Kisah Sufi: Surga untuk Badui  

Standar
 

Ya Fulan, apa amalan harianmu sehingga Nabi mengatakan bahwa kamu layak masuk surga dan akan mendapatkan tempat yang khusus di sana?

 

Seperti biasa, Rasul Saw. menghabiskan waktunya untuk diskusi bersama sahabat-sahabatnya di serambi masjid. Ketika para sahabat berkumpul membentuk lingkaran kecil, dengan Nabi di tengahnya, beliau kemudian berkata, “Wahai sahabat, suatu ketika akan datang di pintu ini seorang ahli surga.”

“Siapakah, Ya Rasul?” tanya salah seorang sahabat.

“Perhatikanlah, nanti kalian lihat sendiri. Dia bahkan mendapatkan tempat yang khusus di surga.”

Maka para sahabat pun mununggu di pintu itu. Tak lama kemudian muncullah seorang badui, lewat di pintu yang Rasul maksud tadi.

Melihat badui yang muncul, para sahabat pun terlihat kecewa. Masing-masing berpandangan, berpikir bahwa tidak mungkin kiranya sang badui itu yang Rasul maksud.

Didorong oleh rasa penasaran, keesokan harinya mereka datang kembali ke masjid tersebut, dan menunggu, siapa gerangan orang beruntung itu.

Namun, lama menunggu, lagi-lagi yang muncul tiada lain kecuali sang badui. Belum mendapatkan jawaban yang pasti, mereka pun sepakat untuk kembali mendatangi masjid tersebut dan menunggu beberapa hari ke depan.

Namun, lagi-lagi, hanya sang badui lah yang muncul di pintu itu, hingga genap tiga hari berturut-turut. Maka lantas para sahabat heran, benarkah sang badui itu yang memang akan mendapatkan tempat khusus di surga? Jika iya, amalan apa yang mengantarkannya menjadi ahli surga?

Hari berikutnya, salah seorang sahabat berinisiatif membuntuti sang badui. Ketika tiba di rumah sang ahli surga itu, sahabat tersebut kemudian mengatakan, “Bolehkah saya tinggal di rumahmu selama beberapa hari ke depan?”

“Silakan, dengan senang hati. Bagaimana mungkin kiranya saya menolak tamu istimewa yang tiada lain sahabat Rasul?” jawab sang pemilik rumah.

Hari demi hari terus berjalan. Sahabat Nabi semakin heran ketika melihat sang badui tidak melakukan ibadah tambahan apa pun selain apa yang diwajibkan. Ia tidak terlihat melakukan shalat tahajud, tidak shalat duha, tidak juga berpuasa sunnah, dan ibadah sunnah lainnya.

Tak sanggup menahan rasa penasaran dan ingin tahunya yang semakin dalam, maka sahabat Nabi pun mengutarakan pertanyaan kepada orang badui tersebut, ”Ya Fulan, apa amalan harianmu sehingga Nabi mengatakan bahwa kamu layak masuk surga dan akan mendapatkan tempat yang khusus di sana?”

Sedikit tidak percaya dengan apa yang dikatakan sahabat, si Fulan kemudian menjawab, “Benarkah Rasul mengatakan demikian? Sungguh tidak ada yang istimewa dalam amalam keseharianku,”

“Mungkinkah karena setiap hendak tidur, aku selalu memanfaatkan sedikit waktuku untuk memaafkan semua orang yang bersalah kepadaku, mendoakan setiap orang yang mungkin berbuat salah padaku agar mereka berubah menjadi manusia yang jauh lebih baik, dan mungkin juga karena saya selalu mengisi waktu sebelum tidur dengan memaafkan kesalahan mereka yang masih mau berbuat salah terhadapku?” jawab sang badui dengan nada retoris.

“Maha benar Allah, yang telah memberikan rahmat-Nya pada manusia yang berhak mendapatkannya.” Ucap sahabat Nabi takjub, seraya mengucap istighfar.

——

Diolah dari hadis Nabi dari Muhammad bin Abdurrahim dari ‘Affan bin Muslim dari Wuhaib dari Yahya bin Sa’id bin Hayyan, dari Abu Zur’ah dari Abu Hurairah dalam Al-Imam Al-Bukhari (3/1397).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s