Kisah Bijak Para Sufi: Doa yang Terkabul  

Standar
 

Keinginanmu (doa) dapat terpenuhi dengan sempurna tanpa harus merusak atau merugikan orang lain.

Suatu hari, Ma’ruf sedang berjalan dengan para muridnya. Terlihat sekelompok pemuda melintasi jalan yang sama sembari melakukan berbagai pebuatan onar. Ada yang berjalan sambil menendang botol bekas yang mereka temui. Ada juga yang menertawakan kelompok Ma’ruf yang tampak memakai pakaian sederhana. Bahkan, ada juga yang berjalan sambil sempoyongan akibat minuman keras.

Para murid pun mengeluh, “Guru, mohonlah pada Tuhan Semesta Alam agar Dia menenggelamkan mereka semua, dunia yang bersih ini menjadi kotor karena ulah mereka.” Ucap salah seorang murid.

“Tengadahkan tangan kalian,” perintah Ma’ruf. Para murid pun dengan segera menuruti perintah sang guru.

Kemudian Ma’ruf berdoa, “Ya Allah, sebagaimana Engkau telah memberi karunia berupa kehidupan yang bahagia di dunia ini, mohon karuniakan pula kebahagiaan bagi mereka kelak di Hari Kemudian.”

Para murid terheran, dan memprotes, “Guru, yang kami minta doa untuk membumihanguskan mereka, bukan doa kebahagiaan seperti yang Guru ucapkan barusan.”

“Dia yang pada-Nya aku berbicara, tahu rahasia-Nya,” jawab Ma’ruf. “Tunggulah sejenak, dan bersabarlah. Rahasia doaku akan terungkap.”

Tak lama, Ma’ruf bersama rombongan duduk menepi di pinggir jalan untuk berteduh. Tak disangka, anak-anak muda yang membuat onar tadi datang menghampiri Ma’ruf sambil menggigil dan berkata, “Beri kami petunjuk, sehingga hati kami damai seperti kalian. Demi Tuhan, kami berbuat onar seperti tadi karena butuh kedamaian.”

Ma’ruf tersenyum, dan berkata pada muridnya, “Itulah doa, keinginan kalian dapat terpenuhi dengan sempurna tanpa harus merusak atau merugikan orang lain.”

——–

Ya, sesungguhnya tiada doa bersenandungkan kalimat buruk. Sebab doa merupakan pujian dan sanjungan bagi Allah, Dzat yang Maha Memiliki. Sayangnya, terkadang, manusia lupa (atau lebih fokus) untuk meminta hal buruk (ditujukan bagi orang lain) ketimbang fokus meminta sesuatu yang baik. Padahal, bukankah kebaikan/keburukan itu sejatinya akan kembali pada yang meminta doa itu sendiri?

Fariduddin Aththar bercerita tentang Abu Mahfudh Ma’ruf ibnu Firudh al Karkhi. Salah seorang sufi agung yang berasal dari Baghdad. Konon, kedua orangtunya merupakan pemeluk agama Kristen. Namun, mereka sangat toleran terhadap anak-anaknya. Ma’ruf pun memilih jalan hidupnya untuk memeluk Islam dan mengikuti apa yang dia yakini sebagai kebenaran.

Ma’ruf wafat pada 200 H/ 815 M.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s