Jika Kenikmatan Ibadah Tak Kunjung Tiba  

Standar

Rumahku bukanlah toko—yang menyimpan segala sesuatu di dalamnya.

 

Suatu malam Abu Yazid tidak menemukan ketenangan dalam beribadah. Padahal, segala macam ibadah telah ia lakukan. Setelah shalat wajib, ia susul dengan shalat sunnah, membaca Al Qur’an, diulang berkali-kali, dan terus begitu. Tapi, kenikmatan itu tak kunjung ia temui sampai pagi menjelang.

Ia pun mencari apa yang kurang dalam ritualnya itu. Mencoba mengingat-ingat tentang kemungkinan adanya rukun dan syarat ibadah yang terlewat. Membuka Qur’an, mencari ayat yang mungkin saja bisa ia temukan untuk mengobati gundahnya itu. Sayang, tak juga ditemukan.

Akhirnya, Abu Yazid memanggil dan mengumpulkan seluruh muridnya dan berkata, “Coba cari, apakah ada barang yang berharga di rumah ini.”

Para muridnya pun mulai mencari. Semua memencar ke semua sudut rumah sang guru. Tetap tidak ditemukan.

“Guru, sungguh kami tidak menemukan apa pun yang berharga di rumah ini, kecuali mungkin ini yang guru maksud,” lapor salah satu murid sembari membawa setengah ikat buah anggur.

“Dari mana kau dapatkan itu?” tanya Abu Yazid.

“Kami menemukan ini (anggur) di meja dapur rumah guru.” Jawab sang murid.

“Bawalah dan sedekahkan anggur itu,” perintah Abu Yazid. “Rumahku bukanlah toko buah—yang menyimpan anggur itu.”

Heran mendengar itu, sang murid bertanya, “Guru, bagaimana mungkin engkau  mengatakan anggur ini berharga? Bukankah seikat buah itu bisa kita dapatkan hanya dengan harga yang tak seberapa?”

“Di hadapan kita mungkin itu tidak seberapa, tapi di hadapan orang lain bisa jadi buah itu sangat dibutuhkan,” jelas Abu Yazid. “Lagi pula, bukankah buah itu akan sangat membahagiakan mereka bila kita memberikannya selagi masih segar nan manis?”

Beberapa saat setelah anggur itu disedekahkan, Abu Yazid pun kembali menemukan kenikmatan dalam beribadah.

Bayangkan, seorang tokoh ulama besar pun bisa merasakan kegersangan dalam beribadah hanya karena menyimpan seikat anggur. Lantas bagaimana dengan kita (yang masih begitu tergiur menyimpan barang-barang, hingga lupa pada hak barang tersebut untuk disedekahkan sebagiannya—yang sebetulnya bisa menghalangi kenikmatan kita dalam beribadah?)

——–

Abu Yazid Thaifur ibnu Surusyan al Bisthami merupakan salah seorang sufi terkemuka yang lahir dI Bistham, Persia dan wafat di tempat yang sama pula pada 264 H/877 M.

Konon, ia terkenal dalam dunia sufi sebagai pioner aliran ekstatik (mabuk) Tuhan. Hingga kini, alirannya masih mempengaruhi para penempuh jalan Tuhan di dunia, khususnya di daerah tempat lahir Abu Yazid.

Boleh mengcopy, asal mencantumkan sumber link tulisan ini.

(Lina Sellin)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s