Zuhud: Tidak Dikuasai Dunia

Standar

Perlukah seorang zahid meninggalkan segala kenikmatan dan kemewahan dunia?

 traveller

Imam Al-Laits bin Saad adalah salah seorang ahli Fiqh dan sufi  yang hidup pada kurun ke-2 Hijriah. Meski demikian, ia juga memiliki kekayaan yang luar biasa sekaligus rumah besar nan mewah.

Kondisi tersebut, menimbulkan beragam tanya, baik dari kalangan muridnya, maupun orang awam yang berasal dari negeri jauh–yang juga mengenalnya sebagai orang yang alim. Bahkan, dikisahkan bahwa, ada beberapa orang yang sengaja datang padanya dan menanyakan perihal ini, “Wahai imam, mengapa engkau bergelimang harta dan membuat rumah yang begitu besar? Bukankah zuhud lebih baik bagimu?”

Dia pun menjawab, “Adakah engkau hendak mengharamkan apa yang telah Allah Swt. halalkan untukku?”

Lantas, apakah yang sebenarnya disebut zuhud? Benarkah bila seseorang hendak zuhud, berarti mereka harus siap meninggalkan segala kenikmatan dan kemewahan dunia?

Ali bin Abi Thalib pernah berkata, “Zuhud bukan berarti kamu tidak boleh memiliki sesuatu, melainkan tidak sesuatu pun boleh memilikimu.”

Sederhananya, Ali menyebutkan bahwa arti zuhud  hakikatnya selaras dengan  surat Al Hadid ayat 23, yang bertujuan agar kamu tidak berduka cita karena apa yang luput darimu, dan tidak terlalu gembira karena apa yang Allah berikan kepadamu. 

Artinya, orang yang zuhud adalah mereka yang memilih hidup sederhana ketika dia mampu hidup kaya, memilih tetap rendah hati ketika ia mampu memiliki hal-hal yang dapat dibanggakan, serta tabah menanggung kebencian dari orang lain, ketika dia sanggup memperoleh popularitas.

Dalam ayat lain juga disebutkan demikian, Al-Baqarah:262, 274, 277; Ali-Imran:170, “mereka tidak takut dan tidak berduka cita.”

Ahmad bin Hanbal, dalam Kitab al-Zuhd menjelaskan bahwa, “Sesungguhnya zuhud pada dunia menentramkan hati dan badan; sedangkan kecintaan kepada dunia memperpanjang penderitaan dan kesusahan.” Karenanya, ia tidak akan terguncang hatinya, ketika musibah apapun menimpa.

Begitu pun dalam Kanz al-‘Ummal, hadis 60592, disebutkan bahwa Nabi Saw. bersabda, “Bukanlah zahid itu mengharamkan yang halal atau menyia-nyiakan kekayaan. Tetapi zuhud ialah tidak menjadikan apa yang kamu miliki lebih kamu cintai daripada apa yang ada di sisi Allah. Zuhud juga berarti, jika kamu mendapat musibah, kamu sangat mengharapkan pahala musibah hingga seakan-akan kamu ingin dikekalkan dalam musibah itu.”

Ibn al-Jalla berkata, “Zuhud ialah memandang dunia sebagai sesuatu yang akan hilang, sehingga dunia menjadi kecil dalam pandanganmu. Dengan begitu, mudahlah bagimu berpaling darinya.”  

Sofyan al-Tsauri berkata, “Zuhud bukanlah memakan yang kasar dan memakai baju yang compang-camping. Melainkan, zuhud berarti mengurangi keinginan.”

Ibnu Taimiyah berkata, “Zuhud adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat untuk kehidupan akhirat.”

Bahkan, ketika Nabi Saw. ditanya oleh sahabatnya, perihal perbuatan apa yang apabila dikerjakan disukai Allah dan sekaligus disukai sesamanya. Rasul bersabda,  “Berzuhudlah di dalam dunia niscaya dikasihi Allah, dan berzuhudlah di antara sesama manusia niscaya engkau dikasihi manusia”. (HR. Ibnu Majah).

Dalam Madarijus Salikin dan Al-Harawi dalam Manazilus Sa’iirin, Ibn Qayyim Al-Jauziyah berkata, bahwa zuhud memiliki tiga tingkatan. Pertama, ia yang menjauhkan segala pekerjaan buruk, memperbanyak perkerjaan baik dan memperdalam keyakinan serta iman.

Tingkatan kedua, bagi mereka yang memelihara takwa, menjaga agar tidak melanggar batas-batas larangan Allah, dan selalu berusaha menyucikan jiwa dari perbuatan yang tidak disukai Allah.

Terakhir, mereka yang berlaku wara’ pada tiap waktu, menghindarkan segala sebab yang dapat menimbulkan syirik dalam ibadah dan meresapkan fana dalam tauhid yang sebulat-bulatnya.

Para ulama yang arif pun sepakat, bahwa zuhud ialah membawa hati berjalan meninggalkan tanah air dunia dan menempatkannya di kampung akhirat.

Sehingga, setiap orang—tanpa terkecuali (baik yang kaya maupun yang miskin)–pada dasarnya mampu untuk berlaku zuhud. Karena, zahid (orang berzuhud) adalah mereka yang bekerja keras untuk mencari dunia, tetapi ia tidak menyimpan dunia di hatinya.

Kebahagiaan hidupnya tidak bergantung pada banyak atau sedikitnya harta yang ia miliki. Bagi zahid, meletakkan tujuan hidup pada pengumpulan harta, kepopuleran, kedudukan, atau kebanggaan atas apa yang ia miliki di dunia adalah sesuatu hal yang terlalu rendah. Sebab, apa yang zahid inginkan, pada dasarnya seperti yang diungkapkan Imam al-Fudha’il, “Asal dasar zuhud adalah ridha terhadap ketentuan Allah Swt.”

Lebih dari itu, kisah serupa juga datang dari para Nabi, sahabat dan tabiin. Nabi Sulaiman As., Daud As., dan Muhammad Saw., misalnya. Mereka memiliki harta, kekuasaan, kepopuleran, dan juga isteri. Namun, mereka juga tergolong orang-orang yang paling zuhud di zamannya, bahkan nama Muhammad Saw. hingga kini masih dipuja seluruh alam sebagai orang yang memiliki kekuasaan tak tertandingi, namun tetap memiliki sifat dan sikap zuhud.

Demikian juga para sahabat Ali bin Abu Thalib, Abdurrahman bin Auf, Az-Zubair, Utsman, dan lainnya. Mereka adalah orang-orang yang zuhud sekalipun mempunyai harta melimpah dan kedudukan yang tinggi.

 *Silakan copy, asal menyertakan sumber.
 Artikel ini pernah dimuat di Islam Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s