Mari Rihlahkan Diri dengan “Think Muhammad“

Standar

Pada hakikatnya, dunia merupakan tempat untuk melakukan perjalanan panjang yang menyenangkan (tamasya) atau yang kita kenal dengan istilah rihlah. Betapa tidak, manusia sengaja diturunkan Tuhan ke dunia tidak lain untuk mendapatkan reward yang lebih membahagiakan di kemudian hari (syurga). Namun, untuk mendapatkan “hadiah” itu, sungguh tidaklah mudah. Ia harus melewati jalan yang berkelok, menanjak, menurun, atau bahkan harus terhenti sejenak dikarenakan kehabisan bekal atau kendaraan yang secara tiba-tiba mogok. Dalam kondisi demikian, terkadang kita merasa letih, haus, kelaparan, capek, atau bahkan mungkin sempat membuat kita putus asa dan menyerah.

Namun, tahukah Anda bahwa dalam kondisi terpuruk dan diliputi kesedihan, ternyata Tuhan menginginkan manusia untuk rihlah dari satu kondisi ke kondisi tertentu yang lebih baik, terutama iman. Sebagimana saat Rasul Saw. dirundung banyak kesedihan, ketika paman tercinta (Abu Tholib) dan istri tercinta (Khadijah) wafat. Beliau juga ditinggalkan oleh kaumnya di Mekah, dan mendapatkan cacian serta lemparan batu di Thaif, sehingga masa itu kita kenal dengan ‘Am al-Huzni (tahun kesedihan). Pada saat itu, Allah pun mengajaknya untuk melakukan rihlah, yaitu isra mi’raj.

Begitu pun dengan kita sebagai manusia biasa. Ia harus diturunkan ke bumi dan merasakan betapa banyak cobaan dan godaan. Sejak dilahirkan, hingga ajal menjemput. Bahkan, terkadang cobaan itu datang dari lingkungan terdekat kita, sosok diri yang “lupa” pada penciptanya, keluarga yang tidak taat, lingkungan sekitar yang jauh dari kebaikan, dan lain sebagainya. Tujuannya hanya satu, mendapat ridha Tuhan. Sehingga jika sudah begitu, maka syurga pun akan dihadiahkan padanya. Dengan penuh rasa bangga dan bahagia, kita telah berhasil melewati perjalanan yang melelahkan itu.

Ya, sedih itu wajar dan manusiawi. Namun, kesedihan pada dasarnya sengaja Tuhan kirimkan pada kita dengan tujuan untuk memperlihatkan tanda-tanda kebesaran-Nya guna meningkatkan tingkat keimanan sang hamba. Sebagaimana tertera dalam sebuah hadis qudsi “Pergilah pada hamba-Ku, lalu timpakanlah berbagai ujian padanya karena Aku (Allah) ingin mendengar rintihannya.”

Karenanya, merihlahkan kondisi diri merupakan suatu keharusan bagi manusia sebelum ajal menjemput. Rihlah dari kondisi maksiat pada ketaatan. Rihlah dari kondisi ingkar pada iman. Rihlah dari kondisi ragu pada keyakinan tak bertepi. Rihlah dari kondisi lalai pada kondisi mencinta-Nya. Rihlah dari segala kondisi yang dapat menyakitkan-Nya pada segala kondisi yang dapat membuat-Nya bangga terhadap makhluk ciptaan-Nya. Dan rihlah dari kondisi jahil menuju dzakiy.

Salah satu media untuk belajar dengan mudah lagi menyenangkan dalam hal rihlah ini adalah buku Think Muhammad karya Achmad Rifki. Buku ini meceritakan tentang kehidupan Muhammad, sebagai sosok nabi yang menyenangkan dan tidak kaku. Nabi yang digambarkan dalam buku ini benar-benar menggambarkan sosoknya yang dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Yaitu, sesosok teladan yang sangat memuliakan para pencari ilmu, tidak angkuh, tidak gila hormat, murah senyum, humoris, penyayang anak-anak, penyayang binatang dan lain sebagainya.

Selain itu, buku ini ditulis dengan bahasa yang renyah dan ringan. Sehingga, siapapun dapat membaca buku ini, terutama kalangan remaja yang ingin segera melakukan rihlah mengikuti teladan terbaik dunia, Muhammad Saw.

Sadar bahwa setiap makhluk yang diciptakan Tuhan di bumi ini, masing-masing diberikan misi oleh-Nya. Bahkan, nyamuk sekalipun (Al-Baqoroh:26). Maka, mari kita bersyukur. Mari kita “curhat”-kan segala luka pada Dzat yang maha memegang kendali atas diri manusia. Mari kita isi hidup ini dengan penuh manfaat di dalamnya sebagai bekal menuju kebahagiaan yang abadi kelak di yaumil mizan. Mari, segera rihlahkan diri ini menuju hidup yang lebih baik dengan mencontoh teladan Muhammad Saw. Semoga kita semua mampu mengambil pelajaran dari segala peristiwa yang terjadi, sehingga dapat meningkatkan kadar keimanan kita yang terkadang yazid, ataupun yanqus. Aamiin.

**Ditulis oleh Lina Sellin, dan pernah dimuat di situs MizanMag.

(Silakan meng-copy, asal menyertakan sumber)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s