Tak Pantas Dikatakan Sempurna

Standar

Mengapa engkau tidak berlaku pantas di hadapan penciptamu? 

Suatu hari seorang pemuda menyadari bahwa dirinya tidaklah sesempurna manusia lain pada umumnya. Wajahnya dipenuhi bintik-bintik hitam yang menutupi hampir seluruh permukaan mukanya. Hidungnya yang kecil seolah menambah kesan bahwa dirinya tak layak disebut sempurna. Begitu pun dengan anggota tubuh lainnya, yang dikiranya tidak pantas dikatakan sempurna.

Berbagai usaha pun ia lakukan guna mengubah bentuk wajahnya itu. Namun, semua hanya sia-sia belaka. Ia merasa begitu sangat malu, sehingga memutuskan untuk berdiam diri di dalam rumah, dan tidak sekali pun berani untuk hidup berdampingan dengan orang-orang di sekitarnya.

Hampir setiap hari dirinya meratapi keadaan tersebut. Hingga, suatu ketika, ada seseorang datang mengetuk pintu rumahnya.

“Siapa itu?” ucap sang pemilik rumah.

“Aku datang untuk menyampaikan surat dari Junaid,” kata sang tamu.

Ia pun bergegas membaca surat tersebut, “Mengapa engkau tidak berlaku pantas di hadapan penciptamu?”

Sang pemuda tidak begitu paham maksud Junaid. Ia pun bergegas menuju rumah sang guru sufi itu.

“Apa maksud Anda berkata demikian padaku?” ucap pemuda segera ketika bertemu Junaid.

Junaid tersenyum, kemudian berkata, “Anak muda, bukankah tidak sekali pun Allah mencela apa pun yang Dia ciptakan? Lantas, mengapa engkau lebih menyimpan malu pada makhluk ketimbang pada yang menciptakan?”

Kisah Guru Sufi Junaid ini barangkali relevan untuk kita jadikan sedikit tamparan bagi diri, khususnya—yang terkadang lupa mensyukuri atas apa pun yang sudah Allah berikan.

Kadang, kita begitu terbawa suasana untuk mengatakan bahwa suatu kejadian atau keadaan tertentu buruk dan tidak pantas untuk dikatakan sempurna. Padahal, apa yang diberikan-Nya tentulah sesuai kadar dan perhitungan yang sesuai dengan setiap makhluk-Nya.

Bahkan, bukankah nyamuk (saja) atau yang lebih kecil dari itu—, yang sempat dikira tidak memiliki manfaat—menimbulkan penyakit—telah Allah cantumkan dalam kitab suci-Nya, dan bahkan dengan tegas Allah nyatakan tidak malu menciptakannya?

“Sesungguhnya Allah tidak­lah malu membuat perumpamaan apa saja; nyamuk atau yang lebih kecil dari padanya.” (Qs. Al Baqarah: 26)

Lantas, bagaimana dengan penciptaan manusia—yang begitu beraneka rupa—dan dengan tegas pula Allah nyatakan sebagai sebaik-baik penciptaan?

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya,” (Qs. At-Tin: 4)

Bukankah tidak ada yang membedakan manusia kecuali takwa?

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu adalah yang paling bertakwa….” (Qs. 49:13)

————

Fariduddin Aththar berkisah tentang Abul Qasim al Junaid ibnu Muhammad al Khazzaz al Nihawandi. Ia merupakan salah satu tokoh terkemuka dalam dunia sufisme. Ia juga termasuk seorang pemimpin sebuah mazhab yang besar dan berpengaruh di zamannya.

Junaid menemukan berbagai teori terkait mistisisme. Salah satunya tentang doktrin oteosofikal yang menentukan seluruh rangkain latihan mistisisme ortodoks dalam Islam.

Hingga kini, ajaran tasawwuf dan surat-suratnya yang ditujukan kepada sejumlah tokoh pada masanya masih bisa ditemukan.

Junaid wafat pada 298 H/910 M di Baghdad.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s