Ingin Haji atau Wisata?  

Standar

Suatu ketika, seorang pemuda menemui Bisyr untuk meminta nasihat, “Aku memiliki uang sebanyak dua ribu dirham. Uang itu tentu aku dapatkan dari cara halal. Karenanya, aku ingin pergi haji.”

Apakah kau akan sambil berwisata di sana?” selidik Bisyr.

“Saya ingin haji, sekaligus melihat keindahan tanah Haram (Makkah) itu” jawab sang pemuda.

“Jika engkau sungguh-sungguh ingin meraih keridhan Allah, pergilah dan lunasi utang seseorang, atau berikan uang itu pada anak yatim atau fakir miskin,” Bisyr menasihati.

“Wahai Bisyr, aku ingin berkunjung ke Baitullah. Aku rindu menemui istana-Nya. Maaf, kalau saya tetap akan berhaji.”

Dengan tenang, Bisyr pun menjawab, “Saudaraku, meringankan beban seorang Muslim lebih dicintai Allah daripada naik haji seratus kali,” jelasnya.

“Aku tetap akan berhaji. Ini uangku, uang yang kuperoleh dari kerja kerasku selama ini!” Sang pemuda menanggapi.

“Silakan, karena uangmu tidak didapat dari cara yang baik, maka engkau tidak akan tenang sebelum membelanjakannya di jalan yang salah.”

Ya, kadang keinginan kuat kita untuk berhaji, menemui Baitullah, memenuhi panggilan-Nya guna menunaikan rukun Islam yang terakhir ini, juga berbanding lurus dengan harapan kita pada hal-hal yang bersifat duniawi (wisata).

Padahal, bukankah ibadah haji pada hakikatnya hanya diperuntukkan bagi Allah, untuk mendapat ridha-Nya? Juga, bukankah ketika hendak menemui rumah Allah, dibutuhkan persiapan—yang bukan hanya terbatas pada harta benda atau besarnya materi?

Bukankah kehadiran ke Baitullah tidak lain untuk sungguh-sungguh beribadah, menjalankan segala perintah-Nya, bersujud sekuat tenaga meminta ampun atas segala dosa? Meluruskan niat hingga nanti ketika kembali kita bisa menjadi haji mabrur.

Dan, bukankah niat seseorang akan berpengaruh pada tindakan? Lantas, bagaimana jika kita masih memiliki niat berhaji sembari berwisata?

—-

Fariduddin Athtar berkisah tentang Abu Nasr Bisyr ibnu al Harits al Hafi. Ia lahir di dekat Merv pada 150 H/767 M dan kemudian menempuh pendidikan di Baghdad. Bisyr, selain dikenal sebagai seorang alim, ia juga dikenal sebagai sufi yang menjalani kehidupan sederhana.

Konon, ia terlahir dari keluarga yang kaya raya. Ia pun hidup hedonis. Namun, suatu ketika ia menyadari bahwa kehidupannya yang seperti itu ternyata tidak memberikan ketenangan dalam jiwanya. Alhasil, ia pun berpaling dari model kehidupan lamanya dan mengubah arah hidupnya untuk selalu membantu sesama.

Bisyr dikagumi Ahmad ibnu Hanbal dan dihormati oleh Khalifah al Ma’Mun. Ia wafat pada 227 H/841 M di Baghdad.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s