Lokasi Gua Ashabul Kahfi

Standar

Lokasi gua Ashabul Kahfi, hingga kini masih diperdebatkan.

 

(Sumber foto: Muslimvillage.com)

(Sumber foto: Muslimvillage.com)

Lokasi gua Ashabul Kahfi hingga kini masih menjadi pedebatan alot antara ulama dan peneliti. Di mana masing-masingnya memiliki alasan tersendiri terkait letak di mana Ashabul Kahfi itu tidur selama (mungkin) lebih dari 300 tahun.

Beberapa peneliti telah melaporkan hal itu terjadi di kota Efesus, Turki. Beberapa lainnya mengatakan di Spanyol, Yordania, Suriah, dan Yaman. Tapi peneliti Yordania, Muhammad Taysir Zibyan, yang merupakan editor majalah Al-Shari’ah, tiba di Pakistan pada 1976, di mana ia mengunjungi Darul Uloom dalam rangka menemui Mufti Muhammad Shafi Usmani. Di sanalah ia menyatakan keyakinannya bahwa gua tersebut telah ditemukan di sebuah gunung dekat Amman. Dia menyatakan lebih lanjut, “Saya telah menulis sebuah artikel untuk memverifikasi ini.”

Mengingat bukti yang ada dan bukti-bukti yang disajikan pada saat itu, tampaknya gua Ashabul Kahfi paling mungkin terletak di sana (Amman).

Zibyan kini telah meninggal, namun hasil investigasinya itu tersimpan baik dalam sebuah buku berjudul “Ashab al-Kahf’s Cave” (Lokasi Gua Ashabul Kahfi), diterbitkan Darul Ii’tisaam.

Kapan kejadian “Manusia Gua” berlangsung?

Al Qur’an menjelaskan, setelah kejadian “Manusia Gua” berlangsung, rakyat di daerah tersebut memutuskan untuk membangun sebuah masjid di dekat situs itu.

Namun, Al Qur’an tidak menyebutkan rincian sejarah atau geografis, di mana atau dalam periode siapa kejadian ini berlangsung. Oleh karena itu, peneliti dan sejarawan telah mengungkapkan pandangan yang berbeda terkait alur sejarah Ashabul Kahfi ini.

Sebagian besar peneliti cenderung satu suara terkait kejadian ini. Yakni mengatakan, Ashabul Kahfi terjadi beberapa waktu setelah kenaikan Isa as. antara 100 SM sampai 300 SM. Pada saat itu, di daerah ini, kuasa pemerintahan berada di tangan seorang raja bernama Nabti—yang juga disembah oleh rakyatnya. Tapi, cerita ini secara bertahap dipengaruhi agama Kristen, yang dimulai di Palestina, hingga masuk ke daerah ini.

Beberapa anak-anak menjadi pemeluk agama ini (penyembah raja Nabti) atas dasar pengaruh leluhur mereka. Kemudian pada periode di mana mereka tidak terlalu peduli dengan agama dan kehidupan, para penganut Kristen secara bertahap membebaskan wilayah ini dari penguasa Nabti dan berhasil membentuk pemerintahan mereka sendiri. Warga di sini juga menerima kekristenan.

Hal ini diketahui dari beberapa riwayat bahwa setelah belajar tentang Ashabul Kahfi, raja yang memerintah pada saat itu berkunjung ke gua tersebut untuk menemui mereka.Tapi sesampainya di sana, sang raja menemukan mereka dalam keadaan meninggal. Dalam riwayat lain tidak disebutkan siapa saja di antara mereka yang meninggal.

Kejadian yang sama ini telah diriwayatkan dalam beberapa riwayat Kristen dengan sedikit perbedaan. Telah dinyatakan bahwa cerita rinci pertama kejadian ini ditulis dalam sebuah artikel pada tahun 521 H oleh penulis Irak bernama Yaqub. Artikel ini ditulis dalam bahasa Syria, kemudian diterjemahkan dalam bahasa Yunani dan Latin.

Menurut dia, kejadian ini berlangsung di Efesus, terletak di Asia Kecil pada tahun 250 Masehi dan terdapat tujuh orang di dalam gua. Ia juga menulis bahwa Ashabul Kahfi masih hidup dan kelak akan dibangkitkan kembali menjelang Hari Kiamat.

Lokasi gua Ashabul Kahfi

Telah diriwayatkan dalam beberapa sumber Kristen bahwa kejadian ini terjadi di dekat kota Efesus di Turki (nama Islam untuk Ephesus adalah Tarsus). Sebuah gua yang disebut sebagai gua Ashabul Kahfi. Mungkin alasan para peneliti Muslim dan sejarawan mengidentifikasi tempat Ashabul Kahfi di Efesus adalah atas dasar sumber-sumber Kristen ini.

Sebuah kisah ditulis Abdullah ibn Abbas ra. dari Tafsir Ibnu Jarir menyatakan, “Gua Ashabul Kahfi terletak dekat ‘Ila’ di Yordania.”

Banyak ulama saat ini telah memberikan preferensi bahwa gua ini terletak di Yordania atas dasar kisah ini dan bukti lain. Hadhrat Mawlana Hifzur-Rahman Suharwi telah menulis kisah rinci tentang hal ini dalam Qashash al-Qur’an, dengan disertai beberapa bukti geografis historis yang relevan. Ia menyatakan bahwa gua sebenarnya berada di Yordania. Hadhrat Mawlana Sayyid Sulaiman al-Nadwi telah menyatakan dalam Ardh ??al -Qur’an bahwa kota tua “Parra di Yordania” adalah “Raqeem” tersebut.

Hadhrat Maulana Muhammad Shafi dan Mawlana Abul-Kalam Azad juga cenderung sependapat dengan mereka, yang menyatakan bahwa gua tersebut berada di Yordania.

Hasil penelitian mereka adalah bahwa nama sebenarnya dari kota bersejarah yang terkenal Parra adalah Raqeem. Bangsa Romawi berganti nama menjadi Parra, dan gua ini terletak di suatu tempat di dekat sana.

Namun pada 1953, Bruder Zibyan menemukan fakta bahwa ada suatu gua di Amman, terletak di gunung, di mana beberapa kuburan dan mayat-mayat, dan ada juga sebuah masjid di situs ini. Oleh karena itu, ia berangkat mencari gua ini dengan salah seorang temannya. Tetapi karena lokasi ini bukan untuk umum, mereka harus berjuang ekstra untuk mencapai tempat tersebut, hingga akhirnya menemukan gua yang dicari.

Zibyan melaporkan, “Kami berdiri di depan sebuah lapangan gua hitam yang terletak di gunung. Gua itu sangat gelap, sehingga kami sulit untuk masuk. Seorang gembala memberitahu kami bahwa ada beberapa kuburan di dalam gua yang berisi tulang tua. Gua itu sudah sedikit terbuka di bagian selatan dan ada dua pilar di kedua sisinya, yang telah terbuat dari batu besar. Tiba-tiba mata saya jatuh pada ukiran dua pilar. Beberapa prasasti Bizantium terlihat. Gua itu ditutupi oleh batu dan puing-puing. Pada jarak sekitar 100 meter, ada sebuah desa kecil bernama Rajeeb.”

Zibyan melanjutkan penelitian dan berkunjung ke Departemen Penemuan Arkeologi. Akhirnya, seorang arkeolog bernama Rafiq Dajani menyimpulkan, setelah banyak penelitian, bahwa ini sebenarnya gua Ashabul Kahfi.

Oleh karena itu, pada tahun 1961, mereka mulai melakukan penggalian dan penelitian. Hasilnya sangat mengejutkan, mereka terus menemukan bukti seperti yang diduga sebelumnya. Berikut beberapa bukti di antaranya:

Gua terbuka di bagian selatan, dan ayat berikut membenarkan hal ini:

Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.” (Qs. Al Kahfi: 17)

Lokasi gua ini didesain sedemikian rupa, sehingga sinar matahari tidak pernah memasukinya di setiap saat, tapi dari kiri dan kanan bisa masuk ketika matahari terbenam dan terbit. Dan ada rongga luas di dalam gua di mana angin dan cahaya mudah dijangkau.

Masjid di atas gua

Ini juga telah disebutkan dalam Al-Qur’an yang menyatakan bahwa penduduk desa yang ada di sana telah membangun sebuah masjid di atas gua ini. Oleh karena itu, setelah mengeluarkan puing-puing dan batu, masjid ditemukan langsung di atas gua, yang telah dibangun dari batu tua gaya Romawi. Para arkeolog mengatakan bahwa masjid ini terbuat dari batu dan awalnya tempat ibadah dalam bentuk Bizantium, dan kemudian diubah menjadi masjid pada masa Abd al-Malik ibn Marwan.

Pada masa itu, raja yang berkuasa di daerah tersebut sangat zalim, dan tidak segan-segan membunuh rakyatnya yang tidak seiman dengannya. Karena itu, para pemuda Ashabul Kahfi mencari tempat berlindung di gua itu, demikian diungkapan teori peneliti modern, terkait kaisar Romawi Trajan, yang berkuasa dari 98 SM sampai 117 SM.

Secara historis, fakta membuktikan bahwa pada 106 SM, Trajan menaklukkan wilayah timur Yordania dan membangun sebuah stadion di Amman.

Koin era Trajan

Setelah penemuan awal gua, banyak koin ditemukan tersebar di dalamnya, yang beberapa memang dari era Trajan yang sangat mendukung keyakinan bahwa ini merupakan gua Ashabul Kahfi.

Hasil terjemah dari MuslimVillage.

*Silakan copy, asal menyertakan sumber.
 Artikel ini pernah dimuat di Islam Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s