Anjing dan Jubah Sufi  

Standar

Aku tidak pernah menyimpan sepotong tulang pun untuk esok hari, sedangkan engkau menimbun sekarung penuh gandum untuk esok hari.

Suatu hari, Abu Yazid sedang berjalan ketika seekor anjing berlari di sampingnya. Abu Yazid serta merta mengangkat jubahnya.

Bukan tanpa alasan ia melakukan hal tersebut. Selain karena najis, ia pun menganggap bahwa anjing hanya akan mengotori jubah kebesaran sufinya itu.

Tak disangka, anjing itu melolong, seolah berkata pada Abu Yazid, “Jika aku kering, aku tidak merugikan. Jika aku basah, tujuh air tanah akan mendamaikan kita. Namun jika engkau mengangkat jubahmu seperti seseorang yang sok suci dan munafik, engkau tidak akan pernah menjadi bersih, tidak akan pernah, walaupun engkau mandi di tujuh samudera.”

Abu Yazid jelas terheran. Bukan karena anjing itu dapat bersuara dan menimbulkan bulu kuduknya berdiri, tapi juga karena isi kalimatnya. Ia pun berkomentar, “Sahabatku, engkau tidak suci di luar, sedangkan aku tidak suci di dalam. Mari kita bekerja sama. Semoga usaha kita mampu membuat kita suci.”

“Engkau tidak patut menjadi temanku dan berkelana bersamaku,” jawab anjing itu. “Karena aku ditolak oleh seluruh manusia, sedangkan engkau diterima di kalangan manusia. Setiap orang yang berpapasan denganku akan melemparkan batu ke arahku. Mereka mencercaku dan mengatakan aku binatang najis yang tidak layak mendapat kasih sayang manusia. Mereka itulah yang menjulukimu Raja Para Sufi.”

“Lantas, salah siapa aku diciptakan sebagai anjing dan engkau tercipta sebagai manusia? Aku tidak pernah menyimpan sepotong tulang pun untuk esok hari, sedangkan engkau menimbun sekarung penuh gandum untuk esok hari,” lanjut sang anjing.

Anjing pun pergi berlalu dari hadapan Abu Yazid. Sedangkan guru besar sufi itu merenung, dan berkata pada diri, “Ya Allah, karena kesombonganku, Engkau tidak mengizinkanku bersahabat dan berjalan beriringan dengan seekor anjing,” ujar Abu Yazid. “Lalu bagaimana mungkin aku berjalan bersama Dzat yang Maha Abadi?”

——

Abu Yazid Thaifur ibnu Isa ibnu Surusyan al Bisthani merupakan seorang sufi. Ia lahir di Bisthan, Timur Laut Persia dan wafat pada 264/877 M di tempat yang sama pula.

Abu Yazid dikenal di kalangan sufi karena keberaniannya dalam mengekspresikan peleburan mistik yang menyeluruh kepada ketuhanan. Pemikirannya sangat mempengaruhi para penempuh jalan sufi setelah masanya, terutama dengan penggambarannya terkait jalan menuju syurga sebagai imitasi mikrajnya Rasul Saw.

Boleh mengcopy, asal mencantumkan sumber link tulisan ini.

(Lina Sellin)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s