Kisah Sufi Ibnu Atha: Tak Perlu Banyak Baca Qur’an  

Standar

Engkau belum mencintai-Nya jika dapat menyelesaikan kalam-Nya (Al Qur’an) dengan sangat cepat.

 

Suatu hari di sebuah majelis ilmu, Al Junaid bertanya kepada muridnya, Ibnu Atha, “Wahai muridku, berapa banyak surat dalam Al Qur’an yang berhasil engkau baca tiap harinya?”

“Aku biasa mengkhatamkan Al Qur’an dua kali setiap hari,” jawab Ibnu Atha dengan mantap.

Mendengar itu, Al Junaid kembali bertanya, “Bagaimana kamu bisa mengkhatamkan Kalam-Nya dengan begitu cepat?”

“Aku begitu mencintai-Nya, hingga tak sanggup rasanya bila sebentar saja tidak membaca risalah itu.”

“Muridku, engkau belum mencintai-Nya jika dapat menyelesaikan kalam-Nya dengan sangat cepat,” ujar sang guru.

Mendengar penjelasan gurunya yang sangat dihormati itu, Ibnu Atha begitu kecewa. Bukan sanjungan atau pujian yang ia dapatkan, namun sebaliknya. Ia pun permisi pamit pulang dari majelis ilmu tersebut.

Hatinya begitu gundah. Ia terus memikirkan apa yang diungkapan sang guru. Selama ini, ia sudah begitu berusaha keras membaca dan mengkhatamkan Al Qur’an dengan sebaik dan secepat mungkin. Namun, gurunya itu mengatakan usahanya tak menunjukkan kecintaan Ibnu Atha pada Tuhan-nya.

Bertahun-tahun waktu pun telah berlalu. Di suatu kesempatan, Al Junaid kembali bertanya, “Muridku, berapa banyak ayat Al Qur’an yang berhasil engkau khatamkan setiap harinya?”

Mendengar pertanyaan itu, angannya melayang ke belasan tahun silam. Masih jelas betul dalam kepalanya saat gurunya itu bertanya perihal ini.  

Ia pun menjawab, “Dulu aku biasa mengkhatamkan Al Qur’an dua kali setiap hari. Kini, selama empat belas tahun sudah aku membaca Al Qur’an, tapi hingga saat ini, aku baru sampai pada surat Al Anfal.”

“Bagaimana bisa engkau mengaku mencintai-Nya, namun begitu lamban membaca Kalam-Nya?” tanya Al Junaid kemudian.

Dengan hormat Ibnu Atha menjawab,  “Guru, bagaimana mungkin aku mengaku mencintai Tuhan, sementara tanganku begitu cepat membalik lembar mushaf hanya untuk menyelesaikan bacaan? Bagaimana mungkin aku mengaku mencintai Tuhan, sementara lisanku begitu cepat ingin beralih dari mengagungkan-Nya demi mengejar banyaknya ayat yang kubaca? Bagaimana mungkin aku menginginkan perjumpaan dengan-Nya, sementara aku belum paham benar isi dari Kalam-Nya?” jawabnya.

“Lisanku begitu kelu untuk beralih. Tanganku begitu enggan untuk membalikkan lembar Al Qur’an sebelum aku mampu memahaminya. Aku belajar untuk menjadi manusia yang beriman dari kitab suci ini, aku juga belajar berbagai ilmu sebagai pondasiku dalam beribadah pada-Nya, serta dari kalam-Nya pula aku mengamalkan apa yang diperintahkan dan apa yang dilarang,” lanjutnya.

Ia menambahkan, “Guru, tak perlu kiranya aku memburu jumlah juz atau seberapa banyak aku berhasil mengkhatamkan Al Qur’an di setiap waktunya, jika aku hanya berlalu darinya tanpa ilmu dan pengamalan apapun atas bacaanku,” lanjutnya.

Sang guru pun menepuk pundak Ibnu Atha, “Kau berhasil menempuh jalan-Nya, Nak! Seorang insan yang begitu mencintai Tuhannya akan sangat hati-hati memahami kalam-Nya, sehingga ia mampu mengamalkan apa yang Dia (Allah) perintahkan dan apa yang Dia larang, dalam mushaf itu.”

—–

Fariduddin Aththar bercerita tentang Abu al Abbas Ahmad ibnu Muhammad ibnu Sahl ibnu Atha al Adami. Ia merupakan seorang murid terdekat Al Junaid. Selain dikenal sebagai sufi, ia juga dikenal sebagai penggubah syair dari Baghdad.

Ibnu Atha meninggal pada 309 H/ 922 M.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s