berdiri sendiri. Iman tanpa ilmu akan tersesat. Karena ilmu adalah penerang bagi setiap manusia. Berilmu tanpa beriman pun akan sia-sia, Karena ilmu dapat menjadi penerang dan dapat juga menjadi penyesat. Ilmu bagaikan pisau. Apabila digunakan untuk hal yang bermanfaat, maka pisau itu dapat berguna, begitu pula sebaliknya, jika pisau digunakan untuk membunuh maka hal buruk itu yang akan menimpanya. Iman dan ilmu tanpa amal juga percuma. Apalah artinya jika orang pandai dan beriman, namun tidak mengamalkannya. Tentunya bagaikan pohon tanpa buah. Maka, sudahkah keilmuan yang Anda miliki itu di“sarjana”kan?

 

*Ditulis oleh Lina Sellin, dan pernah dimuat di situs Mizan.com.

(Silakan meng-copy, asal menyertakan sumber)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s