Golongan Sedikit yang Terus ditambah Nikmat

Standar
 

Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan tambah nikmat-Ku kepadamu, dan jika kamu ingkar sesungguhnya azab-Ku amatlah pedih”.

Dulu, pada zaman Sayyidina Umar bin Khattab, ada seorang pemuda yang sedang berthawaf sembari terus mengulang-ngulang doa, “Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang yang sedikit,”

Mendengar doa “tak biasa” ini membuat Umar naik pitam. Alhasil, usai menyelesaikan thawaf, Umar pun segera menegur sang pemuda, “Apa maksudmu mengucap doa demikian? Apakah tidak ada permintaan lain yang hendak kau mohonkan pada Allah, sehingga harus mengulanginya berkali-kali?”

“Dan, apakah kau tidak tahu jika Islam menghendaki umatnya terus bertambah banyak dan menjadi golongan mayoritas?” cecar Umar.

Dengan santun pemuda itu menjawab, “Wahai, Amirul Mukminin! Sesungguhnya aku membaca doa seperti itu karena teringat firman Allah dalam surat Al-A’raf ayat 10. ‘Sungguh, Kami telah menempatkanmu di bumi dan di sana Kami sediakan sumber penghidupan untukmu. Tetapi sedikit sekali kamu bersyukur,’”

“Aku juga ingat surat Hud 40 dan surat Saba 13. Membaca ayat-Nya yang demikian, sungguh, aku merasa takut ,” jawabnya. “Jadi, aku memohon agar Allah memasukkan aku dalam golongan yang sedikit, sebab Allah jelaskan bahwa sedikit sekali orang yang tahu berterima kasih kepada Allah,” lanjut sang pemuda.

Mendengar jawaban pemuda itu, dengan penuh sesal Umar mengusap wajahnya sembari berkata kepada dirinya sendiri, “Wahai Umar, alangkah jahilnya engkau, dia lebih tahu hal ini ketimbang engkau,”

Ya, pandangan Umar dalam kisah di atas tampaknya tak jauh berbeda dengan pandangan kita saat ini. Kadang, kita berpikir bahwa golongan mayoritas, bisa dijadikan jaminan kelayakan seseorang untuk bisa menempati posisi puncak, untuk meraih keistimewaan di hadapan Rabb kita.

Bahkan, karena pandangan ini, kadang kita berpikir bahwa yang benar, pastilah golongan yang mayoritas. Sehingga, tak jarang jika kelompok minoritas, yang bahkan (mungkin) menyampaikan kebenaran pun, enggan dianggap sebagai sebuah hal yang layak diperjuangkan.

Hal inilah yang kemudian membuat kita lupa untuk mensyukuri salah satu nikmat Allah, yang berupa perbedaan. Padahal, bukankah Allah secara gamblang menegaskan dalam surat Al Maidah: 48? “Sekiranya Aku (Allah) menghendaki, niscaya manusia dijadikan satu umat saja, tetapi Allah hendak mengujimu terhadap karunia yang telah diberikan-Nya kepada kamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebaikan.”

Dan, bukankah jaminan bagi orang-orang yang bersyukur, akan ditambahkan nikmatnya, sebagaimana tercantum dalam surat Ibrahim ayat 7?

Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan tambah nikmat-Ku kepada kamu, dan jika kamu ingkar sesungguhnya azab-Ku amatlah pedih”.

Sudahkah kita mengucap syukur hari ini? Sudahkah kita berterima kasih atas apa pun yang sudah Allah karuniakan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s