Ucapan Anak Kecil yang Membuat Imam Abu Hanifah Menangis  

Standar

Nak, hati-hati berjalan dengan sepatu kayumu. Jangan sampai kau tergelincir.

 

Suatu ketika, Imam Abu Hanifah sedang berjalan. Dalam perjalanan itu, ia berpapasan dengan seorang anak kecil.

Melihat anak kecil itu mengenakan sepatu kayu, tiba-tiba terlintas rasa khawatir dalam benak Abu Hanifah. Ia pun mengingatkan, “Nak, hati-hati berjalan dengan sepatu kayumu. Jangan sampai kau tergelincir,” ujarnya menasihati.

Bocah miskin itu tersenyum, menyambut perhatian pendiri mazhab Hanafi ini dengan ucapan terima kasih.

“Bolehkah saya tahu nama Tuan?” tanya sang bocah.

“Nu’man.”

“Oh, jadi ini kah Tuan yang terkenal dengan sebutan Imam al-a‘dham (imam agung) itu?”

“Benar, tapi bukan aku yang menyematkan gelar tinggi itu. Masyarakat menyambut baik apa yang aku lakukan, dan mereka memberiku gelar itu.”

“Wahai Imam, hati-hati dengan gelarmu. Jangan sampai Tuan tergelincir ke neraka gara-gara gelar itu. Sepatu kayuku ini mungkin hanya menggelincirkanku di dunia. Tapi gelarmu itu dapat menjerumuskanmu ke kubangan api yang kekal jika kesombongan dan keangkuhan menyertainya.”

Mendengar ucapan bocah itu, ulama besar yang memiliki banyak pengikut itu, tersungkur menangis. Betapa ia menyadari bahwa setinggi apa pun gelar yang disematkan manusia tiada akan bermakna di mata Tuhan, bila tebersit segelintir saja api kesombongan.

Melalui lidah bocah kecil, Imam Hanafi bersyukur. Siapa sangka, ucapan seorang anak yang kadang diaggap remeh ternyata mengandung pesan Tuhan.

—–

Imam Abu Hanifah memiliki nama lengkap Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit bin Zutha Al-Kufi. Lahir di kota Anbar, Kufah pada tahun 80 H/699 M.

Seiring berjalannya waktu, dengan keilmuannya yang mumpuni, Abu Hanifah kemudian dikenal luas sebagai ulama yang memiliki keluasan ilmu pengetahuan dalam segala bidang. Tak heran, jika akhirnya ia mendapat gelar Imam al-a‘dham (imam agung)—yang menjadi panutan kaum Muslimin.

Bahkan, Muhammad ibn Maslamah berkata: “Ilmu agama diturunkan oleh Allah kepada Nabi saw. Kemudian diturunkan kepada para sahabat. Kemudian diturunkan kepada tabi’in. Kemudian diturunkan kepada Abu Hanifah dan murid-muridnya.”

Hal ini diaminkan oleh Imam Al-Syafi’i dengan mengatakan, “Barangsiapa hendak mengetahui ilmu fiqih, maka belajarlah kepada Abu Hanifah dan murid-muridnya. Karena manusia dalam bidang fiqih membutuhkan Abu Hanifah.”

Kini, tulisan-tulisan Imam Abu Hanifah menjadi madzhab penting dalam ajaran Islam, yakni Madzhab Hanafi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s