Senang dan Bahagia Itu Beda

Standar

Dalam mengarungi dinamika kehidupan yang tentunya tak pernah henti dari masalah, pernahkah Anda merasa bahwa kebahagiaan itu sulit ditemukan? Pernahkan Anda berpikir bahwa kebahagiaan itu ada di tempat nun jauh di sana? Di pulau yang dipenuhi permata mungkin? Di tempat yang dipenuhi dengan keindahan alam barang kali? Atau kebahagiaan itu ada pada kendaraan mewah, rumah bagus, dan sebagainya yang bersifat materi?

Jika iya, maka Anda patut untuk waspada. Kenapa? Sebab, yang Anda maksud di atas adalah kesenangan, bukan kebahagiaan. Senang dan bahagia itu jelas berbeda. Senang lebih pada hal yang bersifat materi dan terlihat oleh panca indra manusia. Sedangkan bahagia ada di dalam hatimu. Ada di alam yang tak bisa kita lihat secara kasat mata. Sehingga, kebahagiaan pada hakikatnya ada di dalam diri Anda. Ada di dalam pikiran Anda. Selalu menempel ke mana pun Anda pergi.

Artinya, kebahagiaan itu bergantung pada diri Anda sendiri. Tidak terpaku pada orang atau hal lain, misalnya orang tua, keluarga, teman, harta, jabatan, dan sebagainya. Orang yang bergelimang harta, pendidikan tinggi dan memiliki jabatan kelas wahid, belum tentu merasakan kebahagiaan. Bisa jadi hidupnya dipenuhi oleh rasa was-was dan ketakutan. Sedangkan orang yang tinggal di gubuk kecil, makan pas-pasan, justeru merasa bahagia dan menikmati kehidupannya dengan penuh kesyukuran. Sehingga, ukuran bahagia pada dasarnya bukan pada materi yang dipunya. Melainkan ada pada cara Anda mensyukuri apa pun yang Tuhan beri. Bahagia ada pada cara Anda menilai dan mempersepsikan arti kebahagiaan itu sendiri.

Sebagai contoh, koruptor itu punya harta berlimpah. Membeli apa saja bisa. Mendapatkan uangnya pun mudah. Tidak perlu kerja hingga banting tulang. Tinggal lobi ke sana kemari, uang pun dengan mudah didapat. Ia bisa bersenang-senang keliling dunia dengan uang hasil korupsinya itu. Namun, dalam kondisi demikian (menipu rakyat, mendzolimi orang banyak, mencuri hak orang lain), dapat dipastikan hatinya akan terus gelisah. Sebab ia telah menjadi budak bagi hawa nafsunya yang kemudian menghilangkan sisi kebijaksanaan diri sebagai manusia. “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”. (QS. Al-A’raf: 179)

Sebaliknya, orang yang secara ekonomi terlihat serba pas-pasan, namun mencari dan mendapatkan rizki itu dengan cara yang halal dan baik, kemudian menyadari bahwa apa pun yang ia peroleh merupakan rizki pemberian Tuhan yang patut disyukuri, berpikir positif, dan mengupayakan dengan penuh kesungguhan untuk kebahagiaan jiwanya dengan tidak bergantung atas besar atau kecilnya, atas tinggi dan rendahnya jabatan, maka bahagia itu pun dapat diraihnya.

Jadi, bahagia itu pada dasarnya mudah dan sederhana. Kuncinya adalah dengan menyadari bahwa rasa itu adalah hak semua orang. Kebahagiaan itu milik semua orang. Kebahagiaan tidak memandang kaya atau miskin. Tidak memandang tingkat pendidikan. Tidak melihat perbedaan jenis kelamin, dan tidak hanya dimiliki oleh orang-orang yang memiliki jabatan tinggi. Semua orang dapat merasakannya. Semua orang dapat menikmatinya. Sehingga, cara merasakan dan menikmati akan hadirnya kebahagiaan itu tiada lain dengan mensyukuri atas apa yang sudah kita miliki. Bersyukur atas apa yang telah Tuhan karuniakan. Entah, apa pun bentuknya. Baik itu kesenangan maupun kesedihan. Itulah pemberian Tuhan yang patut disyukuri. Bersyukur bukan hanya berhenti pada sebuah konsep dan kata-kata belaka. Sebagaimana Abu Hudzaifah Al Atsari mengatakan bahwa syukur memiliki rukun yang pokok, yaitu pertama, mengakui dalam hati bahwa nikmat tersebut dari Allah Swt. Kedua, mengucapkannya dengan lisan. Dan ketiga menggunakan kenikmatan tersebut untuk menggapai ridha-Nya. Sudahkah Anda bersyukur hari ini?

 

*Ditulis oleh Lina Sellin, dan pernah dimuat di situs Mizan.com.

(Silakan meng-copy, asal menyertakan sumber)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s