Allah Milik “Naluri” Semua Insan

Standar
 

Kata Allah selalu ada dalam diri manusia, walaupun ia mengingkari wujud-Nya, baik melalui ucapan maupun tindakan, baik secara sadar maupun tidak. 

Pelarangan penggunaan kata “Allah” bagi non-Muslim di beberapa negara mayoritas Islam, seperti Brunei dan Malaysia sempat menjadi pembahasan cukup serius. Banyak di antaranya mendukung, dan tak sedikit pula menolak. Masing-masing pihak memiliki alasan tersendiri terkait penolakan atau penerimaan aturan baru tersebut.

Pemerintah Malaysia dan Brunei memutuskan bahwa kata “Allah” hanya berhak digunakan umat Islam dengan alasan agar tidak terjadi kesalahpahaman antara pemeluk Islam dengan lainnya. Sementara non-Muslim, khususnya Kristen berpendapat bahwa, penggunaan kata “Allah” merupakan bagian integral dari agama mereka, yang bahkan bisa menyebabkan predikat “sesat” bila tidak menyebutkannya dengan benar.

Uskup Agung Tan Sri Murphy Pakiam, misalnya. Ia menegaskan bahwa umat Kristen telah menggunakan kata itu selama berabad-abad dengan damai. Bahkan, Ketua Presidium Konferensi Waligereja Malaysia ini mengatakan bahwa kata Allah sangat esensial atau merupakan bagian integral dari agama Kristen. Dia mencontohkan, kalimat pertama Doa Syahadat: Aku percaya Allah, Bapa Yang Mahakuasa, Pencipta langit dan bumi.

“Setiap orang Kristen yang salah mengucapkan doa ini, akan diekskomunikasi dan dianggap sesat,” tegasnya.

Begitu pun dengan Brunei yang juga menetapkan kurungan minimal satu tahun jika non-Muslim menggunakan kata tersebut.

Hal ini menarik jika ditelisik lebih jauh terkait asal usul kata Allah—yang terulang dalam Al-Qur’an sebanyak 2698 kali. Ini menunjukkan betapa pentingnya kata tersebut, baik di mata manusia maupun dalam kaca mata kitab suci.

Dalam buku Ma’rifatullah karya KH. Muchtar Adam, dijelaskan bahwa, menurut sebagian ulama, kata Allah berakar dari kata walaha yang berarti mengherankan atau menakjubkan. Artinya, semua perbuatan-Nya pasti menakjubkan bagi yang mentafakkurinya. Setiap ciptaan-Nya membuat heran siapa pun yang mengkajinya hingga sedetail mungkin.

Pendapat lain mengatakan, kata Allah berasal dari akar kata aliha, ya’lahu, yang artinya menuju atau bermohon. Setiap makhluk dapat dipastikan semuanya sedang menuju kepada-Nya, rela atau terpaksa, siap atau lalai, sesuai dalam firman-Nya, “Innalillahi wainnailaihi rooji’un,” (Qs. Al-Baqarah: 156).

Sebagian ulama berpendapat, kata Allah pada mulanya bermakna mengabdi. Makna ini dapat dimaklumi karena setiap makhluk ciptaan Allah pasti mengabdi kepada-Nya. Dan, sekian banyak makhluk yang paling banyak membangkang dan durhaka pada Allah, yakni manusia. Hal ini banyak dijelaskan dalam Al-Qur’an, dan disebut sebagai orang-orang yang tidak tahu berterima kasih (syukur).

Definisi lebih menarik datang dari seorang ulama kontemporer, pakar bahasa Arab, dan guru besar Universitas al-Azhar Mesir, Syekh Mutawwali al Sya’rawi. Dalam tafsirnya tentang khawash yang berarti keindahan dan kekhususan lafadz Allah, dia mengatakan bahwa, kata Allah selalu ada dalam diri manusia, walaupun ia mengingkari wujud-Nya, baik melalui ucapan maupun tindakan, baik secara sadar maupun tidak. Kata Allah selalu ada dalam diri naluri setiap insan, dan menunjuk kepada-Nya yang diharapkan dapat memberikan pertolongan bagi kehidupannya.

Syeikh mengimbau agar kita memperhatikan kata Allah. Bila huruf pertamanya dihapus, ia akan terbaca “Lillah” yang berarti sumpah “demi Allah”. Bila satu huruf berikutnya dibuang akan terbaca “Lahu” yang berarti “untuk-Nya” atau “milik-Nya”. Jika huruf berikutnya dihapus juga, akan terbaca “Hu” yang dapat dibaca “Huwa” sebagai dhamir ghaib (kata ganti orang ketiga), yang berarti Dia (Allah Swt.). Ini bisa dilihat pada ayat kursi dan ayat-ayat lainnya yang menunjukkan Dia = Allah.

Karenanya, lanjut Syeikh Mutawwali, setiap orang yang mengeluh selalu berkata ah, ih, atau uh—tanpa memandang siapa dirinya, bangsa apa, agama apa, dan keturunan siapa.

Ketiga kata yang sering diucapkan secara spontan merupakan refleksi batin seseorang—yang mengakui adanya Allah, atau pun tidak selalu bermuara pada-Nya. Hal ini menunjukkan, sadar atau tidak, setiap orang akan selalu mengeluh kepada-Nya.  

Sehingga, keyakinan pada-Nya, makrifatullah merupakan fitrah setiap insan, sebagaimana diisyaratkan dalam Qur’an, dan disebutkan sebanyak 23 nama sebagai padanan kata tauhid, seperti al-Ihsan pada surat Rohman: 60, al-Adlu dalam an-Nahl: 90, al-Thayyibah dalam surat Ibrohim: 24, dan sebagainya.

Wallahu A’lam Bishowab.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s