Kisah Sufi: Murid Seorang Budak  

Standar

Mengapa aku begitu marah pada kekurangan dan meratapinya sebagai duka?

 

Suatu ketika, Balkh dilanda krisis ekonomi. Hampir semua masyarakat di kota itu khawatir akan kelangsungan hidup mereka. Bahkan, seiring dengan krisis itu, muncul pula beragam jenis kejahatan yang “dihalalkan” atas nama kelaparan. Pedagang saling sikut untuk meraih untung. Pemerintah begitu panik sembari mencoba mencari cara agar dapat lepas dari derita kemiskinan. Pun begitu dengan Syaqiq, sang saudagar besar di kota itu.

Namun, ada hal mengejutkan ketika Syaqiq berjalan ke suatu pasar. Dilihatnya seorang budak muda tertawa dengan begitu lepas, seperti tak memiliki beban hidup.

Penasaran dengan aksi sang budak, Syaqiq pun segera menghampiri. “Hai budak, saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk bergembira. Tidak tepat untuk bersuka ria. Tidak tepat untuk tertawa!” kata Syaqiq bernada tinggi.

“Tidakkah kau tahu, kalau orang-orang di negeri ini sedang terkena musibah berupa kelaparan?” lanjut Syaqiq.

“Mengapa aku harus khawatir, Tuan? Majikanku sangat kaya raya. Dia punya banyak tanah di hampir seluruh kota ini. Dia juga punya banyak gandum. Dia majikanku yang baik, dan tentu tidak akan membiarkanku kelaparan.”

Mendengar jawaban itu, tubuh Syaqiq terasa mengigil. Hilang semua pengendalian dirinya.

“Ya Alllah,” pekiknya lemas. “Budak ini sangat gembira memiliki majikan yang begitu baik. Lantas, mengapa aku bersedih hati, padahal Engkau Sang Maha Baik? Budak ini begitu suka cita karena memiliki banyak simpanan gandum. Lantas, mengapa aku begitu marah pada kekurangan dan meratapinya sebagai duka? Padahal, Engkau Sang Raja Pemilik Segala yang akan menjamin segala kehidupan semua makhluk ciptaan-Mu.” kata Syaqiq seraya meneteskan air mata penyesalan.

“Tuhan, aku adalah murid seorang budak,” lanjutnya sembari merenung, mensyukuri atas apa pun yang Allah berikan padanya.

——-

Fariduddin Athttar berkisah tentang Abu Ali Syaqiq ibnu Ibrahim al Azdi al Balkhi. Konon, sejak peristiwa itu, Syaqiq yang kala itu gemar berdagang, berpaling ke jalan asketis.

Ia mengabdikan sisa hidupnya untuk mempelajari berbagai ilmu pengetahuan. Dan, kemudian menuliskannya menjadi buku-buku yang sangat dinanti para penikmat karyanya. Sebuah sumber menyebutkan, bahwa Syaqiq bahkan telah belajar dari 1.700 guru di berbagai belahan dunia.

Syaqiq berhaji ke Makkah dan meninggal di sana pada 194 H/ 810 M.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s