Refleksi Perintah Kurban: Sudah Sejauh Mana Pengorbanan Anda untuk Sang Pencipta?

Standar

Mendengar, membaca serta melihat pengalaman orang-orang yang sudah berhasil melewati kesusahan, kesedihan, kekurangan, pengorbanan dengan penuh kerja keras dan semangat juang tinggi hingga akhirnya mencapai kesuksesan dan kebahagiaan, tentunya mampu membuat kita terkesima, bahkan membuat bulu kuduk merinding dan kemudian secara sadar ataupun tidak, kita berkaca pada diri sendiri. Sudah sejauh mana perjuangan, kerja keras dan pengorbanan kita untuk bisa meraih kebahagiaan sejati? Kebahagiaan yang hanya bisa didapatkan ketika seluruh pengorbanan dan kerja keras diperuntukkan bagi Rabb sang maha memiliki (lillahi ta’ala).

Ya, pengalaman yang dikisahkan memang memiliki daya tarik yang dapat memotivasi dan memengaruhi kehidupan pribadi seseorang. Ulama menyebutnya dengan jundullah atau tentara Allah, “Al-qashashu junudullah, kisah adalah tentaranya Allah.”  Begitu pula tertera dalam Al-Quran bahwa “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Yusuf: 111).

Oleh karenanya, Al-Quran banyak sekali mengisahkan segala peristiwa masa lalu. Tujuannya adalah untuk dapat diambil pelajaran. Salah satunya yaitu kisah keberhasilan Ibrahim as. yang telah sukses melewati tahapan keimanan dari pengorbanannya dalam mencintai Tuhan-nya melalui perintah kurban.

Ibrahim as. mendapatkan wahyu untuk menyembelih putranya sendiri, yaitu Ismail as. Putra yang ditunggu-tunggu selama bertahun-tahun lamanya. Putra yang pastinya amat dicintai. Di sinilah Allah menguji kesetiaan Ibrahim akan perintah Tuhannya. Dituntut untuk memilih antara mempertahankan buah hati atau melaksanakan perintah Allah. Sungguh, pilihan yang berat. Namun, karena ketakwaan dan kecintaannya pada Allah melebihi segalanya, akhirnya Ibrahim pun memilih untuk melaksanakan perintah-Nya. Walau kemudian Ismail as. digantikan dengan seekor hewan kurban.

Segala pengorbanan memang tidak mudah, bahkan kerap kali harus memilih salah satu di antara dua pilihan yang sulit. Namun, seperti sebuah ungkapan yang sudah tidak asing lagi di telinga kita bahwa, “harga tidak berbohong” atau “harga menentukan kualitas sebuah produk”. Ungkapan itu memang tidak salah. Semakin tinggi harganya, kualitasnya juga semakin baik.  Semakin besar pengorbanan yang kita berikan, semakin besar pula nilai yang kita peroleh. Atau seperti ungkapan Arab, “man jadda wa jada wa man zaro a hashad”

Begitu pula dengan pengorbanan yang dilakukan dengan kurban. Harta dan tenaga saja tidak cukup untuk melakukan kurban. Karena dalam hal ini, hanya dengan keimanan yang kuatlah, umat Islam dapat mengurbankan apa yang ia cinta. Seperti harta demi kecintaan dan ketundukannya pada perintah Allah Swt.

Sebagai contoh, betapa banyak orang yang mengaku muslim, memiliki harta berlimpah, namun enggan berkurban dikarenakan takut hartanya berkurang. Sebaliknya, orang yang memiliki harta pas-pasan rela menabung tahun demi tahun guna memenuhi perintah Tuhan semesta alam ini.  Tiada lain yang dapat menggerakkan hati mereka kecuali takwa dan rasa cintanya yang besar terhadap sang Khalik.

Besaran yang kita bayar, itulah yang kita dapat. Apa yang kita keluarkan itulah yang kita terima. Apa yang kita transmitt ke atas (Allah Swt.), itulah yang kita peroleh. Inilah hukum sunnatullah-Nya. Atau seperti prinsip kausalitas (hukum sebab akibat) yang dipelopori oleh Zain al Din Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali al Tusi al Nisaburi atau yang terkenal dengan nama imam al Ghazali. Artinya, setiap akibat memiliki sebab yang khusus untuknya, dan setiap sebab memiliki akibat yang khusus pula. Tidak mungkin suatu sebab muncul dari suatu sebab yang mana saja, atau muncul akibat mana saja.

Demikian juga dengan besarnya pengorbanan yang kita berikan pada Tuhan. Kita tidak akan mendapatkan sesuatu yang bernilai tinggi, jika apa yang kita korbankan bernilai rendah. Kita tidak akan memperoleh pahala atas janji Allah atas kurban, tanpa mau melakukan ibadah sunnah muakkad ini. “Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (QS. Ar-Rohman: 60)

Jadi, sudah sebesar apakah Anda membayar harga untuk mendapatkan kebahagiaan yang hakiki lewat perintah-Nya? Sudah sejauh manakah Anda rela berkorban untuk Dzat yang memberi segala kenikmatan? Sudahkah Anda berani melangkah menuju sikap mahabbah dengan berkurban? Selamat hari raya Idul Adha 1433 H.

 

*Ditulis oleh Lina Sellin, dan pernah dimuat di situs Mizan.com.

(Silakan meng-copy, asal menyertakan sumber)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s