Kerikil Selamatkan Abu Hafs dari Neraka

Standar
 Tidak ada balasan kebaikan selain kebaikan pula—Ar-Rohman: 60

 

Sebagai seorang laki-laki muda, Abu Hafs jatuh cinta pada seorang gadis pujaannya. Begitu tergila-gilanya, sampai hatinya selalu gelisah.

Melihat sahabatnya dalam kondisi demikian, teman-temannya pun mengusulkan agar Abu Hafs tidak tinggal diam. Mereka berkata, “Temuilah orang “pintar”, atau paling tidak jeratlah gadis itu dengan bantuan bintang nujum (ramalan).

Abu Hafs pun menurut. Ia pergi ke suatu tempat bernama Nisyabur untuk mencari jawab atas gelisahnya itu. Siapa tahu, orang-orang “pintar” di sana mampu melembutkan hati sang permata hati yang selama ini diimpikannya.

Pada suatu hari, ia pun mendatangi sebuah rumah yang konon ditinggali seorang ahli nujum yang masyhur dalam menggaet hati wanita.

“Selama empat puluh hari, diamlah di gua seorang diri. Kau tak perlu melakukan ibadah pada Tuhanmu. Nanti aku beritahukan apa yang harus kau lakukan setelah itu,”

Empat puluh hari pun berlalu. Namun, “ramuan” yang diberikan orang “pintar” itu tak kunjung membuahkan hasil. “Pastilah kau telah melakukan hal baik pada Tuhanmu, sehingga mantraku tak mempan.” Ujarnya.

“Aku tidak melakukan apa-apa,” kata Abu Hafs. “Satu-satunya yang kulakukan adalah kala aku menuju tempatmu, aku menendang sebongkah batu dari tengah jalan agar tidak ada orang yang tersandung karenanya.”

Mendengar penuturan jujur Abu Hafs, orang “pintar” itu berkata, “Jangan plinplan di hadapan Tuhan. Perintah-Nya telah engkau lalaikan selama empat puluh hari, dan dengan kemahapemurahan-Nya, tidak menyia-nyiakan perbuatan baik sekecil itu yang kau lakukan.

Abu Hafs, segera mengucap istighfar, lalu kembali ke kotanya dengan mengabdikan seumur hidupnya untuk kebaikan umat.

Bayangkan, betapa berharganya perbuatan baik. Meski terlihat kecil di hadapan manusia (hanya menyingkirkan kerikil di tengah jalan), Abu Hafs dapat terselamatkan dari kemusyrikan, lantas bagaimana dengan perbuatan baik yang lebih besar dari sekadar itu?

Kadang, suatu kebaikan yang terlihat kecil dianggap remeh oleh manusia, padahal di hadapan Tuhan, perbuatan baik sekecil apa pun bisa menjadi penyelamat bagi manusia—yang bahkan mampu menghindarkannya dari api neraka.

Bukankah Allah berfirman, “Tidak ada balasan kebaikan selain kebaikan pula?”

——-

Fariduddin Aththar berkisah tentang Abu Hafs Amr ibnu Salamah al Haddad. Ia merupakan seorang pandai besi di Nisyabur dan memutuskan tinggal sementara di Baghdad untuk menemui Al Junaid dan Asy Syibli. Dari mereka lah Abu Hafs kemudian belajar banyak tentang tasawwuf.

Abu Hafs meninggal pada 265 H/879 M saat dirinya kembali ke Nisyabur.

Boleh mengcopy, asal mencantumkan sumber link tulisan ini.

(Lina Sellin)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s