Demonstrasi dalam Islam

Standar

Saat kita mendengar  kata demonstrasi, secara sadar maupun tidak, frame negatif tentangnya pasti akan tergambar jelas dalam benak kita. Hal ini dikarenakan dalam aksi, kerap  kali terjadi hal-hal anarkis yang pada dasarnya sangat tidak diinginkan.

Pada umumnya, itu merupakan kritikan atas kebijakan pemerintah. Demonstrasi seakan menjadi sebuah cara bagi orang lemah yang terbungkam untuk menyuarakan inspirasi kepada pihak yang kuat. Bahkan demontrasi dianggap sebagai salah satu cara paling efektif dalam menyuarakan kebenaran. Hal mendasar yang dialami oleh manusia di penjuru dunia, termasuk juga di Indonesia

Kemacetan lalu lintas dan kerusakan menjadi sebagian ciri demo. Tak hanya itu, kerap kali diiringi dengan luapan emosi, kemarahan, keegoisan bahkan mungkin dendam. Di Indonesia ciri demo seperti ini tampak sejak terjadinya aksi yang digelar mahasiswa seluruh Indonesia saat menurunkan Presiden Soeharto pada 1998 lalu.

Setelah peristiwa itu, demonstrasi selalu menjadi kejadian yang menghiasi berita-berita harian masyarakat Indonesia, termasuk  kejadian pada pekan lalu yang secara heboh menolak kedatangan Barack Obama sebagai presiden Amerika Serikat yang dianggap tidak pro terhadap kaum Muslim.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997), demonstrasi adalah pernyataan protes yang dikemukakan secara massal, baik protes itu ditujukan kepada seseorang maupun kelompok atau pemerintahan. Sedangkan kata demonstrasi dalam bahasa Arab menurut Faizin Muhith seorang mahasiswa pascasarjana Universitas Al-Azhar dan Mufti di Darul Ifta’ Mesir diterjemahkan dengan muzhaharat (demonstrasi) dan juga masirah (long-march).

Menurutnya, dua kata tersebut hampir mirip tetapi dalam pandangan Islam memiliki muatan hukum yang tidak sama. Jika yang pertama sering mendekati pada hukum haram (hurmah), tetapi yang kedua seakan sangat jelas dibolehkan (ibahah). Keduanya dibedakan dari tindakan-tindakan para demonstran ketika menyampaikan suara dan juga bentuk tuntutan atau protes itu sendiri. Secara singkat Islam membolehkan demonstrasi sepanjang tidak keluar dari koridor Al-Qur’an dan Hadis. Namun kalau kita perhatikan dalam surat An-Nahl ayat 125 yang berbunyi:

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS An-Nahl [16]: 125).

Dari ayat tersebut, jelas cara menyeru kepada jalan Tuhan (kebenaran) adalah dengan cara yang baik dan hikmah atau bijaksana. Begitu pula jika ingin membantah suatu kebijakan, maka tetap harus dilakukan dengan cara yang baik.

Dalam aksi demonstrasi, biasanya terdapat yel-yel yang berimplikasi pada penghinaan terhadap sesama manusia. Padahal dalam surat Al-Isra ayat 53 Allah SWT berfirman:

Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia. (QS Al-Isra [17]: ayat 53).

Selain itu, dalam surat Al-Baqarah ayat 11 Allah SWT berfirman:

Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi. (QS Al-Baqarah [2]: ayat 11).

Hal ini jelas menandakan bahwa Allah SWT tidak menginginkan hambanya membuat kerusakan seperti halnya dalam peristiwa demonstrasi yang sering terjadi di sekitar kita.

Rasulullah SAW bersabda :

Barang siapa yang ingin menasihati penguasa, janganlah melakukannya terang-terangan. Namun, hendaklah dia menasihatinya secara sembunyi-sembunyi. Jika (nasihat) diterima, maka itulah yang diharapkan. Namun, jika tidak diterima, maka dia (si pemberi nasihat) telah menunaikan kewajibannya. (HR Imam Ahmad dalam Al-Musnad, vol: 3, halaman: 403-404, no: 15.369; Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah, dll).

Begitu pula dalam kitab As-Sail Al-Jarrar, vol: 4, halaman: 556, Imam Asy-Syaukani berkata:

Orang yang melihat kesalahan seorang pemimpin dalam beberapa masalah, maka hendaklah dia memberikan nasihat kepadanya dengan cara tidak menampakkan kejelekannya di depannya dan di depan khalayak. (HR Imam Asy-Syaukani dalam kitab As-Sail Al-Jarrar, vol: 4, halaman: 556).

Kemudian tidak pernah pula kita dapati dalam sejarah masa Rasul SAW terjadi demonstrasi, karena pada hakikatnya demonstrasi dilatarbelakangi oleh matinya jalur penyampaian aspirasi atu buntunya metode dialog. Sedangkan, pada masa itu telingan Rasul khusus diperdengarkan untuk suara rakyatnya. Sehingga segala keluh kesah umatnya mampu tersampaikan dengan baik. Perbedaan pendapat antara Rasul dan pengikutnya tidak membuat hubungan mereka retak, bahkan mereka tetap hidup harmonis dalam perbedaannya itu.

Berdasarkan tulisan di atas, maka selain demonstrasi, ternyata ada cara yang lebih baik dan berasaskan pada saling menghormati yaitu dengan cara membuat tulisan-tulisan yang pastinya sangat bermanfaat bagi pembacanya. Selain itu, cara pendampingan, advokasi, public hearing, audiensi dengan pemerintah dan legislatif juga termasuk cara yang terbaik dibandingkan dengan aksi brutal yang nyatanya sangat merugikan semua belah pihak.

Namun, hanya Allah Yang Maha Tahu atas segala sesuatu yang kita lakukan. Semoga Allah melindungi diri kita dari fitnah yang Nampak maupun tersembunyi. Serta mengampuni dosa-dosa kita, kedua orang tua dan para ulama kita. Tidak lupa pula semoga Allah memberikan taufiq-Nya kepada para penguasa Muslim agar mereka memberikan yang terbaik bagi negeri dan rakyat mereka.Lebih dari itu semoga Allah menolong para penguasa Muslim tersebut untuk berhukum dengan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi-Nya. Semoga Allah memberikan shalawat dan salam-Nya kepada Nabi kita Muhammad SAW beserta keluarganya. Amin.

*) Ditulis oleh Lina Sellin, dan pernah dimuat di Majalah Suaka dan situs Suakaonline.

(Silakan meng-copy, asal menyertakan sumber)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s