At-Tirmidzi dan Anjing  

Standar
Jika engkau menginginkan kebahagiaan, pergilah, temui At-Tirmidzi dan belajarlah tentang akhlak padanya.

 Ada seorang ulama besar yang hidup sezaman dengan At-Tirmidzi. Namun, meski sama-sama aktif mengajar ilmu agama, sang ulama tersebut tidak suka dengan “gaya” pengajaran At-Tirmidzi. Alhasil, apapun yang ditulis atau pun diungkapkan At-Tirmidzi, selalu saja dikritik.

Bahkan, kritikannya tidak berhenti pada perihal agama saja. Melainkan merambah luas, hingga kepada hal-hal pribadi At-Tirmidzi.

Pada suatu hari, At-Tirmidzi pergi ke Hijaz. Ketika ia kembali dari perjalanannya, seekor anjing telah melahirkan di pondoknya yang tak berpintu. Dalam kondisi lelah dan ingin segera istirahat, ia pun berkali-kali bolak-balik mengintip sang anjing, dengan harapan anjing itu segera pergi dengan membawa anak-anaknya.

Namun, tampaknya anjing-anjing itu begitu lemah. At-Tirmidzi pun tak tega jika harus mengusir makhluk Allah itu.

Akhirnya, At-Tirmidzi rela mengalah dan memilih tidur di luar rumah—dengan kondisi gurun yang dingin.

Malam itu pula, sang ulama besar yang sedari dulu enggan mengakui At-Tirmidzi sebagai orang berilmu, berjumpa dengan Nabi Saw. dalam mimpinya.

Nabi berkata, “Sirrah, engkau menentang seseorang yang berkali-kali menolong seekor anjing. Jika engkau menginginkan kebahagiaan, pergilah, temui At-Tirmidzi dan belajarlah tentang akhlak padanya.”

Ulama itu terbangun, dan segera bergegas mengunjungi rumah At-Tirmidzi. Namun, betapa terkejutnya ia saat melihat apa yang diimpikannya itu benar-benar nyata.

Ia pun terlalu malu untuk menjawab salam, ketika At-Tirmidzi menyapanya. Sejak saat itu, ia meminta maaf dan mengabdikan hidupnya pada At-Tirmidzi.

Jika pada anjing saja, ulama besar dunia (Imam At-Tirmidzi) menebarkan kasih sayangnya dengan tidak berani mengganggu tidurnya, lantas bagaimana dengan kita (sesama manusia) yang seharusnya mengikuti akhlak Rasul Saw. dalam berkasih sayang terhadap sesama makhluk, termasuk anjing?

Bagaimana akhlak kita ketika membangunkan orang tua, anak kita, adik kita, saudara kita? Bukankah kasih sayang dan sikap lembut itu tetap harus terpelihara, bahkan pada saat hendak membangunkan mereka?

———

Abu Abdullah Muhammad ibnu Ali ibnu al Husain al Hakim at Tirmidzi merupakan salah seorang pemikir kreatif terkemuka dalam mistisisme Islam. Selain itu, ia pula dikenal sebagai penulis yang produktif. Karya-karyanya banyak mempengaruhi Imam Al Ghazali dan juga Ibnu Arabi.

 

Boleh mengcopy, asal mencantumkan sumber link tulisan ini.

(Lina Sellin)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s