Silakan Curi Milikku!

Standar

 

Dunia ini memang datang dan pergi, silakan curi semua harta bendaku, jika ada yang mau.

 

Ahmad bertetangga dengan seorang non-Muslim bernama Bahram. Suatu hari, Bahram mengirim utusan untuk melakukan perjalanan dagang. Di tengah perjalanan, seluruh barang milik Bahram dibawa lari para pencuri.

Saat Ahmad mendengar berita pencurian tetangganya itu, ia segera mengajak para muridnya untuk melihat kondisi Bahram, “Mari kita pergi ke rumah Bahram untuk menyatakan turut berduka cita atas musibah yang telah dialaminya. Meskipun dia seorang non-Muslim, dia tetap memiliki hak untuk dikunjungi, sebagai tetangga.”

Saat Bahram menyalakan api sesembahannya, ia melihat Ahmad beserta rombongannya persis di depan pintu rumahnya. Ia pun segera berlari membuka pintu dan mencium tangan Ahmad.

Tak lama kemudian, Bahram pun mempersilakannya masuk dan segera bergegas menuju dapur untuk mencari apa pun yang layak dihidangkan untuk tamunya itu. Meski saat itu Bahram sedang dalam kesulitan, Bahram tetap menyuguhkan roti di atas meja untuk mereka.

“Tidak usah repot-repot,” ujar Ahmad. “Kami ke sini untuk menyatakan rasa simpati kami. Kami mendengar Anda telah tertimpa musibah, barang-barang Anda dicuri.”

Bahram tampak tersenyum, dan berkata, “Betul, barangku dicuri. Tapi aku punya tiga alasan untuk tetap bersyukur pada Tuhan.”

“Apa itu?” selidik Ahmad penuh ingin tahu.

Pertama, yang hilang adalah barangku, bukan barang milik orang lain. Kedua, barangku yang hilang hanya separuh, tidak semuanya. Ketiga, kalau pun hilang seluruh harta yang aku miliki, aku tetap masih memiliki agamaku. Dunia ini memang datang dan pergi, jadi silakan curi semua harta bendaku, jika ada yang mau.” Jelas Bahram.

Ahmad menatapnya penuh antusis. Dia berkata pada para muridnya, “Catat itu, hawa Islam keluar darinya.” Kemudian dia menatap Bahram, dan menambahkan, “Kalau boleh tahu, mengapa Anda menyembah api?”

Dengan mantap Bahram menjawab, “Pertama, karena ia adalah api, jadi tidak mungkin akan membakarku. Kedua, karena aku telah memberinya bahan bakar yang begitu banyak saat di dunia, maka aku yakin, kelak di akhirat, dia tidak akan mengkhianatiku dan akan mengantarkanku pada Tuhan.”

Mendengar jawaban itu, Ahmad tersenyum. Dengan santun ia menjawab, “Kalau aku boleh berkomentar, api itu sebetulnya lemah, karena ia akan mati ketika disiram air, meski pun oleh anak kecil.”

Bahram menatap Ahmad, sembari menganggukkan kepalanya, pelan. Kemudian, ia berkata, “Ada alasan lain, mengapa api terlihat lemah di hadapanmu?”

Ahmad menghela napas sesaat, kemudian berkata, “Bayangkan, Teman. Jika Anda menaburkan kesturi dan sampah secara bersamaan di atas api, apakah api akan memilih mana yang akan ia bakar?”

Bahram tampak diam. Pikirannya menerawang, mencari jawab atas pertanyaan retoris yang diajukan sang guru sufi itu.

“Api akan membakar keduanya, karena ia tidak bisa membedakan mana yang lebih baik. Ia tidak bisa membedakan mana sampah dan mana kesturi,” lanjut Ahmad.

Bahram pun masih tampak diam.

“Baiklah, mari kita masukkan tangan kita ke atas bara api ini. Anda yang sudah menyembah api selama 70 tahun, dan aku yang tidak pernah menyembahnya. Apakah api ini akan membakar tanganku, atau tanganmu saja, atau tangan kita berdua akan sama-sama terbakar. Api ini tidak akan setia padamu,” kata Ahmad mencontohkan.

Segera setelah Ahmad usai berbicara, Bahram mengucapkan dua kalimat syahadat. Tiba-tiba Ahmad pingsan, dan selang kemudian ia kembali siuman.

“Apa yang membuat Anda pingsan?” Tanya para muridnya.

“Saat Bahram mengucap syahadat, aku mendengar ada suara memanggil dan berkata, ‘Selama 70 tahun non-Muslim itu menyembah api, namun akhirnya beriman. Engkau telah menghabiskan waktumu selama 70 tahun dalam keimanan, tapi entah apa yang kelak terjadi saat ajal menjemputmu.’” Pekik Ahmad.

——

Fariduddin Athtar berkisah tentang Ahmad ibn Harb an Nisyaburi dalam buku Kisah-Kisah Sufi Agung. Selain dikenal sebagai seorang guru sufi terkemuka di Nisyabur, Ahmad juga dikenal luas sebagai ahli hadis yang cukup mumpuni.

Dia pernah mengunjungi Baghdad pada masa Ahmad ibn Hanbal dan mengajar di sana. Dia wafat pada tahun 234 H/ 849 M di usia 85 tahun.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s