No More Galau

Standar

Ibaratnya remaja itu adalah manusia yang sedang berjalan di titian tali temali. Di ujung titian itu ada sebuah jalan masa depan. Kalau kita enggak bisa melaluinya, jatuhlah kita dalam lubang kegagalan yang berkepanjangan. Kalau umur 1-8 tahun itu disebut anak golden age, umur 14-19 itu adalah masa-masa merawat emas itu. Kalau kita berhasil merawatnya, kita akan memasuki masa depan yang penuh gemilang. Kalau kita gagal merawatnya, sampai umur 30 tahun pun mungkin kita masih menjadi manusia yang labil (hlm. 3)

Inilah gambaran kedewasaan para remaja Indonesia yang coba dimaknai kembali oleh Achi T.M dengan tetap melihat batasan umur seseorang. Menurutnya, ada sebagian orang yang-meskipun umurnya seharusnya dewasa, malah bertindak tidak dewasa. Dan ada juga sebagian orang yang meskipun umurnya relatif muda, namun perilakunya jauh lebih dewasa. Hal ini ditentukan oleh tingkat kesadaran berpikirnya dalam melihat sesuatu. Jika masalah dilihat sebagai sesuatu hal yang negatif hingga akhirnya dianggap sebagai sesuatu yang memberatkan dan menjadi beban, maka akan mengakibatkan kegalauan yang berkepanjangan.

Sebaliknya, jika suatu masalah dilihat sebagai sesuatu hal yang dianggap positif dan kemudian berusaha diatasinya dengan baik, maka masalah tersebut justru akan terasa ringan dan kemudian mampu menjadikannya sebagai remaja yang memiliki masa depan cerah. Ingat, badai sekencang apapun pasti dapat diluluhkan dengan ketenangan. Hal ini sejalan dengan firman-Nya dalam surat Al-Baqarah ayat 286: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”.

Memang, kata galau sudah tidak asing lagi di telinga kita. Dari mulai publikasi di media elektronik hingga media cetak. Dari mulai tema iklan, sinetron, lagu dsb. Sasaran utama mereka tiada lain adalah para remaja. Padahal remaja merupakan tiang negara. Mereka lah penerus bangsa ini.  Mereka juga yang akan menentukan nasib bangsa. Jika aras berpikir remaja hancur, maka dapat dipastikan bangsa pun akan hancur. Tak dipungkiri bahwa ungkapan you are what you think adalah benar adanya. Kamu adalah apa yang kamu pikirkan. Karenanya, Achi T.M dengan bijak berusaha mengungkapkan sisi positif dari otak para remaja agar bisa selalu berpikir positif dan berkarya. Hidup kita yang sesungguhnya adalah pikiran kita.

Kata galau itu sendiri menurut KBBI adalah suatu keadaan pikiran yang  kacau dan tidak keruan. Karenanya,  galau pada dasarnya bukanlah menjadi momok yang menakutkan bagi remaja jika si remaja tersebut mampu mengenali perasaannya secara pribadi. Dengan begitu maka dapat dipastikan mereka dapat menyelesaikannya dengan baik. Segala problem hidup yang dapat menghentikan langkah remaja dalam berkarya pun diberantas habis dengan sikap yang bijak. Layaknya sebuah hadis “kenali dirimu, dan kau pun akan mengenali Tuhanmu”.  Achi T.M mengajak para remaja bukan hanya untuk berpikir positif saja, namun lebih pada pendekatan remaja dengan sang Tuhan. Rasa malas, merasa diasingkan, merasa tidak percaya diri, rasa kecewa, rasa marah, patah hati, merasa kehilangan, merasa tidak berguna dan sederet sebab munculnya rasa galau lainnya dapat diselesaikan dengan mudah jika berpikir positif dan dekat dengan Tuhan.

Berbagai macam rasa seperti yang disebutkan di atas adalah manusiawi. Dan memang tidak bisa dihilangkan secara sekaligus. Harus berproses dan butuh waktu. Namun, bukan berarti kita harus menunda-nunda dan berleha-leha dengan segudang masalah tersebut. Sebab yang terpenting dalam hal ini adalah niat. Apa yang bisa dilakukan detik ini, maka lakukanlah dengan segera. Niatkan semuanya dengan semangat diri. “Don’t put off until tomorrow what you can do today”.

Selanjutnya, buku ini juga termasuk unik. Dibentuk dengan dua model buku yang menarik. Dari depan, cover berwarna hijau muda dengan judul “No More Galau”. Di dalamnya berisi tentang berbagai macam sebab dan akibat bagi seseorang jika tidak bisa bersikap dewasa atau tidak bisa mengendalikan emosinya dan kemudian diberikan pula cara bagaimana mengobatinya. Sedangkan pada cover belakang, diberi warna ungu muda dengan judul “Dear Bunda Cuwiy”. Isinya tentang curhatan para remaja mengenai masalah-masalah yang sempat membuatnya galau. Sehingga, buku ini terkesan tidak ada cover depan maupun cover belakang. Sebab baik cover depan maupun cover belakang, masing-masing memiliki judul yang berbeda. Karenanya buku ini secara selintas akan terlihat seperti dua buku yang berbeda.

Lebih unik lagi, buku dicetak dengan tinta warna yang sama dengan cover masing-masing. Seperti cover yang berwarna hijau muda, maka tulisannya pun dicetak dengan warna hijau muda. Sedangkan cover yang berwarna ungu muda, tulisannya pun dicetak dengan warna ungu muda. Sehingga, buku ini benar-benar terkesan menjadi dua buku yang berbeda. Terlebih jumlah halamannya yang sengaja dipisahkan oleh penulis. Pada tulisan bercetak hijau muda memiliki halaman sebanyak 128. Sedangkan pada tulisan yang dicetak warna ungu muda memiliki jumlah halaman sebanyak 64.

Buku ini juga ditulis dengan gaya yang khas. Achi T.M (penulis No More Galau) dan Widuri Al Fath (penulis Dear Bunda Cuwiy) berusaha menyampaikan ulasan buku dengan bahasa yang ringan dan mudah dicerna oleh para remaja. Selain itu, buku ini dilengkapi dengan ilustrasi berbentuk cerita dan gambar. Sehingga, buku dapat dibaca dengan santai dan tidak menjenuhkan.

Sayangnya, penulis tidak menghadirkan semacam tata cara membaca buku ini yang memang sengaja disetting bolak-balik. Sehingga, orang yang baru pertama kali melihat buku ini akan terasa bingung dan tidak mengerti apa maksudnya, bahkan terkesan gak nyambung. Meskipun begitu, buku ini telah memberikan perspektif baru dalam mengembangkan kreatifitas remaja dalam membangun kepercayaan dirinya. Buku ini laik dan wajib dibaca buat seluruh remaja Indonesia.

 

*Ditulis oleh Lina Sellin, dan pernah dimuat di situs Mizan.com.

(Silakan meng-copy, asal menyertakan sumber)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s