Pahlawan Masa Kini, dimulai Diri Sendiri

Standar

10 November merupakan hari istimewa yang dijadikan momentum bagi bangsa Indonesia, guna mengenang jasa para pahlawan atau yang dikenal dengan Hari Pahlawan. Ya, mengingat pada hari ini telah terjadi peristiwa besar antara  pihak Tentara Keamanan Rakyat (TKR), masyarakat sipil, pemuda (yang dimotori oleh Bung Tomo) dan tokoh-tokoh agama dengan pasukan Belanda di Surabaya. Perang yang berlangsung selama tiga minggu ini telah memakan korban ribuan orang dari pihak Indonesia dan sekutu. Tujuannya untuk mengusir penjajah dari bumi nusantara pasca kemerdekaan. Sehingga, pantaslah jika pada hari ini Presiden Soekarno sebagai pemangku jabatan kala itu menetapkan 10 November sebagai Hari Pahlawan.

Namun, bagaimana kita harus bersikap agar dapat membalas jasa para pahlawan? Apakah cukup dengan sebatas perayaan seremonial? Adakah pahlawan di masa kini? Siapa? Atas dasar apa kita menganugerahi “dia” sebagai pahlawan setelah kolonialisme usai diberangus?

Pahlawan masa kini tiada lain adalah sosok diri Anda. Ya, Anda yang sedang menyetir arah laju suatu bangsa. Anda yang sedang memangku tanggung jawab sebagai khalifah fil ardh. Anda yang  tidak menuding kesalahan orang lain sebagai penyebab dari hancurnya suatu bangsa. Anda yang di dalamnya tercermin akhlak mahmudah atau madzmumah sebagai penentu dari keberlangsungan cita-cita luhur para pahlawan. Anda, sesosok makhluk hidup yang memiliki dua ratus milyar sel otak.

Rasul Saw. bersabda: “Ketahuilah! Masing-masing kamu adalah pemimpin, dan masing-masing kamu akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpin” (HR. Muttafaq ‘Alaih). Artinya, setiap manusia adalah pemimpin. Dengan kepemimpinannya itu, mengakibatkan setiap diri Anda bisa menjadi pahlawan atau sebaliknya, bukan hanya untuk kalangan terdekat seperti keluarga, kerabat, teman, dan lain-lain. Tetapi juga dapat berimplikasi pada masyarakat luas, bahkan bangsa dan dunia.

Sebagai contoh, ketika kita melihat orang lain membuang sampah di jalanan, kita sadar bahwa hal itu merupakan tindakan yang kurang baik, maka sudah seharusnya kita pun tidak melakukan hal yang sama. Sehingga, diawali dari kesadaran sosok diri yang tidak membuang sampah sembarangan, bisa membuat lingkungan jadi bersih. Seandainya sosok diri ini terhimpun dalam kesadaran yang sama, bahwa ibda bi nafsik, memulai segala sesuatu dari diri sendiri, maka coba Anda bayangkan berapa banyak orang yang akhirnya tidak membuang sampah secara sembrono. Dan ini akan berimplikasi besar bagi keberlangsungan makhluk hidup secara luas di dunia. Ini hanya contoh kecil dari kesadaran dalam hal membuang sampah. Bagaimana jika kesadaran itu tercermin dalam sikap yang lebih luas, seperti sikap anti korupsi, sikap anti kekerasan, dan lain sebagainya. Bisa dibayangkan betapa damainya hidup ini dengan konsep “ibda bi nafsik”.

Jadi, mereka yang memulai segala kebaikan atas dasar kesadaran diri inilah yang patut diacungi jempol. Merekalah pahlawan, baik di masa lalu, kini dan nanti. Karena dengan kesadaran diri ini, mereka dapat mengubah diri, keluarga, bangsa, bahkan dunia menjadi lebih baik. Bukankah gelar pahlawan diberikan pada orang-orang yang telah berani mengubah sesuatu yang dinilai buruk menjadi sesuatu yang lebih baik? Bukankah seorang pahlawan adalah mereka yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran? Mereka yang berjuang demi kebaikan secara gagah berani? Dan, bukankah membuang sampah pada tempatnya, berlaku jujur, bersikap tepo sliro, menaklukkan ego diri ini dibutuhkan keberanian yang sangat besar? Begitu pula saat negara ini merdeka. Jika bukan karena memulai segala keberanian itu dalam diri, maka yang akan terjadi bukanlah kemerdekaan. Melainkan saling tuding, saling ejek, dan sebagainya.  Karenanya, marilah kita mengubah diri kita sendiri menjadi sosok manusia yang lebih baik dan bertanggung jawab. Sehingga, kita dapat mengubah dunia menjadi lebih baik. Inilah pahlawan yang sesungguhnya. Ubah diri, lalu ubahlah dunia. “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sebelum mereka (kaum tersebut) mengubah diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 79)

 

*Ditulis oleh Lina Sellin, dan pernah dimuat di situs Mizan.com.

(Silakan meng-copy, asal menyertakan sumber)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s