Allah Pun Tertawa  

Standar

Teruslah memohon dan berharap rahmat dari-Nya. Karena hanya dengan rahmat-Nya lah, manusia bisa memasuki syurga-Nya—Muhammad Saw.

 

Tahun demi tahun Rasul Saw. berada di Madinah. Di luar kesibukannya dalam menangani berbagai persoalan, beliau selalu berupaya untuk meningkatkan kualitas keimanan kaum Muslim.

Pada suatu hari, Rasul memanfaatkan waktunya untuk duduk di Masjid Nabawi bersama para sahabatnya. “Wahai, Sahabat-sahabatku,” ucap Rasulullah. “Ketika mengadili hamba-hamba-Nya, Allah Swt. ingin mengeluarkan orang yang dikehendaki-Nya dari kelompok penghuni neraka dengan rahmat-Nya. Dia pun memerintahkan malaikat agar mengeluarkan orang-orang yang dikehendaki-Nya.

 “Sayangnya, ada sebagian orang yang tidak bisa langsung memasuki syurga, tapi harus disiram terlebih dahulu dengan air kehidupan untuk membersihkan segala dosa-dosa. Namun, ada juga yang memang benar-benar divonis untuk tetap mendiami neraka. Mereka itulah yang terhalang oleh beberapa perbuatan semasa hidup di dunia. Orang itu pun berdoa, “Wahai Tuhan! palingkanlah kami dari neraka. Sungguh, kami tak kuat dengan nyala api yang akan membakar tubuh kami.”

“Jika permohonanmu Ku- (Allah) kabulkan, apakah engkau akan berhenti memohon?” Ucap Allah sang Maha Pemberi Ampun.

“Ya, hamba tidak akan memohon lagi.” Kata mereka mantap.

“Kemudian, Allah mengabulkan permohonan hamba-Nya itu, mereka semua dipalingkan dari panasnya api neraka” lanjut Rasul, “Tapi, ketika menghadap ke arah syurga, mereka (orang-orang yang tak diizinkan memasuki syurga) itu diam merenung. Mereka pun kembali memohon pada Tuhan, ‘Wahai Dzat yang Maha Pemberi Cinta, dekatkanlah kami ke pintu syurga karena cinta-Mu.’

“Bukankah kalian sudah berjanji untuk tidak akan memohon apa pun lagi dari-Ku? Aku sudah menjauhkan kalian dari panas api neraka,” jawab Allah.

“Betul, wahai Tuhan! Tapi hanya pada-Mu lah kami memohon harap dan pertolongan. Perkenankanlah kami memasuki syurga-Mu,” pinta mereka dengan penuh harap.

“Allah yang Maha Pengasih pun kembali memenuhi permintaan hamba-Nya itu. Namun, begitu mereka memasuki syurga dan melihat berbagai kenikmatan di dalamnya, mereka pun merenung, dan kemudian berkata, ‘Wahai Tuhan yang Maha Penyayang, perkenankanlah kami berada di sisi-Mu dan merasakan kenikmatan saat bersama-Mu. Syurga tiadalah lebih nikmat dibandingkan pertemuan dengan-Mu,” rintih sang hamba.

Rasul melanjutkan, “Mereka pun tak pernah henti meminta pertolongan dan ampunan dari sang Maha Ghofur, sehingga Allah pun tertawa karenanya. Mereka kemudian bertanya, ‘Wahai Tuhan, apakah Engkau menertawakan kami? Bukankah Engkau maha Penentu segala keputusan?’”

“Aku tidak menertawakanmu. Tapi, Aku Maha Kuasa atas apa yang Kukehendaki. Siapa pun yang Kukehendaki akan dapat memasuki syurga-Ku, bahkan mereka bisa saja bertemu dengan-Ku.”

Rasul pun menutup khutbahnya dengan berpesan, “Teruslah memohon dan berharap rahmat dari-Nya. Karena hanya dengan rahmat-Nya lah, manusia bisa memasuki syurga-Nya.”

 ——

Bayangkan, orang yang berkali-kali ditolak Allah, akhirnya bisa memasuki syurga berkat rahmat-Nya. Bahkan, mereka bisa mendapatkan nilai plus dengan karunia bertemu dengan-Nya. Bukankah tidak ada nikmat yang paling besar selain bertemu dengan Sang Pencipta?

 

Diolah dari buku Mutiara Akhlak Rasulullah Saw. karya Ahmad Rofi’ Usmani

Boleh mengcopy, asal mencantumkan sumber link tulisan ini.

(Lina Sellin)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s