Dzikir dalam Gemerlap Pasar

Standar

Seseorang, di mana pun ia tinggal, termasuk di tengah-tengah pasar harus bisa sambil tetap sibuk dengan Allah.

 

Alkisah, seorang pedagang besar hidup di Baghdad. Namanya Sarri As-Saqathi. Layaknya seorang pedagang, ia pun menghabiskan sebagian besar hidupnya di pasar. Setiap hari ia pergi ke beberapa toko miliknya. Dengan ditemani ratusan karyawannya, ia pun ikut berjibaku mengontrol toko.

Setiap pagi, ia membuka toko. Saking banyaknya toko yang ia miliki, ia pun harus bergilir dari satu toko ke toko lainnya.

Suatu hari, seperti biasa, ia akan menutup tirai pintu tokonya, lalu mendirikan shalat bersama para karyawannya.

Ketika itu, datanglah seorang lelaki dari Gunung Lokam yang berniat untuk menemuinya. Sambil menyingkap tirai pintu toko Sarri, lelaki itu menyapanya dengan suara lantang, “Salam, saya datang untuk mengunjungimu.”

Mendengar suara itu, sebagian orang dalam toko, termasuk Sarri pun menengok ke sumber suara.

Para karyawan terlihat tidak suka melihat orang tak dikenal tiba-tiba datang, dan membuka tirai langsung—dimana perbuatan itu telah mengganggu waktu shalat mereka yang sebentar lagi hendak didirikan.

“Dia tinggal di pegunungan,” komentar Sarri memaklumi seraya mendamaikan ketidaksukaan para karyawan.

Setelah dipersilakan masuk, Sarri pun mengajaknya untuk ikut shalat berjamaah bersama.

Usai shalat, tamu itu kemudian mengutarakan maksud kedatangannya, “Kami datang dari jauh khusus untuk menemui Tuan. Di daerah kami sedang kehabisan almond. Dan, kami dengar, Tuan memiliki banyak almond,” tutur lelaki tersebut. “Sebagai sesama pedagang, kami ingin membeli almond Tuan. Tentu saja Tuan bisa menjualnya lebih mahal, karena kami pun nanti akan menjualnya lebih mahal,” lanjutnya membujuk.

“Bawalah almond ini dengan harga enam puluh dinar,” jawab Sarri singkat.

“Almond sebanyak ini setidaknya Tuan jual seharga ratusan dinar. Apalagi ini lagi paceklik, Tuan bisa untung besar, hanya karena almond ini,” tutur sang tamu.

“Ini sudah menjadi aturanku. Aku tidak akan mengambil untung lebih dari lima persen,” jawab Sarri. “Masing-masing dari kita mendapat tiga dinar. Aku tidak akan melanggar aturanku sendiri.”

“Mengapa Tuan tidak memanfaatkan kesempatan ini? Bukankah tidak ada yang tahu, selain kita berdua?” bujuknya kemudian.

“Benar, Tuan. Semua orang tidak melihat kita, tapi bagaimana dengan Allah? Segala usaha kita tidak berarti apa-apa tanpa ridha-Nya,” jawab Sarri.

“Seseorang, di mana pun ia tinggal, termasuk di tengah-tengah pasar seperti kami harus bisa sambil tetap sibuk dengan Allah, hingga tak sesaat pun luput dari perhatian-Nya,”

“Bukankah itu hakikat dzikir, Tuan?” lanjut Sarri disertai pertanyaan retoris.

Mendengar keterangan ahli sufi itu, sang tamu pun merasa malu. Ia mengangguk setuju.

——

Fariduddin Aththar berkisah tentang Abul Hasan Sarri ibnu al Mughallis as Saqathi. Ia merupakan seorang sufi murid dari Makruf al Karkhi.

Namanya terkenal di seantero Baghdad sebagai salah seorang pedagang sukses yang tetap menanamkan nilai-nilai Ilahiah.  Ia mencari nafkah dengan berdagang, namun ia tidak lupa pula untuk melantunkan dzikir, lewat tindakannya.

Alhasil, selain dikenal sebagai orang yang piawai berwirausaha, ia dikenal pula sebagai orang yang suka berderma dan membantu orang-orang yang membutuhkan uluran tangannya.

Sarri wafat pada 253 H/867 M di usianya yang ke- 98.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s